Al-Qur’an dan Kaset Rekaman

Proses penyebaran Al-Qur’an dijaman Rasulullah bisa diibaratkan dengan memperbanyak copy-an album rekaman oleh produser kedalam kaset atau CD. Selesai lagu diciptakan maka bunyi yang dihasilkan disimpan dalam kaset/CD, digandakan lalu disebarkan ke masyarakat luas. Setiap orang memiliki kaset/CD tersebut, kalaupun ada yang tidak punya, dia bisa meminjam atau ‘numpang mendengar’ kaset/CD milik tetangga. Apabila rusak, maka si pemilik bisa merujuk kepada kaset/CD yang lain yang tidak rusak, jaman dulu tidak ada kaset/CD, yang ada otak manusia sebagai sarana penyimpannya.

Selama proses perekaman kedalam kaset/CD, ada juga yang sekalian menulis lirik lagunya pada lembaran kertas, ada yang menulis 1 lirik lagu, ada yang 2 buah, ketika selesai seluruh album, ada juga yang menulis keseluruhan lirik lagu tersebut. Sekalipun keseluruhan album belum selesai namun lagu-lagu yang ada dalam album tersebut sudah diperdengarkan pada khalayak umum, menjadi ‘top-hit’ dan sering diperdengarkan di stasiun radio, tapi karena dulu belum ada stasiun radio, maka ‘lagu’ tersebut diperdengarkan di mesjid, 5 kali sehari. Orang-orang yang sudah hapal juga menyanyikannya dirumah-rumah, dinyanyikan bersama-sama, kalau ada yang salah menyanyikannya, maka pihak lain akan membetulkan.

Ketika Rasulullah wafat, otomatis ‘master kaset’nya sudah tidak ada, namun album sudah selesai dan lagu-lagu yang terdapat didalamnya sudah menyebar-luas dinyanyikan orang terus-menerus. lalu datang yang namanya Usman bin Affan, kepingin mengumpulkan lirik lagu tersebut dalam satu buku, bagaimana caranya..?? Usman membentuk panitia dipimpin oleh Zaid bin Tsabit, Zaid terkenal ‘fans berat’ album Rasulullah tersebut, selalu hadir dalam setiap ‘konser’ beliau, ikut menyanyikan bersama-sama semua lagu karena dia juga hapal liriknya. Apa yang dilakukan Zaid dalam menuliskan lirik lagu-lagu tersebut..?? ternyata tidak sembarangan, pertama, dia minta sama orang yang dulunya menulis lirik ketika proses album tersebut dibuat untuk menyerahkan tulisannya, yang cuma nulis 1 lagu menyetor 1 lagu, yang menuliskan 2 lagu, menyetor 2 lagu, yang nulis semua juga tidak ketinggalan menyerahkan semua catatan lirik lagu tersebut. Zaid tidak berhenti hanya sampai disini, sebelum menyalin ke dalam buku tersebut, dia ‘menyetel kaset’ yang dimiliki oleh orang-orang. Kaset milik si A diperdengarkan, di cross-check dengan milik si B, lalu dia melotot memperhatikan naskah lirik yang sudah diterima, baru dia tulis dalam lembaran buku tersebut.

Selesai menyalin semua lirik lagu yang terdapat dalam album tersebut, Usman kemudian memusnahkan semua naskah yang diterimanya dari orang-orang, mengapa..?? karena ini merupakan tindakan yang lumrah saja, semua lirik lagu sudah disalin dalam sebuah buku, tertulis dengan rapi, tersusun berdasarkan halaman-halaman. Lalu buat apa lagi menyimpan catatan-catatan yang bentuknya bermacam-macam tersebut…? kalau mau menyanyikan lagu tersebut, baca saja salinan yang sudah rapi, lagipula sudah banyak yang hapal lagu-lagu yang liriknya ditulis dalam buku tersebut. Apakah terjadi perdebatan..?? logikanya kalau hasil salinan yang terdapat dalam buku tersebut berbeda dengan ‘isi kaset/CD’ yang dimiliki oleh seseorang, tentu saja orang tersebut bakalan ngamuk, kalaupun tidak ngamuk karena takut sama Usman yang berkuasa, bunyi yang ada dalam kaset/CD-nya tetap saja tidak berubah, dia akan membawanya kemanapun dia pergi, lalu ketika dia memperdengarkan kepada orang lain pastilah lagu yang disampaikannya tetap berbeda dengan apa yang ditulis oleh Zaid dalam buku liriknya. Katakanlah misalnya Ibnu Mas’ud menyerahkan tulisan lirik-nya, ternyata salinan yang dibuat berbeda, tapi kaset/CD yang dimiliki tetap tidak berubah. mana mungkin isi kaset/CD bisa otomatis berubah karena lirik yang ditulis berbeda..??

