Tidak ada dialog dalam penyebaran ideologi, termasuk ideologi liberal..

Selama ini kita dicekoki tentang nilai-nilai kebebasan yang terkandung dalam ideologi liberal, bahwa kebebasan untuk berekspresi dan mengemukakan pendapat merupakan nilai integral dari paham tersebut, lalu mengambil  bentuknya menjadi kegiatan dialog, tidak ada indoktrinasi, kebebasan berpendapat, suasana yang menunjukkan kesetaraan, saling memberikan masukan. Padahal itu hanya omong kosong. Penyebaran liberalisme sama saja dengan yang dilakukan oleh paham lainnya seperti komunisme, fasisme, sosialisme. Ideologi bukan datang dari ruang hampa lalu diterima sebagai suatu pemahaman melalui kebebasan individu dalam menerima sesuatu, ideologi bersifat subjektif makanya harus ‘ditanamkan’ agar orang-orang memutuskan untuk menerima satu ideologi dan menolak ideologi lain. Termasuk juga liberalisme, paham tersebut harus ditanamkan agar orang menerima kebebasan sebagai suatu kebenaran dan menyatakan paham yang tidak liberal adalah salah.

Continue reading

Advertisements

Belajar dari kang Gito..

Tulisan lama yang dimuat di website Swaramuslim yang sudah tutup, kisah hidup beliau sangat menginspirasi betapa besarnya kasih-sayang Allah terhadap hamba-Nya, kalau Dia berkehendak maka ‘aktivis maksiat’ semacam kang Gito saja bisa diberi hidayah. Semoga kang Gito menjalani kehidupan yang tenang dialam barzakh, diampuni segala dosa-dosa dan diterima disisi Allah..

——————————————————————

Siapa yang tidak kenal kang Gito Rollies..?, eksistensinya di dunia musik Indonesia yang begitu lama, sejak tahun 70’ an sampai sekarang membuat dia dikenal oleh lintas generasi, baik kaum bapak-bapak dan ibu-ibu (yang ditahun 70’ an masih menjadi kawula muda dan akrab dengan musik the Rolies, musik anak muda pada waktu itu) maupun para ABG jaman milenium sekarang sekalipun image ‘sang maestro’ tersebut sudah agak bergeser kepada sosok yang akrab dengan simbol-simbol agama Islam.

Continue reading

Mencatut al-jamaah; satu-satunya golongan yang masuk surga..

Hadits ini sangat populer terutama dikalangan kelompok yang punya ‘hobby’ mengkafirkan golongan Islam lain yang bukan termasuk anggota kelompoknya, bahwa Rasulullah mengatakan kelak umat Islam terpecah menjadi 73 golongan (dalam hadits lain disebut 72 atau 71) dan hanya 1 golongan yang bakalan masuk surga. Dalam banyak jalur periwayatannya (sekurangnya ada 15 jalur) menyatakan kelompok yang masuk surga disebut beliau sebagai ‘al-jamaah’. Dalam periwayatan lain disebutkan kriterianya yaitu ‘ialah golongan yang mengikuti jejakku dan jejak para Shahabatku’. Berdasarkan ini, sebagian orang lalu bikin rombongan, tidak lupa mencantelkan nama kelompoknya dengan kata ‘al-jamaah’ atau juga sebutan untuk para sahabat Rasulullah, yaitu ulama salafi/terdahulu, maka bermunculan organisasi dengan nama ‘Jamaah anu’, atau juga ‘Jamaah Salafiyah’. Tujuannya tentu saja agar termasuk 1 kelompok yang disebut Rasulullah bakalan masuk surga.  Karena hadits tersebut menyatakan kelompok yang berada diluar ‘al-jamaah’ tersebut dikatakan tidak akan masuk surga, maka anggota organisasi ini punya landasan dalil untuk mengkafirkan dan menyatakan pihak diluar kelompok mereka sudah tersesat. Cuma karena kelompok yang mengidentifikasikan dirinya sebagai ‘ahli surga’ ini tidak satu, maka antara sesama ‘pewaris surga’ juga mengkafirkan pewaris surga yang lain, jadilah dagelan besar di dunia Islam..

Continue reading

Syaitan bekerja di stadion sepakbola..

Jangan tanya kegemaran masyarakat soal sepakbola, pengetahuan kebanyakan orang tentang klub, para pemain, pelatih, peringkat negara jauh lebih tinggi dibandingkan pemahaman soal ajaran agama. Anak kecil juga ngerti siapa itu Lionel Messi, bagaimana kekuatan Real Madrid, siapa pelatih MU bahkan sampai kepada hal yang detail misalnya tentang sejarah prestasi klub, dan pernak-pernik kejadian kecil semacam David Beckam yang jidatnya luka dilempar sepatu oleh Alex Ferguson diruang ganti.

Continue reading

Menanti orang Liberal makan babi..

Dari dulu pokok-pokok pikiran kaum liberal sama saja, bahwa berdasarkan nilai-nilai yang dianut dijaman sekarang ini soal HAM dan hak individu, kesetaraan gender, kebebasan, demokrasi, dan penentangan terhadap sikap yang memaksa atau juga kekerasan, maka mereka memilah-milah mana dari praktek ajaran Islam yang selama ini dijalankan, masih bisa diterima, dan mana yang harus ditolak karena sudah tidak sesuai dengan nilai-nilai ‘universal’ tersebut. Sepuluh tahun lalu Ulil Abshar menulis di koran Kompas, bahwa : jilbab, hukuman potong tangan, cambuk, qishash, rajam, jenggot, celana cingkrang, waris, dll merupakan praktek ajaran Islam yang sudah kedaluarsa, alasan yang dipakai adalah karena itu merupakan produk budaya Arab. Jilbab misalnya harus ditafsirkan berpakaian sesuai norma-norma kesopanan yang ada pada masyarakat sekarang. Ini malah berakibat batasan soal aurat menjadi tidak ada lagi. Bagi masyarakat tertentu aurat hanyalah disekitar alat kelamin, maka nilai kesopanan mereka jelas berbeda dengan masyarakat yang punya ukuran lain. Padahal ayat Al-Qur’an tentang aturan ini jelas menyatakan batasan mana bagian tubuh yang harus ditutupi dan mana yang boleh dibuka, jelas tidak ada urusannya dengan budaya Arab.

Continue reading