Menanti orang Liberal makan babi..

Dari dulu pokok-pokok pikiran kaum liberal sama saja, bahwa berdasarkan nilai-nilai yang dianut dijaman sekarang ini soal HAM dan hak individu, kesetaraan gender, kebebasan, demokrasi, dan penentangan terhadap sikap yang memaksa atau juga kekerasan, maka mereka memilah-milah mana dari praktek ajaran Islam yang selama ini dijalankan, masih bisa diterima, dan mana yang harus ditolak karena sudah tidak sesuai dengan nilai-nilai ‘universal’ tersebut. Sepuluh tahun lalu Ulil Abshar menulis di koran Kompas, bahwa : jilbab, hukuman potong tangan, cambuk, qishash, rajam, jenggot, celana cingkrang, waris, dll merupakan praktek ajaran Islam yang sudah kedaluarsa, alasan yang dipakai adalah karena itu merupakan produk budaya Arab. Jilbab misalnya harus ditafsirkan berpakaian sesuai norma-norma kesopanan yang ada pada masyarakat sekarang. Ini malah berakibat batasan soal aurat menjadi tidak ada lagi. Bagi masyarakat tertentu aurat hanyalah disekitar alat kelamin, maka nilai kesopanan mereka jelas berbeda dengan masyarakat yang punya ukuran lain. Padahal ayat Al-Qur’an tentang aturan ini jelas menyatakan batasan mana bagian tubuh yang harus ditutupi dan mana yang boleh dibuka, jelas tidak ada urusannya dengan budaya Arab.

Beberapa tahun kemudian muncul disertasi Doktor dari Abdul Moqsith Ghazali yang menemukan ide untuk membagi ayat-ayat Al-Qur’an menjadi 2 kategori, ushul Qur’an yang bersifat fondasional dan fushul Qur’an yang partikular. Entah darimana si Moqsith ini mendapat ‘wangsit’ sehingga berani membagi-bagi ayat Al-Qur’an menjadi 2 kriteria tersebut, bahkan Rasulullah saja tidak pernah punya keberanian seperti itu. Pemilahan ayat-ayat Al-Qur’an hanya dilakukan oleh Allah sendiri ketika Dia menyatakan adanya ayat Muhkamat dan Mutasyabihat, namun itupun dengan ukuran yang diperdebatkan oleh para ulama tafsir sampai sekarang. Allah hanya menyatakan bahwa ayat Mutasyabihat adalah ayat-ayat Al-Qur’an dipakai oleh orang-orang sesat dengan cara mentakwilkan artinya untuk menimbulkan fitnah, maka yang termasuk ayat mutasyabihat bagi satu orang akan berbeda untuk orang lain, tergantung apakah ayat tersebut ditafsirkan serampangan dan menimbulkan fitnah atau tidak. Bisa diperkirakan bahwa ayat Al-Qur’an yang akan dimasukkannya  dalam fushul Qur’an tidak bakalan berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh seniornya beberap tahun sebelumnya, tidak bakalan jauh-jauh dari soal jibab, potong tangan, qishash, waris, dll. Jadi sebenarnya tidak ada perkembangan yang berarti dari konsep orang-orang liberal ini, amplop boleh saja berbeda, isinya sama saja.

Sekarang kita bisa menguji sejauh-mana konsistensi orang-orang liberal ini dalam berpegang kepada konsep yang sudah mereka hasilkan, kita bicara tentang pengharaman memakan daging babi. Kalau berpijak dari soal fondasional dan partikular, budaya Arab atau nilai universal, maka aturan pengharaman memakan babi bisa dimasukkan dalam ayat partikular dan terkait budaya Arab. Jaman dulu babi memang jarang ditemukan di kota Mekkah dan Madinah, ini bisa dianggap juga sebagai aturan berdasarkan ‘kearifan lokal’ karena untuk melindungi binatang yang populasinya sedikit agar tidak musnah, atau juga karena alasan kekotorannya. Namun sekarang ini babi gampang ditemukan, teknologi juga sudah bisa ‘membersihkan’ kekotoran yang terkandung didalamnya, orang sudah banyak beternak babi layaknya manusia beternak ayam, sapi atau kambing. Jadi apa lagi alasan untuk mengharamkan makan babi..??

Maka kita boleh saja menguji apakah kaum liberal konsisten dengan pemikiran mereka, silahkan keluarkan ‘fatwa’ bahwa memakan babi sudah menjadi halal dan untuk membuktikannya mereka diminta mendemostrasikan makan babi didepan umum, disorot oleh media massa secara luas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s