Dengan Jilbab justru makin menarik..

Kalau ditanya kepada wanita :”Apa alasannya anda memamerkan aurat..?” maka jawabannya bisa macam-macam. Ada yang bilang karena merasa lebih fresh dan segar, ada juga yang bilang  lebih ‘pede’ karena mau memamerkan bagian yang dianggap indah untuk dipandang orang lain, bisa membuat kagum baik buat laki-laki maupun wanita lain, atau juga mengatakan memang merupakan cara untuk bersaing dan lebih menonjolkan diri agar menjadi fokus perhatian orang disekitar. Saya pikir tidak akan ada yang menjawab :”Ini hak asasi gue…, jadi gue pamer aurat untuk menyatakan kebebasan yang tidak bisa diatur oleh siapapun”, karena sepanjang memamerkan aurat merupakan tindakan yang tidak nyaman, maka hal tersebut pasti tidak akan dilakukan. Mungkin ada juga yang punya alasan :”Justru karena dilarang oleh Islam, maka aurat sengaja saya pamer, untuk menunjukkan pemberontakan saya terhadap aturan-aturan yang mengekang..”, kalau ini yang terjadi maka si wanita tersebut bisa dikategorikan sudah sakit. Namun anehnya ketika tahu laki-laki disekitar melotot ‘mengagumi’ aurat yang dipamerkan, si wanita malah repot sendiri menutup-nutupinya, dengan menarik-narik kebawah rok mini yang dikenakannya.

Aurat merupakan bagian tubuh yang bisa ‘membiasakan’ pandangan orang, terutama kaum laki-laki. Maksudnya ketika kita terbiasa melihat aurat bertebaran disekitar kita dan gampang untuk ditemukan maka aurat tersebut ‘nggak ngaruh’ buat orang. Silahkan anda pergi ke Bali dan nongkrong di pantai, lalu pandangi para perempuan yang berbikini disana, mana yang lebih menarik minat anda ketika melihat bule pakai bikini atau cewek Indonesia pakai bikini, saya pastikan anda lebih tertarik melihat ‘yang lokal’. Penyebabnya adalah karena aurat bule sudah terbiasa kita lihat, bisa dengan gampang kita temukan di film, video, internet. Sedangkan aurat perempuan Indonesia relatif jarang kita temukan.  Anda juga bisa mencoba hidup dalam masyarakat primitif yang kaum perempuannya pakai pakaian ‘minimalis’, paling juga beberapa hari anda akan terbiasa dan tidak bakalan terganggu lagi dengan pemandangan tersebut.

Tidak usah berkelit dengan mengatakan :”Tergantung bentuk badannya boss, proporsional atau tidak..”. Selera laki-laki terhadap bentuk badan wanita tidak ada standarnya boss…, seseorang gandrung dengan ABG imut-imut, yang lainnya suka sama tante-tante. Yang satu suka sama cewek kurus tinggi semampai, yang lainnya malah ‘ngeres’ sama yang gembrot. Soal proporsional hanyalah mitos yang dibentuk oleh lomba ratu kecantikan saja.

Islam mengajarkan kaum wanita untuk menutup aurat, dan batasannya sangat jelas, bukan bersifat relatif tergantung budaya setempat. Wanita disuruh untuk menutup seluruh bagian tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Karena tercatat dalam Al-Qur’an maka ini bukan merupakan budaya Arab ataupun aturan yang diperuntukkan buat orang Arab. Menurut saya, justru karena disuruh menutup aurat seperti ini maka wanita muslimah mempunyai ‘greget’ ketika membuka auratnya dihadapan laki-laki yang berhak untuk melihatnya. Justru karena memakai jilbab, maka wanita muslimah merupakan komunitas yang sangat ‘ditunggu-tunggu’ oleh kita (kaum laki-laki) untuk dilihat dalam kondisi tidak memakai jilbab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s