Hati yang tenteram di Masjidil Haram..

[13:28] …(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Kalau ketenteraman dan kebahagiaan bisa anda beli, berapa kira-kira harga yang pantas harus anda keluarkan agar keduanya bisa dapatkan..?? bagi saya mau rasanya mengorbankan seluruh apa yang dimiliki, berupa harta, jabatan bahkan kehormatan sebagai kompensasi ketenteraman dan kebahagiaan yang akan saya peroleh, karena pada dasarnya semuanya itu memang merupakan sarana untuk itu. Harta yang kita kumpulkan, jabatan yang kita kejar-kejar, kehormatan yang kita pertahankan dan tunjukkan kepada orang lain, bahkan anak-anak yang kita hasilkan, boleh dibilang punya muara yang sama, yaitu agar kita selalu berada dalam ketenteraman dan kebahagiaan hidup. Namun kehidupan yang kita lakoni punya dinamikanya sendiri, pada saat tertentu kita bisa merasakan ketenteraman dan kebahagiaan dan pada saat yang lain akan mengalami hal sebaliknya, penyebabnya bisa bermacam-macam, bahkan anehnya kedua kondisi yang bertolak belakang tersebut bisa disebabkan oleh hal yang sama. Kita bisa saja tenteram dengan harta yang kita kumpulkan, namun harta yang sama bisa mengakibatkan malapetaka dan kehancuran, atau kadang kira merasa bahagia dengan jabatan yang kita pegang, disatu saat jabatan tersebut memunculkan kesengsaraan, hmmm…keluarga dan anak-anak menjadi sumber kebahagiaan kita..?? jangan heran disaat yang lain mereka adalah sumber kegundahan hati..

Continue reading

Bagai debu-debu yang berterbangan ditiup angin..

Pertanyaan yang ‘sangat manusiawi’ sering diajukan, terutama oleh non-Muslim terhadap ajaran Islam tentang nasib mereka kelak di akherat :”Kalau saya ini orang yang selalu berbuat baik, suka menolong orang tidak peduli apapun keyakinannya, dermawan dan sering membantu fakir miskin yang kesusahan, ramah dan tidak pernah menyakiti siapapun, apakah saya akan tetap masuk neraka karena bukan seorang Muslim..??”.

Yang pertama kali saya beritahukan adalah jawabannya adalah : saya tidak tahu, maka kalau saya menjawab bagaimana nasib dia kelak di akherat, artinya itu bukan datang dari saya, tapi dari Allah yang Maha Mengetahui, istilahnya saya hanya mengcopy-paste jawaban dari pihak lain. Yang kedua, saya juga tidak berambisi mau mempesonakan orang lain dengan jawaban yang menyenangkan, lalu harus mengarang cerita agar saya memberikan jawaban sesuai harapan orang tersebut, itu sama saja namanya dengan menipu orang, pada dasarnya merugikan orang tersebut sekalipun mungkin hatinya senang mendengar apa yang saya sampaikan..

Continue reading