Fir’aun yang tidur nyaman di museum..

Beberapa tahun lalu tersebar di internet foto-foto ‘sebuah’ mayat yang baru dibongkar dari kubur. Ceritanya itu adalah jenazah seorang anak muda yang masih segar, normal dan mulus. Karena ayah si pemuda tersebut meragukan hasil diagnosa penyakit yang menyebabkan anaknya meninggal, maka mereka memutuskan untuk menggali kembali kuburan si anak muda 3 jam setelah dilakukan pemakanannya. Yang ditemukan ternyata sangat mengejutkan, bisa dilihat dari foto-fotonya. Mayat  si anak menjadi rusak, diilustrasikan dengan kalimat ‘tampak jelas bekas siksaan dan pukulan yang amat keras dan dengan tulang-tulang kaki dan tangan yang hancur begitu juga ujung-ujungnya sehingga menekan ke badannya, seluruh badan dan mukanya memar, matanya yang terbuka memperlihatkan ketakutan, kesakitan dan keputus-asaan’. Lalu dikatakan bahwa itulah bukti adanya siksa kubur. Saya berpikir sungguh luar-biasa siksa kubur ini, sampai bikin mayat babak-belur seperti itu.

Continue reading

Allah memiliki wajah, yang penting jangan berantem..

Ayat Al-Qur’an yang menyatakan bentuk antropomorfisme dari Allah sudah menjadi perdebatan sengit dari jaman dahulu, terutama antara kelompok Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Kita bisa menemukan pernyataan Al-Qur’an bahwa Allah memiliki al-‘ain (telinga), al-wajh (wajah), dan al-yad (tangan) disamping juga Dia dikatakan al-istiwa(bersemayam) diatas ‘arsy. Kaum Asy’ariyah mengartikan penjelasan ini apa adanya namun dengan ketentuan ‘tidak diketahui bagaimana’ (bila kaifa), maksudnya mereka menerima bahwa Allah mempunyai wajah, tangan, dan bersemayam diatas ‘arsy, namun jangan berpikiran bagaimana bentuknya, memperbandingkan dengan wajah, tangan, telinga yang terdapat pada makhluk, juga jangan membayangkan posisi Allah bersemayam dengan membandingkan seorang raja bersemayam di singgasananya.

Continue reading

Allah yang menciptakan kejahatan..?? Memang benar koq..

Apa itu kejahatan..?? apa itu kebaikan..??, Sesuatu hal kita bilang sebagai ‘jahat’ atau ‘baik’, karena KEMANUSIAAN KITA MEMBERI NILAI kepada sesuatu sebagai jahat dan baik. Mengapa perbuatan menipu, merampok, berzina, mencaci-maki, dikatakan sebagai perbuatan jahat..?? sebaliknya mengapa perbuatan : menolong, membantu, ramah, sopan, dikatakan sebagai perbuatan baik??? Karena dalam batas kemanusiaan kita, semua hal tersebut sudah kita beri nilai baik dan jahat.

Ketika semua atribut itu kita ‘cantelkan’ kepada Tuhan, apakah anda pikir masih mempunyai ‘nilai’ yang sama..?? makanya saya bilang : apakah sesuatu yang kita nilai sebagai baik, adalah baik dan apakah sesuatu yang kita nilai sebagai jahat akan bernilai sama kalau itu kita kaitkan dengan tindakan Tuhan..??. Seseorang bisa saja berkata :”Saya sangat kaya dan berkuasa, semua orang bisa saya beli dan atur sesuai kehendak saya”, maka perkataan manusia tersebut dikategorikan sebagai suatu bentuk kesombongan. Lain soal kalau kalimat yang sama, atau lebih dahsyat, diucapkan oleh Tuhan :”Aku Maha Kaya, Aku Maha Berkuasa..”, mana bisa perkataan Tuhan tersebut kita kategorikan sebagai kesombongan..??. Manusia membunuh manusia lain adalah kezaliman, sedangkan tindakan Tuhan mematikan manusia bukan suatu kezaliman.

Continue reading

Pesan makanan, nggak pakai babi yaa..

Selama ini saya temukan ada 2 pertanyaan, terutama diajukan oleh non-Muslim terkait dengan aturan Allah mengharamkan setiap Muslim memakan daging babi : (1) kalau larangan tersebut dengan alasan babi adalah ‘rijs’ – kotor, bagaimana kalau teknologi sudah menemukan cara agar kekotoran yang dikandung oleh babi bisa dilenyapkan..? (2) dalam keadaan terdesak Allah membolehkan Muslim untuk memakan babi, lalu apakah babi yang sebelumnya haram menjadi halal karena kondisi tertentu..?

Continue reading

Hai suami..! Berjalan pincang menuju neraka, mau..!!?

Sepasang suami istri datang menghadap hakim, mengadukan masalah mereka bahwa si suami berniat mau berpoligami. Islam mengajarkan bahwa poligami diperbolehkan dengan satu syarat si suami harus berlaku adil. Tentu saja kalau ukuran keadilan diserahkan kepada pasangan suami istri bakalan tidak akan ketemu ujungnya, mau berdebat 7 hari 7 malam-pun dipastikan tidak akan ada kata sepakat tentang apa yang dimaksud dengan keadilan. Maka satu-satunya jalan untuk memutuskan apakah si suami bakal berlaku adil atau tidak harus diserahkan kepada hakim.

Mendengar permasalahan yang dikemukakan, si hakim bicara kepada istri :”Kebolehan berpoligami memang tercatat jelas dalam Al-Qur’an sekalipun memiliki syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Apa boleh buat, mau ditafsirkan model apapun boleh yaa boleh, tidak bisa dibikin jadi tidak boleh atau mengharamkannya. Kalau ibu menolaknya sama saja artinya mengingkari aturan Allah yang sudah ditetapkan-Nya..”. Mendengar omongan Hakim, si suami langsung nyengir lebar.

Continue reading