Pak ustadz, apakah saya akan berkumpul kembali dengan suami di surga..??

Ustadz kondang di Bandung, bp. Athian Ali, pernah menyampaikan dalam satu kesempatan ceramahnya, sering pertanyaan ini disampaikan oleh ibu-ibu majelis taklim :”Apakah saya bisa kembali bertemu dan hidup bersama suami saya di surga nanti..??”, sambil tertawa meledek pak ustadz lalu melanjutkan bahwa sudah puluhan tahun dia menjadi ustadz, belum pernah sekalipun ada pertanyaan yang sama datang dari bapak-bapak. Tentu saja hal ini kemudian mengundang ketawa para pendengarnya, terutama para bapak-bapak yang hanya bisa nyengir. Mungkin pertanyaan ini diajukan karena adanya hadist yang bisa memancing kecemburuan para istri tentang apa yang akan diperoleh suami-suami mereka nanti di surga :

Tirmizi dan Ibn Majah meriwayatkan sebuah isnad yang shahih dari Al-Miqdam ibn Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seorang syuhada akan memperoleh tujuh kehormatan dari Allah subhanahu wa ta’ala: ia akan dimaafkan sejak tetesan pertama darahnya; kepadanya akan diperlihatkan tempatnya di surga; ia akan dilindungi dari adzab kubur; ia akan dibebaskan dari adzab hari kiamat; di atas kepalanya akan ditaruh mahkota keagungan dengan batu mulia yang lebih baik daripada dunia dan segala isinya; ia akan dinikahkan dengan 72 bidadari surga; dan ia akan diizinkan untuk memberikan pertolongan (syafaat) kepada 72 orang kerabatnya. (Misykat al-Masabih, III, hlm. 357, no.3834).

Bisa kita gambarkan isi hati para ibu-ibu dengan bahasa gaul :”Lha..suami gua enak-enak dikeroyok puluhan bidadari di surga, mosok gua hanya bisa manyun saja menonton…??”.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa hubungan antar manusia di akherat kelak berbeda dengan apa yang ada di dunia ini :

[23:101] Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.
Continue reading

Advertisements

Poligami..??, itu makanan berkolesterol tinggi..

“Makanan berguna untuk kelangsungan hidup anda, makanan bisa menghasilkan energi untuk anda beraktifitas, kalau anda tidak makan dalam waktu yang lama, anda bisa dalam bahaya. Namun dari berbagai jenis makanan, terdapat makanan yang berkolasterol tinggi, seperti jeroan, dll. Kalau anda tidak punya ketahanan tubuh untuk menerima makanan tersebut, lebih aman kalau anda makan makanan jenis lain, seperti daging, kolasterolnya lebih rendah. Namun kalau anda juga punya tubuh yang rentan, mungkin berpotensi tinggi terhadap diabetes dan darah tinggi, sebaiknya anda makan yang lebih aman, sayuran dan ikan-ikan. Itu lebih baik dan sehat buat anda”.

Logisnya, sekalipun anda termasuk punya tubuh yang kuat, mungkin karena anda adalah olahragawan terlatih, anda tentu memprioritaskan untuk makan makanan yang paling aman, yaitu sayuran dan ikan. Tetapi suatu waktu anda juga bisa mengkonsumsi makanan berkolasterol tinggi karena beberapa alasan, antara lain :

1. Anda merasa tubuh anda SANGGUP untuk mengkonsumsinya..
2. Bisa juga karena SELERA (NAFSU) makan anda mendorong anda sehingga sekalipun mengerti apa resikonya, jeroanpun anda sikat juga.
3. Bisa juga karena anda BUTUH makan makanan beresiko tinggi tersebut, karena aktifitas anda memang membutuhkan masukan makanan yang berenergi tinggi.
4. Bisa juga karena makanan tersebut sudah diletakkan diatas meja, kalau ada tidak memakannya akan membusuk dan mengganggu lingkungan, sedangkan anda TIDAK PUNYA ALTERNATIF untuk membuangnya.

