Berpikir fungsional…

Beberapa tahun lalu saya pernah ditelepon salah seorang saudara dari kampung halaman. Terus terang saja saya agak kaget menerimanya karena jarang-jarang saudara saya tersebut menghubungi, ini tentu sesuatu hal yang penting. Ternyata dia menawarkan sebuah rumah mewah dikampung, “untuk hari tua”, katanya. Dengan bersemangat dia menjelaskan bahwa rumah tersebut sangat luas, bertingkat, punya sekian kamar, sekian kamar mandi, dilengkapi kolam renang, lalu dilanjutkan :”Harganya tidak terlalu mahal, hanya ‘satu em”, sambil mengiming-imingi saya bahwa rumah lain yang setara bisa berharga lebih dari itu.  Terus-terang saya jadi ketawa sendiri, koq dia bisa menyimpulkan kalau saya punya duit sedemikian banyak. Tawa saya makin keras ketika hal ini saya sampaikan kepada istri saya dan jawabannya :”Walah….bisa gempor menyapunya tiap hari, nggak mau saya di hari tua harus mengurus rumah sebesar itu..”.  dalam, pikiran saya, rumah demikian memang menyiksa. Bayangkan bagaimana beratnya mengurus rumah tersebut, kalaupun pakai pembantu, minimal harus ada 4 orang pembantu yang stand-by terus dirumah, dan ini bisa menimbulkan masalah karena pengalaman saya, 1 pembantu saja kelakuannya aneh-aneh dan bikin pusing, apalagi 4 orang. Belum lagi kalau untuk perawatan, ada yang bocor, listrik konslet, dll.
Continue reading

Advertisements