Ternyata Zaid tidak hanya menyalinnya ke dalam 1 buku saja, ada yang bilang disalin dalam 6 buku, ada juga yang bilang jumlahnya 9 buku, berapapun jumlahnya yang jelas lebih dari satu. Buku-buku lirik lagu tersebut disebarkan ke wilayah sekitar yang membutuhkan, ada yang dikirim ke Mesir, ada yang ke Suriah, Irak, Yordania, dll. Hebatnya, untuk setiap tempat pengiriman tersebut, Usman mengirimkan ‘kaset/CD’ nya juga karena orang tidak bisa belajar bernyanyi hanya dari tulisan lirik yang ada diatas kertas, tapi harus MENDENGAR bagaimana lirik tersebut dinyanyikan. Jadi ketika seseorang mulai belajar menyanyikan lagu-lagu yang terdapat dalam album tersebut, mereka memegang buku liriknya sekaligus mendengarkan bunyi yang berasal dari ‘kaset/CD’ yang sudah ada ditengah-tengah mereka. Nah..salah satu kaset/CD yang disebarkan tersebut termasuk juga Ibnu Mas’ud tadi, dia dikirim ke Irak untuk ‘bernyanyi’ disana.

Orang-orang lalu menggandakan kaset/CD tersebut berdasarkan cara demikian, seperti biasanya, lagu-lagunya tetap menjadi ‘top-hit’ di kalangan masyarakat, dinyanyikan terus-menerus, diperdengarkan secara meluas, kalau ada yang salah menyanyikannya, diketawain anak kecil, karena anak kecilpun hapal lagu-lagunya. Beberapa ratus tahun kemudian, buku lirik yang ditulis Zaid tersebut sudah tidak ada lagi, tapi orang dengan gampang menyalin kembali liriknya dalam buku yang baru karena lagu-lagunya sudah dihapal dan dikenal luas. Ada yang salah menulis lirik akan cepat diketahui. Lalu apa buktinya bahwa diperjalanan tidak terjadi kesalahan yang membuat lagu-lagu tersebut berubah..?? Lihat saja faktanya sekarang, semuanya menyanyikan lagu yang sama. Kalau ada kesalahan dan dibiarkan, tentu saja akan terjadi di satu wilayah orang akan menyanyikan lagu yang berbeda, lalu berdasarkan lagu tersebut dia menulis lirik yang berbeda pula. Bisa dibayangkan kalau kesalahan tersebut berasal dari waktu awalnya, sudah pasti perbedaan tersebut makin luas terjadinya. Katakanlah Ibnu Mas’ud memang punya kaset/CD yang bunyinya berbeda, pasti orang-orang yang mendengar dia bernyanyi juga akan mendapatkan input yang berbeda, lalu menghapalkan lagu yang berbeda, menyebar-luaskan lagu yang tidak sama. Alhasil sekarang pasti di wilayah tempat dulunya Ibnu Mas’ud bernyanyi akan memiliki lagu yang berbeda, tapi faktanya koq tetap sama…??

Sekarang, setelah ribuan tahun, ada yang bilang :”Ditemukan buku lirik milik Ibnu Mas’ud yang mengakui judul yang sama, tapi memuat lagu yang berbeda, buku tersebut ditulis oleh dia yang dekat dengan Rasulullah, jadi ikut mendengar Rasulullah ‘bernyanyi’, pasti buku lirik miliknya-lah yang lebih benar..”. Masalahnya omongan ini tidak ada buktinya karena yang ngomong tersebut sama sekali tidak bisa menunjukkan mana bukunya, apalagi diwilayah mana orang menyanyikan lagu yang berbeda tersebut. Omongan ini hanya berdasarkan ‘katanya’. Lalu kita mau bilang apa..?? Semua orang tetap saja menyanyikan lagu yang sama, yang selalu populer di masyarakat, digemari secara lintas generasi, ketika generasi tua menghilang, muncul generasi baru sesudahnya yang menyanyikan lagu-lagu dari album tersebut.

Demikian penjelasan mengapa Al-Qur’an yang ada sekarang hanya ada 1 versi, kalau tidak ngerti juga, kebangetan……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s