Ramadhan, diantara ketaatan dan toleransi..

Setiap datangnya bulan Ramadhan, kenangan selalu kembali kemasa kecil ketika saya masih tinggal disuatu kota di Sumatera Barat dengan masyarakat yang relatif homogen, hampir semuanya memeluk Islam. Makanya suasana Ramadhan sangat terasa. Siang hari terlihat hampir semua orang yang berada di jalanan bersikap lebih ‘adem’ dibandingkan saat-saat diluar bulan puasa. Dalam ‘pandangan bathin’ kesan yang ditimbulkan adalah : lebih tenang dan lebih pelan. Hampir semua warung dan restoran tutup dan mereka merubah waktu membuka dagangan, biasanya mulai dari sore sampai waktu sahur. Kehidupan bergeser ke malam hari. Memang terdapat beberapa warung yang tetap buka menerima pengunjung, biasanya tidak dilakukan terang-terangan dan ditutup kain, alasan mereka :”Untuk pihak non-Muslim yang tidak menjalankan puasa”, namun saya sering menemukan beberapa teman-teman Muslim yang keluar dari warung tersebut dengan mulut berminyak. Kami biasa menyebut mereka ‘cina hitam’, karena umumnya non-Muslim yang ada dikota tersebut berasal dari etnis Cina. Ada juga beberapa teman yang menjalankan ritual puasa dengan mengeluarkan ‘fatwa’ sendiri, menyatakan ikut berpuasa makan dan minum, tapi tidak untuk merokok, katanya karena merokok tidak mengenyangkan, tapi merokok tidak dilakukan terang-terangan. Pada umumnya suasana Ramadhan memang sangat terasa.

Continue reading

Jilbab dan ghamis, sekali lagi.., jangan anggap remeh memakai simbol..!!

Pertanyaan sering diajukan tentang model pakaian dan atribut laki-laki yang mewakili nilai-nilai Islam :”Pakaian seperti apa yang bisa dikatakan sebagai pakaian Muslim..??”. Sebagian memakai ghamis Arab lengkap dengan ‘keffiyeh’ menutup kepala, lalu mereka merasakan diri sudah memakai pakaian Muslim. Yang lain pakai baju Yaman atau model mujahidin Afganistan, lalu menganggap itulah pakaian ‘ala’ Islam. Ada lagi yang pakai baju Pakistani, atau model baju Maroko yang sering dipakai oleh ustadz Jeffry (Uje), itu juga dikatakan model yang Islami. Yang ‘made in dalam negeri’ juga tidak ketinggalan, baju koko lengkap dengan sarung dan kopiah, bisa berwarna hitam atau putih., padahal baju koko sejatinya berasal dari Cina, sama sekali tidak ada urusannya dengan Islam. Bahkan saya pernah menemukan pakaian Islam kombinasi baju ghamis dengan sarung dan kopiah di kepala, saya sampai meledek dengan menjulukinya model ‘nuwahabi’ alias campuran gaya nahdiyin dengan wahabi. Kalau dalam pernak-pernik ajaran kedua kelompok ini sering berseberangan, ternyata dalam model pakaian malah bisa akur.

Continue reading

Isa Almasih adalah jalan yang lurus..?, hahaay..

Dalam perdebatan lintas agama, khususnya antara Islam dan Kristen, sering kita jumpai salah satu pihak mengutip ayat-ayat pada kitab suci pihak lain untuk membenarkan ajarannya, baik bagi pihak Muslim terhadap alkitab, maupun pihak Kristen terhadap Al-Qur’an. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan salah satu topik ‘favorit’ dari Kristen tentang adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang mendukung tentang ketuhanan Yesus. Saya berharap bahwa apa yang saya sampaikan tidak ditanggapi dengan ‘kepala panas’ karena sebagai seorang Muslim, saya merasa punya hak untuk memberikan pembelaan iman, selain berguna untuk menjelaskan kepada pihak Kristen yang mungkin merasa benar tentang hal ini, maupun kepada sesama umat Islam yang bertanya-tanya. Apalagi topik ini sering diulang-ulang dalam berbagai forum debat, sekalipun sudah dijawab tapi tetap saja diulang kembali pada kesempatan yang lain. Saya tidak bermaksud mempermasalahkan apa yang tercantum dalam alkitab dan bagaimana penafsirannya, tapi lebih fokus untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dikutip.

Biasanya ‘jurus’ yang umum dipakai oleh pihak Kristen yang berusaha mencari rujukan adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang mengakui ketuhanan Yesus dimulai dengan surat al-Faatihah 6 :”Tunjukilah kami jalan yang lurus…”, lalu Kristen mengkaitkannya dengan ayat alkitab, Yoh 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Pertautan antara 2 ayat ini bermaksud untuk mengatakan bahwa ‘jalan yang lurus’ yang selalu dimohonkan setiap Muslim, diulang-ulang dalam shalat  fardhu adalah Yesus Kristus sendiri, sesuai dengan apa yang disampaikannya dalam alkitab.

Continue reading

Jangan remehkan soal pemakaian simbol..

Saya akan bercerita bagaimana suatu simbol bekerja mempengaruhi persepsi dan tindakan manusia. Silahkan lihat foto disebelah ini..

Bayangkan diri anda suatu ketika bermain-main ke mall yang ramai di Jakarta, tempat nangkring anak-anak muda termasuk para wanita tuna susila (WTS) pencari mangsa yang gampang kita temui disana. Kalau anda belum tahu soal ini, sekarang saya kasih tahu, tapi sssttt… ini informasi khusus buat anda saja, jangan disebar-sebarin sama orang lain. Mall adalah tempat yang biasa dipakai oleh WTS untuk mencari mangsa, selain mereka punya tempat lokalisasi untuk menunggu pelanggan, istilahnya mereka juga punya strategi ‘jemput bola’, berusaha mendekatkan diri ke lokasi customer. Sulit untuk membedakan mereka dengan ‘wanita biasa’ karena para WTS ini memakai pakaian (artinya memakai simbol) yang sama dengan wanita lain, atau mungkin juga sebaliknya, saya kurang tahu. Disamping itu mall juga suka dijadikan ajang buat para laki-laki pencari mangsa, yang mengincar wanita-wanita muda yang memang banyak bertebaran disana. Jadi kalau anda melihat ada oom-oom lagi duduk sendiri di teras sebuah cafe, dengan mata jelalatan kiri-kanan memelototi perempuan yang melintas lewat, kemungkinan itu orangnya. Ini ibarat ‘botol ketemu tutup’, ada demand ada supply, maka transaksi bisa terjadi.

Continue reading