Menantang diri sendiri untuk melakukan ibadah terbaik..

Seseorang berniat mau berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat fardhu berjamaah, katakanlah di waktu ‘Isya atau Shubuh, namun mendadak turun hujan deras menghalangi langkahnya untuk pergi. Wajarnya kita tentu punya pikiran untuk melaksanakan shalat fardhu dirumah saja karena memiliki alasan yang kuat untuk itu. Namun orang ini ternyata berpikiran lain :”Kalau saya membatalkan kepergian saya ke masjid maka logikanya semua orang mempunyai pikiran yang sama, lalu siapa lagi yang akan mengisi masjid untuk shalat fardhu berjamaah…?”. Akhirnya dia memilih untuk mengambil payung menerobos hujan deras, mengangkat ujung celana, berangkat juga ke masjid.

Sesampai disana dengan ujung celana yang basah, dan ternyata tepat apa yang dia duga, peserta shalat fardhu hanya 2 orang, dia sendiri dan si penjaga masjid…

Ketika selesai shalat berjalan keluar melewati pintu masjid, wajahnya tertengadah ke langit, dengan mata berkaca-kaca mengucap lirih :” Yaa..Allah, hamba lakukan ini semata-mata mengharapkan ridho dari-Mu, agar Engkau mau menyayangi dan mengasihi hamba, maka limpahkanlah Kasih Sayang-Mu kepada hamba ini..”. Ada keyakinan kuat karena merasa telah memberikan peribadatan yang terbaik, yang tidak akan bisa dilakukan oleh semua orang.

Percayalah.., anda harus mencobanya sekali waktu, karena disaat itu tiba-tiba muncul rasa tenteram dalam hati, ibarat seseorang keluar dari pintu sebuah bank, baru saja membuka deposito ratusan juta rupiah, merasa tenteram karena dalam hatinya tertanam jaminan akan sandaran hidup yang bisa dia dapatkan dari deposito tersebut, yang bisa diambil kapanpun dia mau..

Manusia memang gemar menantang dirinya sendiri, dan kegembiraan serta kebahagiaan akan muncul ketika tantangan tersebut berhasil dia atasi. Setiap saat selalu ada usaha untuk berlari paling cepat atau melompat paling jauh, disaat satu rekor terpecahkan maka pada saat yang sama muncul keinginan untuk melakukan lebih baik dari itu, keberhasilan dicapai, kemahsyuran mendekat. Naluri ini sebenarnya juga ada dalam melakukan ibadah kepada Allah yang ingin melaksanakan penyembahan yang terbaik. Hanya saja nafsu dan syaitan kemudian menghalangi sehingga banyak yang akhirnya terdorong untuk beribadah ‘ala kadarnya’.

Rasulullah misalnya mengatakan ketika menjelaskan soal berpuasa :” Dan orang yang berpuasa itu memiliki 2 kegembiraan; kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat berjumpa dengan Rabbnya”. Hadits ini secara jeli mampu menangkap adanya kecenderungan manusia untuk menantang dirinya sendiri dan adanya kebahagiaan dan kegembiraan ketika tantangan tersebut bisa diatasi. Disaat maghrib datang, makanan diambil dan dimasukkan kemulut, pada saat itu pula hati berkata :”Saya berhasil..”. Silahkan sekali waktu anda mencoba untuk membatalkan puasa ditengah jalan dengan satu alasan yang menurut anda memenuhi syarat untuk itu, misalnya : sakit perut, dll. Maka di sore hari ketika maghrib datang akan muncul rasa penyesalan, menganggap diri sendiri ‘tidak ada apa-apanya’.

Demikian juga dengan melakukan amar makruf nahi munkar. Rasulullah ‘menantang’umatnya ketika mengatakan :“Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman”. Yang mana yang akan anda pilih..?? Anda tentu saja bisa berkata :”Ah..saya sudah tua, tidak mau mencari ribut, tidak akan sanggup lagi..”, lalu silahkan merenung ketika melihat orang lain melakukan perlawanan menghadapi kemungkaran dengan tangannya, anda merasa ‘minder’ atau tidak..??

Aturan peribadatan dalam Islam mengakomodasi kecenderungan manusia ini, shalat memiliki banyak flesibilitas, kalau tidak bisa dilakukan dengan berdiri, bisa dikerjakan sambil duduk, kalau tidak mampu duduk, silahkan shalat dengan berbaring, shalat berjamaah di masjid diawal waktu dinilai sebagai suatu bentuk shalat yang paling berkualitas, namun shalat fardhu dirumahpun ada nilai pahalanya.  Ada banyak kemungkinan mulai dari yang paling sulit sampai yang paling gampang untuk dilakukan, dan manusia akan memilih berdasarkan kecenderungan untuk memberikan yang terbaik. Kebahagian dan kegembiraan yang muncul berbanding lurus dengan ‘tingkat kesulitan beribadah’ yang dilakukan.

Cuma itu tadi, nafsu dan syaitan berusaha menutup naluri kita tersebut sehingga menjadi lalai dan malas untuk melakukan yang terbaik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s