Namun, tindakan paling logis yang anda lakukan adalah : ANDA AKAN MENGKONSUMSI MAKANAN YANG AMAN, karena nasehat orang tadi memang mengarahkan anda untuk mengkonsumsi makanan yang aman.

Continue reading

Internet, anugerah Allah buat umat Islam..

Kekuasaan mana yang saat ini mampu membendung banjir informasi yang terjadi di dunia internet..?? Orang bisa saja membuat perangkat lunak untuk melakukan sensor, apakah terkait dengan pornografi atau berita yang tidak diinginkan dibaca orang banyak, besok lusa para programer pasti menciptakan software baru untuk mementahkan program yang dibuat tersebut, alhasil arus informasinya tetap saja tidak bisa dibendung. Pemerintah di banyak negara bisa saja bikin aturan agar rakyatnya tidak membaca satu berita, dan mengancamnya kalau melakukan pelanggaran, lalu bagaimana mungkin menahan informasi yang bisa diakses sampai  ke tempat tidur dan di kamar mandi rakyatnya..??

Teknologi internet adalah anugerah Allah yang besar untuk umat Islam. Saya ingat dahulu ketika internet belum ada, pikiran kita selalu digiring oleh media yang tersedia, televisi, radio, koran, film, yang dikuasai oleh satu pihak tertentu, dan yang pasti pihak tersebut adalah sesuatu yang tidak berada pada posisi yang sama dengan umat Islam. Arus informasi secara sepihak membentuk persepsi yang disesuaikan dengan keinginan mereka. Saya ingat ketika aktor Hollywood Silvester Stallone dalam Film Rambo II, menceritakan kisahnya kembali ke hutan Vietnam, ketika hendak turun dari perahu di sebuah sungai, jagoan Amerika ini menatap dingin ke arah hutan yang akan dimasukinya sambil mengeluarkan kata-kata dari mulutnya yang rada mencong :”I’am home..”. Persepsi lalu tertancap bahwa sosok tentara Amerika di Vietnam semuanya seperti si Rambo ini, saat ini di internet kita gampang menemukan catatan sejarah yang mengungkapkan bagaimana terbirit-biritnya tentara Amerika melarikan diri dari Saigon digempur pasukan Vietnam Utara. Dulu kita juga dibanjiri informasi soal kehebatan pasukan Israel di Palestina sehingga menimbulkan persepsi mereka tidak akan bisa dikalahkan, sekarang internet menceritakan tentara Israel yang memakai pampers tidak berani keluar dari kabin tank-nya, sementara diluar anak-anak muda Palestina berdiri gagah dengan katapel ditangan. Kita juga dengan mudah mendapatkan gambar-gambar dan film siapa sebenarnya korban ‘kegagahan’ tentara Israel tersebut, anak-anak balita Palestina tewas dibalik dinding rumahnya yang hancur kena bom.

Continue reading

Ampunan Allah yang sangat mempesona…

Sungguh, ketika kita bicara soal sifat Allah yang Maha Pengampun, sudah tidak ada lagi kata-kata yang bisa disampaikan untuk membahas soal ini. Anda bisa membayangkan kalau anda disakiti orang lain, lalu besok lusa dia meminta maaf atas kelakuannya, sangat sulit rasanya memberikan maaf, bahkan ketika secara lisan anda menyampaikan :”Sudahlah.., tidak apa-apa, saya sudah memaafkan anda..”, namun besok lusa ketika anda teringat kembali kelakuan orang tersebut yang telah melukai anda, tetap saja rasa tidak enak muncul dalam hati, dan anda harus bersusah-payah untuk kembali melupakannya. Apalagi ketika kesalahan yang dilakukan terjadi berulang-kali, saya malah tidak yakin kalau kita sanggup untuk memberikan maaf. Apakah kita bisa membayangkan tentang ‘isi hati’ Allah ketika Dia menyatakan :

“Wahai bani Adam, sesungguhnya selama engkau masih berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak akan peduli; Wahai bani Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli; Wahai bani Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan seukuran bumi kemudian engkau datang menjumpai-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik atau menyekutukanKu dengan apapun juga, maka sungguh Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan seukuran bumi juga. [HR. at-Tirmidzi]

Continue reading