Media Tidak Mungkin Netral

Beberapa waktu lalu terjadi 2 peristiwa demo yang dilakukan oleh dua pihak yang berseberangan, demonstrasi yang satu dilakukan oleh kelompok liberal, kaum homo dan lesbi dalam rangka menentang kegiatan ‘nahi munkar’ yang biasa dilakukan oleh kelompok Islam dengan motornya organisasi FPI. Beberapa hari kemudian giliran umat Islam dengan berbagai organisasinya melakukan demo balasan menentang kegiatan yang mengatas-namakan kebebasan dan demokrasi, yang biasa dilakukan oleh kelompok liberal, kaum homo dan lesbian tersebut. Yang menarik diamati adalah soal sikap media massa, baik koran, media online maupun televisi dalam meliput kedua kegiatan, hampir semua media tersebut (kecuali yang secara terang-terangan menyatakan keberpihakan kepada Islam) berusaha membesarkan demo kaum liberal dan homo/lesbian sehingga terkesan merupakan gerakan yang luas meliputi mayoritas masyarakat, sebaliknya ada usaha untuk mengkerdilkan demo yang dilakukan umat Islam dan dikesankan dilakukan hanya oleh segelintir orang, padahal dilihat dari jumlah pesertanya justru yang terjadi sebaliknya, demo kaum liberal hanya diikuti beberapa puluh atau ratus orang sedangkan yang dilakukan oleh organisasi Islam berjumlah ribuan bahkan puluhan ribu, memadati jalan Sudirman dan Thamrin – Jakarta. Isi beritapun setali tiga uang, ketika memberitakan demo liberal yang diungkapkan adalah sisi positif dari tujuan diadakannya demo, yaitu untuk memperjuangkan kebebasan dan demokrasi serta menentang adanya pemaksaan dan kekerasan, sebaliknya liputan dari pihak seberang dikaitkan dengan kemacetan lalu-lintas, termasuk sensor visual dengan tidak memperlihatkan gambaran sebenarnya dari jumlah perserta yang ikut.

Continue reading

Beribadahlah kepada Allah, Inginilah Surga-Nya

Sering kita temukan orang mengutip perkataan tokoh sufi perempuan Rabi’ah al-‘Adawiyah yang menyatakan kemurnian cintanya kepada Allah, sehingga dia berkata apabila ibadahnya didasari ketakutan akan neraka maka dia menyatakan biarlah masuk neraka, sebaliknya jika itu dilakukannya karena ingin masuk surga maka dia meminta untuk dijauhkan dari surga. Perkataan ini seolah-olah menunjukkan bagaimana murninya cinta Rabi’ah kepada Allah, cinta yang tidak mengharapkan suatu imbalan-pun kecuali balasan cinta dari Allah. Kelihatannya ini kemudian menjadi inspirasi dari syair lagu yang dibawakan oleh Chrisye dan Ahmad Dhani ;”Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya..”.

Continue reading

Orang Syiah hanya menyusahkan diri sendiri..

Ada beberapa hal yang dipermasalahkan oleh kalangan non-Syiah tentang ajaran Syiah yang dianggap menyimpang dari Islam : (1) Mencaci-maki dan melaknati para sahabat Rasulullah yang berseberangan dengan keluarga Ali bin Abi Thalib (2) Menyatakan mushaf Al-Qur’an sekarang ini tidak memuat ayat-ayat yang lengkap, masih ada ayat lain yang nanti akan diungkapkan oleh Imam Mahdi yang akan datang diakhir jaman (3) Nikah Mut’ah (4) Hanya menerima hadits yang diriwayatkan oleh para perawi dikalangan Syiah saja.

Continue reading

Ritual Ibadah

Saat kita mau menghadap raja/presiden, lumrahnya kita akan mengikuti aturan protokoler yang telah ditetapkan oleh mereka. Anda tidak akan melakukan protes mengapa misalnya harus bersikap begini begitu, melewati jalan tertentu, waktu tertentu. Makin besar kekuasaan si raja/presiden bisa jadi makin ‘aneh’ tata-cara yang harus kita lakukan, mungkin kita disuruh bersujud, merangkak, tidak boleh menengok ketika berhadapan dengan raja yang punya kekuasaan absolut. Apakah bisa kita mempertanyakan tata-cara tersebut..? misalnya ketika kita tidak bisa menerimanya, lalu mengusulkan tata-cara protokoler sesuai apa yang kita mau dan kita sukai..?? Tentu saja tidak bisa..

Continue reading