Waspadalah terhadap aliran sesat…

Siapa yang bisa dikatakan sebagai kelompok sesat dalam Islam..? Sebagian orang bilang Ahmadiyah termasuk didalamnya, yang lain mengatakan Syi’ah adalah aliran sesat, banyak dari ulama yang menyatakan beberapa aliran tasawuf sudah tersesat, jangan tanya sama orang yang mengaku kelompok Wahabi atau Salafi, hampir semua umat Islam yang tidak ikut dalam kelompok tersebut sudah pasti dikategorikan sesat oleh mereka.

Marilah kita memegang pedoman dasar untuk menyatakan diri sebagai seorang Muslim atau tidak, apakah kita masih memegang kalimat shahadah – laa illaha illa Allah Muhammad Rasulullah – apakah kita meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, apakah kita termasuk orang-orang selalu berusaha mengidentifikasikan diri, termasuk segala tingkah-laku kita kepada apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, artinya juga kita mengimani bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang harus diikuti, dan hadits merupakan sumber informasi dalam mengimplementasikan ajaran Islam oleh nabi Muhammad SAW. Kalau kita sudah berpegang kepada kedua hal tersebut maka tidak ada alasan untuk tidak mengatakan kita adalah seorang Muslim, tidak peduli bagaimanapun model penafsiran terhadap aturan-aturan Islam. Berdasarkan ini maka kita bisa mengatakan Ahmadiyah bukanlah termasuk pemeluk Islam karena mereka telah menambah-nambah Al-Qur’an dengan kitab suci lain yang ditempatkan sejajar, juga mengidentifikasikan tingkah-laku kepada orang lain yang juga disejajarkan dengan Nabi Muhammad. Dengan ukuran ini maka aliran ingkar sunnah juga sulit dimasukkan sebagai bagian dari umat Islam karena telah menyingkirkan hadits, sebagai sumber informasi tentang tingkah-laku dan ajaran Rasulullah mengaplikasikan ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Continue reading

Advertisements

Suara rakyat BUKAN suara Tuhan..

Dua orang, bapak dan anak, membawa seekor keledai ke pasar untuk dijual. Ketika mereka baru keluar dari rumah muncul masalah bagaimana cara membawa keledai tersebut karena banyak alternatifnya. Si bapak dan anak lalu memutuskan; bapak yang naik ke punggung keledai, si anak berjalan menuntun mengingat anak memang harus menghormati orang-tua. Di perjalanan mereka bertemu dengan serombongan ‘rakyat’, lalu rakyat bersuara :”Dasar bapak tidak tahu diri, mosok dia enak-enak duduk dipunggung keledai dan membiarkan anaknya capek berjalan..”. Karena ‘suara rakyat adalah suara Tuhan’ maka si bapak dan anak tersebut merasa tidak enak dan merasa bersalah, lalu mereka melakukan alternatif lain, sekarang anak yang duduk dipunggung keledai, dan bapaknya berjalan menuntun. Di perjalanan mereka kembali bertemu dengan ‘rakyat’, lalu rakyat tersebut bersuara:”Dasar anak tidak tahu diri, dia enak-enak saja duduk dipunggung keledai membiarkan bapaknya kelelahan berjalan..”. Karena ‘suara rakyat adalah suara Tuhan’, kembali hal ini membuat keduanya menjadi tidak enak dan merasa bersalah. Si bapak lalu berbicara kepada anaknya ;”Marilah kita berdua naik ke punggung keledai ini, agar tidak ada lagi ‘suara Tuhan’ yang akan menyalahkan kita, mereka lalu menaikinya berdua. Di perjalanan mereka kembali bertemu dengan ‘rakyat’ dan rakyatpun mengeluarkan suaranya :”Dasar bapak dan anak tidak tahu diri, bagaimana mungkin mereka tega menduduki seekor keledai berdua..??”. Akhirnya sepasang bapak dan anak ini menjadi kebingungan, rakyat sudah bicara, artinya Tuhan sudah bicara melalui suara yang disampaikan oleh rakyat tersebut , si bapak mengeluh putus-asa, dan dia bicara kepada anaknya :”Nak.., untuk terakhir kalinya hanya ada 1 alternatif, kita sudah berusaha untuk mengikuti suara rakyat, maka alternatif ini harus kita pakai agar tindakan kita bisa sejalan dengan keinginan rakyat tersebut”, lalu bapak dan anak bekerjasama, mereka memanggul keledai tersebut berdua…

Di perjalanan mereka kembali bertemu dengan rakyat, anda tahu apa suara rakyat ketika melihat kelakuan sepasang bapak dan anak ini..?? rakyat bersuara :”Kita tidak bisa lagi melihat perbedaan diantara mereka, mana yang manusia dan mana yang keledai…”
Continue reading

Pelajaran dari Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir..

