Media Tidak Mungkin Netral

Beberapa waktu lalu terjadi 2 peristiwa demo yang dilakukan oleh dua pihak yang berseberangan, demonstrasi yang satu dilakukan oleh kelompok liberal, kaum homo dan lesbi dalam rangka menentang kegiatan ‘nahi munkar’ yang biasa dilakukan oleh kelompok Islam dengan motornya organisasi FPI. Beberapa hari kemudian giliran umat Islam dengan berbagai organisasinya melakukan demo balasan menentang kegiatan yang mengatas-namakan kebebasan dan demokrasi, yang biasa dilakukan oleh kelompok liberal, kaum homo dan lesbian tersebut. Yang menarik diamati adalah soal sikap media massa, baik koran, media online maupun televisi dalam meliput kedua kegiatan, hampir semua media tersebut (kecuali yang secara terang-terangan menyatakan keberpihakan kepada Islam) berusaha membesarkan demo kaum liberal dan homo/lesbian sehingga terkesan merupakan gerakan yang luas meliputi mayoritas masyarakat, sebaliknya ada usaha untuk mengkerdilkan demo yang dilakukan umat Islam dan dikesankan dilakukan hanya oleh segelintir orang, padahal dilihat dari jumlah pesertanya justru yang terjadi sebaliknya, demo kaum liberal hanya diikuti beberapa puluh atau ratus orang sedangkan yang dilakukan oleh organisasi Islam berjumlah ribuan bahkan puluhan ribu, memadati jalan Sudirman dan Thamrin – Jakarta. Isi beritapun setali tiga uang, ketika memberitakan demo liberal yang diungkapkan adalah sisi positif dari tujuan diadakannya demo, yaitu untuk memperjuangkan kebebasan dan demokrasi serta menentang adanya pemaksaan dan kekerasan, sebaliknya liputan dari pihak seberang dikaitkan dengan kemacetan lalu-lintas, termasuk sensor visual dengan tidak memperlihatkan gambaran sebenarnya dari jumlah perserta yang ikut.

Terlepas dari keberpihakan kita terhadap kedua kelompok tersebut, maka semua orang pasti bisa menilai bahwa disini sudah terjadi penyesatan informasi, media tidak menyampaikan fakta dilapangan apa adanya. Maka kita lalu bisa bertanya :”Apakah mungkin media massa besikap netral..??”. Saya pastikan jawabannya adalah :”Tidak mungkin…”.

Keberadaan media massa muncul sebagai konsekuensi logis dari kebebasan dan demokrasi, kedua hal ini ibarat atmosfir yang dihirup oleh manusia agar bisa bernafas, atau ibarat air bagi ikan-ikan yang hidup didalamnya, maka ‘sudah bawaan badan’ kalau media massa secara naluriah menyatakan keberpihakan kepada kebebasan dan demokrasi sekaligus menentang keberadaan unsur pemaksaan, kekerasan, pertikaian, dll. Berita apapun yang disampaikan pasti bernuansa untuk mengawal terciptanya kondisi kebebasan dan demokrasi tersebut. Sebaliknya perbuatan ‘nahi munkar’ yang dilakukan oleh organisasi Islam jelas tidak akan bisa dilepaskan dari unsur konfrontasi dan pertentangan, sekaligus adanya pemaksaan untuk meluruskan yang bengkok. Ketika Rasulullah mengatakan ‘kalau anda bertemu dengan kemungkaran maka robahlah dengan tangan’, itu suatu perintah agar umat Islam bersiap untuk berkonfrontasi dengan kemungkaran tersebut. Islam tidak mengajarkan bahwa urusan surga menjadi persoalan pribadi lalu menyatakan :”Soal berbuat maksiat dan dosa menjadi urusan masing-masing, terserah anda melakukannya dan saya tidak bertanggung-jawab dengan kemungkaran yang anda lakukan..”. Seorang Muslim tidak bisa bersikap ‘soleh sorangan’, karena apabila dia mengambil sikap tidak peduli dengan kemungkaran yang terjadi di lingkungan sekitar, maka yang bersangkutan akan diminta pertanggung-jawaban terhadap perbuatan maksiat yang dibiarkan. Karena adanya ‘beban sosial’ tersebut, maka tindakan ‘nahi munkar’ pasti akan memunculkan kondisi yang konfrontatif karena pihak yang hendak ‘diluruskan’ tentu saja akan melakukan perlawanan, dan pencegahan yang dilakukan akan memunculkan pemaksaan.

Disinilah media massa memiliki pertautan dengan kelompok yang mengusung adanya kebebasan dan anti pemaksaan. Media tersebut belum tentu mendukung ide-ide soal penistaan agama Islam yang sering dilontarkan oleh kelompok liberal, apalagi setuju dengan kelompok homoseksual dan lesbian, namun mereka memiliki kesamaan dalam hal kebebasan menyatakan pendapat, terlepas dari adanya pemaksaan, dan inilah yang menjadi landasan media dalam memberitakan sesuatu. Media massa tidak mungkin dilepaskan dari nilai-nilai kebebasan dan demokrasi, karena ini sama saja dengan usaha untuk melepaskan atmosfir dari manusia, atau memisahkan air dari ikan. Keberpihakan kepada kelompok manapun yang mengusung kebebasan dan demokrasi, tidak peduli apapun dimensi dan tujuannya, secara naluriah pasti akan didukung. Sebaliknya bagi kegiatan yang bernuansa ‘meluruskan’ dan konfrontatif pasti akan ditentang, tidak peduli apakah tujuannya demi kebaikan karena untuk melawan kemungkaran dan kemaksiatan.

Jadi kalau umat Islam menginginkan dukungan masyarakat terhadap kegiatan ‘nahi munkar’ yang dilakukan, maka masyarakat harus diberikan informasi pembandingnya. Persoalan media adalah urusan perang informasi, khalayak harus ‘dibanjiri’ oleh informasi yang datang dari berbagai sudut pandang, dilakukan secara intensif dan terus-menerus agar persepsi mereka bisa diarahkan kepada sikap mendukung terhadap tujuan dari tindakan ‘nahi munkar’ tersebut. Kelihatannya perkembangan dunia teknologi informasi saat ini sudah sangat mendukung. Orang-orang tidak perlu lagi harus memiliki stasiun televisi karena tayangan video bisa disebarkan lewat internet melalui Youtube, atau juga membuat surat-kabar online tanpa perlu ada ijin pihak yang berkuasa, termasuk tidak adanya sensor. Cakupan pemakai internet juga sudah meluas menjangkau banyak lapisan masyarakat sehingga berita bisa tersebar luas. Teknologi dan sarana untuk meliput peristiwa juga sudah gampang dilakukan karena hampir semua handphone sudah memiliki fasilitas perekam suara, foto dan video. Yang dibutuhkan mungkin ketersediaan tenaga reporter yang bisa bekerja secara terampil dan profesional, sehingga materi informasi yang ingin disebarkan memiliki mutu yang sesuai dengan apa yang diinginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s