Bagaimana orang jaman purba menyebut nama Tuhan..?

Lumrahnya dalam menerjemahkan sebuah buku, nama-nama orang yang tercantum didalamnya tidak akan ikut diterjemahkan. Misalnya novel karangan Ian Fleming yang sangat terkenal dan diterjemahkan ke berbagai bahasa ‘James Bond’, ketika dialih-bahasakan ke dalam bahasa Indonesia, nama James Bond tersebut tidak di-Indonesia-kan menjadi ‘James Ikatan’ atau juga ‘James Obligasi’. Bisa saja semua kata dan kalimat dalam dalam didalamnya diterjemahkan namun ketika menyangkut nama orang, tetap akan memakai bahasa aslinya. Karakter lain yang ada dalam novel tersebut misalnya sekretaris kantor dinas rahasianya yang bernama ‘Moneypenny’ tidak akan diterjemahkan menjadi ‘Uang Receh’. Ketika kita bercerita tentang Goerge Bush dalam bahasa Indonesia maka kita tidak akan memanggilnya ‘George Semak’, atau misalnya bicara tentang senator terkenal AS ‘Barry Goldwater’ lalu menyapanya dengan ‘Barry Banyumas’, atau juga memanggil Mr. Longhouse dengan panggilan ‘Sutan Rumah Panjang’. Sama juga halnya ketika nabi Muhammad diwahyukan tentang kisah orang-orang jaman dahulu, terutama tentang nabi-nabi bangsa Yahudi, maka nama-nama mereka tidak akan dialih-bahasakan ke dalam bahasa Arab, bahasa yang dipakai Allah dalam mewahyukan Al-Qur’an. Nama Musa, Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya dan Isa Almasih tetap dipakai dengan bunyi sama seperti nama-nama tersebut dipanggil oleh bangsa Yahudi dalam bahasa mereka, mungkin terjadi perbedaan logat, namun itu hal yang lumrah, sama saja misalnya ketika orang Indonesia melafahdzkan nama-nama George, Barry, James, dll logatnya tentu berbeda dengan orang Inggeris atau Amerika dalam membunyikannya.

Demikian pula dengan nama ‘Allah’…..

Continue reading

Advertisements