Hati yang tenteram di Masjidil Haram..

[13:28] …(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Kalau ketenteraman dan kebahagiaan bisa anda beli, berapa kira-kira harga yang pantas harus anda keluarkan agar keduanya bisa dapatkan..?? bagi saya mau rasanya mengorbankan seluruh apa yang dimiliki, berupa harta, jabatan bahkan kehormatan sebagai kompensasi ketenteraman dan kebahagiaan yang akan saya peroleh, karena pada dasarnya semuanya itu memang merupakan sarana untuk itu. Harta yang kita kumpulkan, jabatan yang kita kejar-kejar, kehormatan yang kita pertahankan dan tunjukkan kepada orang lain, bahkan anak-anak yang kita hasilkan, boleh dibilang punya muara yang sama, yaitu agar kita selalu berada dalam ketenteraman dan kebahagiaan hidup. Namun kehidupan yang kita lakoni punya dinamikanya sendiri, pada saat tertentu kita bisa merasakan ketenteraman dan kebahagiaan dan pada saat yang lain akan mengalami hal sebaliknya, penyebabnya bisa bermacam-macam, bahkan anehnya kedua kondisi yang bertolak belakang tersebut bisa disebabkan oleh hal yang sama. Kita bisa saja tenteram dengan harta yang kita kumpulkan, namun harta yang sama bisa mengakibatkan malapetaka dan kehancuran, atau kadang kira merasa bahagia dengan jabatan yang kita pegang, disatu saat jabatan tersebut memunculkan kesengsaraan, hmmm…keluarga dan anak-anak menjadi sumber kebahagiaan kita..?? jangan heran disaat yang lain mereka adalah sumber kegundahan hati..

Percayalah…, saya pernah mengalami ketenteraman dan kebahagiaan dalam waktu yang cukup lama ketika saya melakukan ibadah haji beberapa tahun yang lalu, kebahagiaan dan ketenteraman yang sebenar-benarnya. Tentu saja saya tidak bermaksud untuk ‘membual’ disini dengan mengatakan selama 40 hari keberadaan di tanah suci, saya sama sekali tidak menemukan masalah yang membuat saya menjadi marah, sedih ataupun sakit hati, namun masalah yang muncul tidaklah mengakibatkan kesengsaraan yang lama, tidak lebih hanya dalam sehari, hal tersebut berlalu begitu saja seolah-olah debu yang ditiup angin. Saya juga pernah beberapa kali bertengkar dengan istri disana, namun berbeda dengan pertengkaran yang terjadi dirumah, itu hanya bertahan satu hari karena besoknya kami kembali lupa, lalu kami kembali sibuk untuk melakukan ibadah sebanyak mungkin. Melakukan perjalanan haji selalu dengan berombongan dan kelakuan setiap individu dalam rombongan tersebut bermacam-macam, apalagi semuanya dalam kondisi ‘darurat’ layaknya orang-orang diperjalanan, berebut mendapatkan makhtab yang enak, sikut-sikutan ketika masuk kendaraan atau mendapatkan jatah makanan, bahkan dalam melaksanakan ritual ibadah-pun, kelakuan seperti ini sering sekali muncul, saya sendiri menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana orang-orang sampai berkelahi pukul-pukulan ketika berdesak-desakan melaksanakan tawaf, persis di depan ka’bah.

Bertahun-tahun saya mencoba memikirkan, apa kira-kira yang menyebabkan hati begitu tenteram dan bahagia selama kurun waktu disana, tentunya dengan suatu ambisi agar kondisi tersebut bisa dipindahkan dan dibawa dalam kehidupan yang saya harus jalani dirumah. Ada satu kata kunci yang saya temukan: kepasrahan…

Ketika melakukan persiapan terakhir akan berangkat, saya dan istri sudah menitipkan anak-anak kepada keluarga yang tinggal, dan kami menetapkan niat untuk beribadah sebanyaknya di tanah suci, tidak lupa kami membekali diri dengan pengetahuan, bahwa beribadah disana punya nilai spiritual yang tinggi, shalat di Masjidil Haram punya kualitas 100.000 kali dibandingkan shalat berjamaah di mesjid lain, Allah menurunkan sekian pahala di Masjidil Haram dan porsi terbesar dari pahala tersebut diberikan-Nya untuk orang yang tawaf, do’a di multazam adalah do’a yang paling diperhatikan Allah, pada saat wuquf di Arafah seolah-olah Allah membuka pintu langit dan menurunkan ribuan malaikat untuk menerima segala do’a yang kita panjatkan. Di Makkah kami tidak punya banyak waktu untuk mengerjakan hal yang sia-sia, biasanya jadwal harian kami : jam 2 tengah malam bangun untuk pergi ke mesjid, kami disana sampai waktu dhuha sekitar jam 8 pagi, lalu kami pulang ke makhtab untuk tidur dan mandi, siangnya sekitar jam 11 kami sudah cabut lagi ke mesjid dan ‘parkir’ disitu sampai selesai shalat ‘Isya. Selesai ‘Isya kami pulang ke makhtab untuk sekedar mandi dan bersiap-siap lagi balik ke mesjid. Kegiatannya..?? yaa mengaji, tidur kalau ngantuk atau cuma sekedar melihat-lihat orang yang ada disekeliling. Soal makanan, nggak usah dipikir, disekitar mesjid banyak warung, mulai dari jualan roti mariam 1 real sampai soto, nasi dan bakso. Sumpah mati dah…, ketika itu sama sekali tidak ada dalam pikiran soal pekerjaan, target yang belum tercapat, jadwal meeting dengan atasan atau relasi, persiapan bahan presentasi, belum lagi menghadapi pertanyaan (termasuk caci-maki) dalam mempertanggung-jawabkan pekerjaan. Tidak ada urusan dengan tetangga, jalan yang rusak dilingkungan rumah, menghadiri pesta pernikahan atau reuni teman sekolah, termasuk rapat RT/RW dan kerja bakti. Dengan anak-anakpun kami bisa lupa, bagaimana dengan makan dan sekolah mereka, kami secara rutin menelepon kerumah untuk menanyakan khabar, dalam soal ini kelihatannya berlaku pameo :”No news good news..”. Urusan biaya hidup..?? nggak usah khawatir, uang saku 2.500 real yang dikembalikan dari ONH sudah cukup untuk biaya hidup karena perjalanan haji bukanlah seperti piknik travelling lainnya, kami sama sekali tidak punya keinginan untuk mencoba makanan ini-itu, dengan tujuan untuk ‘digembar-gemborkan’ kepada orang-orang dikampung, makan cukup sekedar buat hidup, roti mariam 1 real-pun jadi, kalau kami ingin makan lebih enak, sekali-sekali kami pergi ke warung yang menjual makanan Indonesia, beli nasi soto 5-10 real. Bagaimana kalau sakit..?? sudah ada petugas kesehatan, bagaimana dengan kualitas dokternya..?? ngapain dipikirin..?? meninggal ketika melaksanakan ibadah haji punya peluang yang besar untuk mati syahid, tidak perlu repot menyiapkan upacara penguburan, mengundang tahlilan, bahkan menyiapkan makanan segala, jadi kalau kita sakit, tinggal mengadu sama petugas kesehatan, urusan selanjutnya menjadi urusan dia dengan Allah. Bagi istri saya, tidak perlu memikirkan baju mana yang harus dipakai, apakah sama dengan baju yang dipakai kemaren..?? apapun bajunya, cukup ditutupi sama mukena..