Kisah ini dimulai Al-Qur’an dengan pernyataan nabi Musa terhadap seorang murid yang mengikutinya, bahwa dia bertekad tidak akan berhenti melakukan pengembaraan untuk menemukan seseorang, tempat dia akan belajar dan mendapatkan ilmu yang tidak dia ketahui [QS 18:60]. Tidak dijelaskan apa sebab musabab nabi Musa melakukan pengembaraan ini, beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa sebelumnya nabi Musa pernah ‘kelepasan omong’ menyatakan kepada murid-muridnya bahwa sebagai seorang nabi dan rasul dia telah diberikan ilmu yang melebihi siapapun di dunia. Allah lalu menegur kesombongan ini dan memerintahkan nabi Musa untuk mencari seorang guru yang akan membuktikan, bahwa ilmu yang dibangga-banggakan nabi Musa tersebut sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan yang dimiliki oleh orang tersebut. Ketika perjalanan nabi Musa sampai kepada pertemuan dua lautan, terjadi keajaiban, ikan goreng bekal makanan yang dibawa tiba-tiba hidup dan melompat kelaut, ini merupakan pertanda bahwa ditempat itulah beliau akan menemukan orang yang dimaksud [QS 18:61-65]. Singkat cerita ketika nabi Musa telah menemukannya (sebagian ahli tafsir sepakat bahwa orang yang dimaksud adalah nabi Khidir, seorang nabi ‘idola’ dari kaum sufi Islam karena dianggap memiliki ilmu-ilmu ghaib yang tidak masuk akal, untuk selanjutnya saya menyebutnya dengan nabi Khidir) lalu nabi Musa meminta untuk mengikuti nabi Khidir agar bisa mendapat pelajaran tentang ilmu yang tidak dimilikinya. Saya kutip secara lengkap :

[18:66] Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” [18:67] Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. [18:68] Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” [18:69] Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”. [18:70] Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.
Continue reading

Perbuatan dosa, bukan hanya urusan pribadi anda..

Suatu pertanyaan bisa kita munculkan tentang reaksi sebagian umat Islam terhadap gerakan amar makruf nahi munkar yang dilakukan oleh umat Islam lainnya : mengapa mereka begitu sensitif menolak adanya bagian-bagian dari internal Islam yang berusaha mengajak kepada kebaikan dan berjuang menolak kemungkaran yang ditemukan dilingkungan sekitar. Sebenarnya secara umum tidak ada seorangpun yang mempermasalahkan tindakan ‘amar makruf’nya – mengajak kepada kebaikan – karena hal tersebut sama sekali tidak akan mengganggu pihak yang dituju, orang lain tentu saja dipersilahkan datang untuk mengajak kita kepada kebaikan, dan kita sendiri punya kebebasan untuk menerimanya atau mengabaikannya. Masalahnya muncul ketika tindakan tersebut berbentuk ‘nahi munkar’ – mencegah kemungkaran. Disini terjadi benturan dengan hak individu, hak azazi manusia, dan segala macam hak-hak yang lainnya. Kemungkaran dalam ajaran Islam tidak hanya berbentuk suatu perbuatan yang merugikan orang lain, misalnya seperti perampokan dan pencurian, penipuan, korupsi, dll, tapi juga dalam bentuknya yang merugikan diri sendiri, misalnya seorang Muslim yang tidak mengerjakan ibadah wajib seperti shalat, puasa, zakat, atau juga perbuatan dosa yang tidak merugikan pihak lain, mabuk alkohol, berzina. Semua bentuk kemungkaran tersebut merupakan tindakan yang wajib diberantas dan diluruskan oleh setiap Muslim, karena kalau terjadi kelalaian dan pembiaran maka umat Islam yang ada disekitar akan ikut menerima getahnya di akhirat kelak, sekalipun dia seorang Muslim yang rajin beribadah dan selalu berbuat baik. Mana dalilnya yang mengatakan demikian..?? semua orang Islam pasti hapal dengan ayat ini :

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling berwasiat tentang kebenaran dan saling berwasiat tentang kesabaran. (al-Asr 1-3)

Continue reading

Batal konser, media massa dan Lady Gaga bermain persepsi..

Menurut pihak promotor, alasan utama tentang gagalnya konser Lady Gaga di Jakarta adalah karena faktor keamanan, – “The Jakarta Situation is 2-fold: indonesian authorities demand I censor the show and religious extremist separately, are threatening violence,”  demikian penyanyi ini menulis di twitternya. Ini tentu suatu kesempatan juga bagi pihak promotor untuk menyelamatkan diri dan mereka bisa berkelit tentang ketidak-mampuan untuk memenuhi syarat-syarat pelaksanaan konser sesuai aturan yang berlaku. Soal batasan yang ditetapkan untuk melakukan konser tidak perlu dibahas karena ini bukan hanya reaksi yang dihadapinya di Indonesia saja, pemerintah Philippina dan Korea Selatan juga lebih kurang menuntut hal yang sama. Alasan yang menjadi ‘ciri-khas’ Indonesia terletak kepada soal keamanan, lalu informasi ini langsung disambar oleh media sekuler (julukan bagi media yang selama ini punya reputasi berseberangan dengan gerakan amar makruf nahi munkar yang dilakukan ormas-ormas Islam) untuk memojokkan polisi. Sehari setelah pengumuman tersebut, pak Saud Usman Nasution, Kadiv Humas Polri menjadi naik daun, diundang sebagai narasumber untuk menerima ‘serangan’ dari media ini. Pertanyaan diajukan mulai dari bergaya meminta penjelasan sampai menyindir untuk memancing emosi pak polisi tersebut. Untung sampai hari ini, kita tidak melihat pihak polisi terpancing dan tetap konsisten dengan penjelasan soal belum lengkapnya syarat-syarat perizinan yang diserahkan oleh pihak promotor.

Continue reading