Berpikir fungsional…

Beberapa tahun lalu saya pernah ditelepon salah seorang saudara dari kampung halaman. Terus terang saja saya agak kaget menerimanya karena jarang-jarang saudara saya tersebut menghubungi, ini tentu sesuatu hal yang penting. Ternyata dia menawarkan sebuah rumah mewah dikampung, “untuk hari tua”, katanya. Dengan bersemangat dia menjelaskan bahwa rumah tersebut sangat luas, bertingkat, punya sekian kamar, sekian kamar mandi, dilengkapi kolam renang, lalu dilanjutkan :”Harganya tidak terlalu mahal, hanya ‘satu em”, sambil mengiming-imingi saya bahwa rumah lain yang setara bisa berharga lebih dari itu.  Terus-terang saya jadi ketawa sendiri, koq dia bisa menyimpulkan kalau saya punya duit sedemikian banyak. Tawa saya makin keras ketika hal ini saya sampaikan kepada istri saya dan jawabannya :”Walah….bisa gempor menyapunya tiap hari, nggak mau saya di hari tua harus mengurus rumah sebesar itu..”.  dalam, pikiran saya, rumah demikian memang menyiksa. Bayangkan bagaimana beratnya mengurus rumah tersebut, kalaupun pakai pembantu, minimal harus ada 4 orang pembantu yang stand-by terus dirumah, dan ini bisa menimbulkan masalah karena pengalaman saya, 1 pembantu saja kelakuannya aneh-aneh dan bikin pusing, apalagi 4 orang. Belum lagi kalau untuk perawatan, ada yang bocor, listrik konslet, dll.

Pernah juga dalam suatu wawancara di sebuah stasiun televisi, 2 orang pengacara kondang adik-kakak yang terkenal dengan hobby mengkoleksi mobil-mobil mewah, puluhan jumlahnya nangkring di garasi rumah. Sebagaimana umumnya konstruksi mobil mewah, tidak bisa dikendarai di semua jalan, harus jalan yang mulus, dan celakanya di Indonesia ini malah sebaliknya, jalan berlobangnya lebih banyak dibandingkan yang mulus. Mobil mewah juga biasanya didesain untuk ngebut, maka sangat riskan kalau dipakai di kompleks perumahan, harus pergi ke jalan tol, celakanya dihari kerja biasanya jalan tol di Jakarta selalu macet. Maka si pengacara kondang tersebut, entah dengan bangga atau memelas bercerita bahwa kalau dia ingin menikmati mobil koleksinya tersebut, dia harus menunggu tengah malam disaat lalu-lintas sudah sepi, membawa ke jalan tol, baru ngebut disana. Saya menjadi bingung mensikapi cerita dia tersebut, entah merasa lucu atau kasihan…

Kisah-kisah seperti ini selalu kita terima dan kita akui kebenarannya. Sekalipun mungkin kita belum pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi orang kaya, punya banyak rumah dan mobil namun secara logika memang demikianlah yang akan terjadi. Makin banyak harta, makin pusing. Namun tetap saja keinginan untuk mengkoleksi harta melebihi kebutuhan kita menjadi hasrat setiap orang. Padahal Allah juga sudah mengingatkan bahwa :

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. ‪(Al-Hadid: 20)

Kita seharusnya bisa berfikir fungsional terhadap harta, menikmatinya sesuai fungsinya saja. Rumah selalu didambakan orang sebagai tempat berteduh dan beristirahat menenangkan pikiran, juga sebagian untuk mengadakan aktifitas sosial, maka milikilah rumah untuk memenuhi kebutuhan tersebut sekalipun kita misalnya sanggup untuk memiliki lebih. Tiap orang tentu saja berbeda kebutuhannya terhadap rumah, ada yang hobby menonton film dan TV, maka sarana tersebut harus tersedia, ada yang suka memasak, maka peralatan dapur tersusun lengkap, dll. Mobil berfungsi sebagai sarana transportasi, ada yang kebutuhannya cukup dipenuhi 1 mobil, ada yang dua, atau tiga, untuk istri ke pasar dan ke salon, dan untuk anak pergi ke sekolah. Yang jelas memiliki harta tersebut didasari ukuran apakah berfungsi atau tidak, sesuai kebutuhan atau tidak.

Tentu saja seorang Muslim tidak dilarang punya harta berlimpah dan punya asset dimana-mana, namun tujuannya bukanlah untuk dinikmati sendiri, tapi dikelola sebagai kegiatan usaha yang membuka lapangan kerja luas, dan keuntungannya disebar-luaskan kepada pihak yang membutuhkan. Semua orang juga tahu kalau harta tidak akan dibawa mati, dia akan tinggal di dunia, berpindah tangan kepada ahli waris, bahkan bisa menjadi sumber sengketa diantara anak-anak kita. Ketika kita dihisab tentang harta yang pernah di amanatkan Allah ketika hidup di dunia, Allah tidak akan bertanya berapa rumah yang kita miliki, merk apa gadget yang kita pegang, apa jenis mobil yang kita pakai, semua orang juga tahu hal itu, namun anehnya tetap banyak yang berhasrat dan bermimpi untuk bisa melampiaskan nafsunya terhadap harta tersebut..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s