Lingkungan kehidupan ditanah suci jelas berbeda dengan yang kita alami dirumah, disana boleh dikata kita tidak bersentuhan dengan televisi, jadi irama hidup kita tidak dipengaruhi oleh sinetron atau reality show, jadwal shalat tidak ‘disesuaikan’ dengan jadwal iklan yang menyelingi acara televisi favorit kita, disono tidak ada internet buat main fesbuk, termasuk main game onlinenya. Ketika kita keluar kejalanan, sama sekali tidak akan pernah anda temukan ‘jidat licin’ dan ‘sekwilda’ dari perempuan-perempuan yang memamerkan aurat, semuanya tertutup mukena. Satu-satunya godaan mungkin hanya soal mall dan tempat belanja, namun semua tempat tersebut akan ditutup pada setiap waktu shalat, dan kebetulan saya dan istri tidak begitu berbakat tentang ini, tidak punya nafsu berbelanja yang besar, baik ketika ditanah suci mapun dalam menjalani kehidupan sehari-hari dirumah.

Coba anda bayangkan, bagaimana mungkin tidak tenteram dengan irama hidup seperti itu..?? makin sederhana kehidupan yang kita jalani makin terbuka kesempatan untuk hidup tenteram dan bahagia..

Darimana kepasrahan tersebut munculnya..?? ketika anda memulai perjalanan haji, anda bisa memastikan bahwa semua yang akan dialami ditanah suci punya batas waktu, untuk ONH biasa lamanya sekitar 40 hari. Pada saat kita mengalami cobaan dan ujian maka bathin kita akan bicara :”Ini tidak akan lama, hanya 40 hari saja, daripada mikirin masalah lebih baik mengerjakan ibadah..”. Ada batas waktu yang relatif pasti yang menjadi batas kehidupan anda ditanah suci. Kepastian tersebut ternyata mendorong munculnya kepasrahan..

Apa yang terjadi ketika kita kembali ke kampung halaman..?? hohoho…atasan sudah menunggu.., kita harus kembali bersiap-siap untuk ‘cari muka’ berkompromi dengan hati nurani yang harus memberontak diam-diam, kembali bersiap-siap memakai topeng untuk mempesonakan orang lain, berkoar-koar tentang kebahagiaan yang sebenarnya tidak pernah kita alami. Sampai kapan..?? hohoho..kita tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, mana ada diantara kita yang tahu kapan mau mati..?? Apakah harta yang kita kumpulkan sudah menjamin sisa hidup kita dan keluarga..?? bercermin dari pengalaman krisis moneter tahun ‘97-‘98 dulu, ketika kita diinformasikan tentang orang-orang yang dikenal punya harta dan asset trilyunan rupiah, hanya dalam waktu sebulan mendadak berbalik, dikejar-kejar hutang dalam jumlah trilyunan rupiah juga, semua itu membuat kita makin ‘nggak pede’ dengan harta yang kita miliki karena semuanya bisa saja hilang mendadak tanpa bekas. Makin ketakutan terhadap adanya jaminan kehidupan, makin giat kita mengumpulkan harta, dan lucunya hal tersebut sama sekali tidak mendatangkan ketenteraman dan kebahagiaan, mengapa..?? hanya ada satu kata : karena kepasrahan sudah hilang dari hati kita..

Jadi dalam kondisi tidak ada lagi kepasrahan kepada Allah, padahal kita pernah merasa bagaimana menjalani hidup yang tenteram karena adanya kepasrahan, hal tersebut membuat kita menjadi sangat rindu untuk kembali ke Masjidil Haram, kembali ingin menjalani kehidupan yang sederhana dan tidak neko-neko, kembali memiliki keyakinan akan adanya batas waktu semua ini akan berakhir, kembali punya irama hidup semata-mata hanya untuk pengabdian kita kepada Allah. Atau kalau kita mampu, semua itu bisa kita pindahkan dalam kehidupan kita di rumah.

One response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s