Homo mau kawin..

Sekarang lagi ‘’ngetrend’ usaha kaum homo dan lesbian untuk bisa diterima oleh masyarakat, termasuk dengan mengakui perkawinan mereka lewat pranata sosial yang sudah ada. Karena sistem perkawinan umumnya disahkan melalui aturan agama, maka tentu saja arah ‘pergerakan’ mereka adalah mencoba agar sistem agama tersebut bisa mengakomodasi hasrat mereka untuk menikah. Kita mendapat informasi bahwa didunia Kristen hal ini sudah mulai berjalan, misalnya musikus Elton John menikah dengan pasangan laki-lakinya di gereja, dihadapan pendeta yang menyaksikan dan mensahkan ikrar perkawinannya. Dalam prosedur pernikahan Kristen hal ini mungkin bisa saja diterima, karena prinsip pernikahan dalam ajaran Kristen adalah : pihak laki-laki dan wanita datang ke hadapan pendeta (yang mewakili otoritas agama untuk mensahkan) lalu berikrar untuk saling mengasihi dalam susah dan senang. Si pendeta mendengar ikrar tersebut lalu menyatakan bahwa mereka sudah sah menjadi suami istri. Disini terbuka peluang untuk menerima pasangan sejenis untuk menikah karena posisi mereka yang equal sudah memenuhi prinsip pernikahan tersebut.

Prinsip pernikahan dalam Islam punya model yang berbeda, karena adanya ‘ijab-kabul’. Intinya pihak laki-laki datang kepada keluarga si wanita, lalu keluarga si wanita-lah yang bertindak sebagai wali/wakil bagi calon mempelainya. Melalui wakil tersebut, keluarga menyatakan untuk menyerahkan anak wanitanya ketangan si laki-laki yang datang, bahwa wanita yang selama ini berada dibawah tanggung-jawab dan lindungan pihak keluarganya telah dialihkan kepada laki-laki tersebut. Selanjutnya pihak laki-laki yang menerimanya akan bertindak persis sama dengan apa yang selama ini dilakukan oleh pihak keluarga, bahwa dia akan bertanggung-jawab dan melindung wanita yang sudah diserahkan oleh keluarganya. Jadi tidak peduli apakah si wanita berstatus lebih tinggi, lebih kaya, lebih bertenaga dan lebih kuat, sedangkan laki-lakinya mungkin sebaliknya, maka tetap wanita berada didalam tanggung-jawab dan lindungan suaminya. Begitu prinsip pernikahan dalam ajaran Islam, bahwa posisi seseorang dalam pernikahan melekat kepada jenis kelaminnya.

Kalau ini diterapkan untuk pernikahan sejenis, timbul masalah. Karena dua-duanya sejenis maka tidak bisa ditetapkan pihak mana yang menyerahkan tanggung-jawab dan pihak mana yang menerimanya. Ketika kaum homo dan lesbi berusaha mencari celah agar bisa disahkan dalam sistem pernikahan Islam, mereka pasti ‘membentur tembok’, tidak bakalan ketemu celah sekecil apapun.

Jadi saran saya, kalau memang berniat mau menikah sejenis, carilah sistem pernikahan diluar Islam karena anda tidak akan mampu menemukan peluang kalau mau menjalankannya berdasarkan prinsip-prinsip Islam tentang pernikahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s