Tidak ada dialog dalam penyebaran ideologi, termasuk ideologi liberal..

Selama ini kita dicekoki tentang nilai-nilai kebebasan yang terkandung dalam ideologi liberal, bahwa kebebasan untuk berekspresi dan mengemukakan pendapat merupakan nilai integral dari paham tersebut, lalu mengambil  bentuknya menjadi kegiatan dialog, tidak ada indoktrinasi, kebebasan berpendapat, suasana yang menunjukkan kesetaraan, saling memberikan masukan. Padahal itu hanya omong kosong. Penyebaran liberalisme sama saja dengan yang dilakukan oleh paham lainnya seperti komunisme, fasisme, sosialisme. Ideologi bukan datang dari ruang hampa lalu diterima sebagai suatu pemahaman melalui kebebasan individu dalam menerima sesuatu, ideologi bersifat subjektif makanya harus ‘ditanamkan’ agar orang-orang memutuskan untuk menerima satu ideologi dan menolak ideologi lain. Termasuk juga liberalisme, paham tersebut harus ditanamkan agar orang menerima kebebasan sebagai suatu kebenaran dan menyatakan paham yang tidak liberal adalah salah.

Kita bisa lihat faktanya, apa yang dilakukan kelompok yang mengusung paham ini, cara-cara yang dipakai sama saja dengan ideologi yang ditentang seperti fasisme, sosialisme, dll. Masyarakat akan ‘dibombardir’ dengan informasi sepihak yang menyampaikan nilai-nilai yang terdapat dalam paham tersebut, supaya orang banyak bisa ‘digiring’ keberpihakannya menerima nilai liberal dan menolak nilai yang berseberangan. Silahkan anda ikuti diskusi yang dilakukan oleh kelompok liberal, mereka pasti memakai segala cara untuk memasukkan paham mereka, tidak akan ada dialog yang memberikan kebebasan kepada pihak lain untuk mengkoreksi secara bebas. Paling yang disebut sebagai dialog adalah sebatas mendengar pendapat orang, lalu selanjutnya si penganut paham liberal ini tetap saja tidak akan bergeming, tetap mengupayakan nilai-nilai yang sudah ‘dipatok’ bisa diterima masyarakat. Media massa adalah sarana yang dipakai dan dikuasai agar dalam pikiran orang banyak bisa ditanamkan persepsi kebenaran paham liberal. Pelintiran berita dan keberpihakan merupakan cara yang sah untuk itu, padahal ini adalah cara yang bertentangan dengan nilai liberal sendiri.

Makanya tidak heran kalau kita menyaksikan Irshad Manji ketika bereaksi terhadap pelarangan Rektor UGM menyatakan :” “Seharusnya bukan pelarangan tapi berdialog. Kalau tidak ada dialog itu hanya indoktrinasi,”, namun ketika menerima usulan peserta diskusi di Salihara untuk mendengar pendapat pihak yang menentang gagasannya menyatakan : “Saya tidak percaya bahwa dialog kita dengan mereka akan merubah cara berpikir mereka. Pikiran mereka telah tercipta seperti itu, pikiran mereka telah terdogma untuk tidak berubah”.

Ternyata pengikut liberalisme ini juga tunduk dibawah dogma yang isinya menyatakan orang lain yang berseberangan sudah tidak bisa dirobah karena telah terdogma, lalu melanjutkan ‘dialog’ tanpa mengikut-sertakan pihak yang berseberangan tersebut, ini bukan lagi dialog namanya, tapi indoktrinasi juga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s