Batal konser, media massa dan Lady Gaga bermain persepsi..

Menurut pihak promotor, alasan utama tentang gagalnya konser Lady Gaga di Jakarta adalah karena faktor keamanan, – “The Jakarta Situation is 2-fold: indonesian authorities demand I censor the show and religious extremist separately, are threatening violence,”  demikian penyanyi ini menulis di twitternya. Ini tentu suatu kesempatan juga bagi pihak promotor untuk menyelamatkan diri dan mereka bisa berkelit tentang ketidak-mampuan untuk memenuhi syarat-syarat pelaksanaan konser sesuai aturan yang berlaku. Soal batasan yang ditetapkan untuk melakukan konser tidak perlu dibahas karena ini bukan hanya reaksi yang dihadapinya di Indonesia saja, pemerintah Philippina dan Korea Selatan juga lebih kurang menuntut hal yang sama. Alasan yang menjadi ‘ciri-khas’ Indonesia terletak kepada soal keamanan, lalu informasi ini langsung disambar oleh media sekuler (julukan bagi media yang selama ini punya reputasi berseberangan dengan gerakan amar makruf nahi munkar yang dilakukan ormas-ormas Islam) untuk memojokkan polisi. Sehari setelah pengumuman tersebut, pak Saud Usman Nasution, Kadiv Humas Polri menjadi naik daun, diundang sebagai narasumber untuk menerima ‘serangan’ dari media ini. Pertanyaan diajukan mulai dari bergaya meminta penjelasan sampai menyindir untuk memancing emosi pak polisi tersebut. Untung sampai hari ini, kita tidak melihat pihak polisi terpancing dan tetap konsisten dengan penjelasan soal belum lengkapnya syarat-syarat perizinan yang diserahkan oleh pihak promotor.

Continue reading

Advertisements

Kaum sufi di waktu shubuh..

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid di kegelapan malam bahwa mereka akan beroleh cahaya yang sempurna di hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah di dalam kitab shahihnya, dan Imam Hakim).

Menarik apa yang saya amati dari jemaah shubuh saya pagi ini. Beberapa mereka yang konsisten shalat ke masjid terdiri dari orang-tua yang sudah punya problem dengan kesehatan, ada yang sudah terkena stroke dan di operasi, kondisi yang sering ambruk, bahkan ada yang pernah pingsan ketika shalat, ada juga yang bermasalah dengan diabetes, jantung, prostat, dll. Kondisi kesehatan ini jelas bukan sesuatu yang nyaman untuk setiap pagi buta pergi ke masjid melaksanakan shalat shubuh berjamaah.

Cuaca belakangan ini juga tidak bersahabat karena sering hujan, jalan di kompleks perumahan yang banyak berlubang memunculkan perjuangan tersendiri untuk berjalan mencapai masjid akibat lumpur yanhg ditimbulkannya. Dari cerita jamaah, sudah ada 4 orang yang jatuh terpeleset bahkan sampai terkilir.
Continue reading

Mereka yang akan menyeret kita ke neraka..

Nabi bersabda, “Tahukah kalian siapa sebenarnya orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak memiliki harta benda”. Kemudian Rasulullah berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa dan zakatnya, (tapi ketika hidup di dunia) dia mencaci orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpahkan darah orang lain (secara bathil) dan dia memukul orang lain, lalu dia diadili dengan cara kebaikannya dibagi-bagikan kepada orang ini dan kepada orang itu (yang pernah dia zhalimi). Sehingga apabila seluruh pahala amal kebaikannya telah habis, tapi masih ada orang yang menuntut kepadanya, maka dosa-dosa mereka yang didzalimi ditimpakan kepadanya, dan pada akhirnya dia dilemparkan kedalam neraka (Shahih Muslim No.4678, Tirmidzi No. 2342)

Siapakah kira-kira yang dimaksud ‘orang lain’ yang disebut dalam hadits tersebut? Apakah mungkin mereka itu orang yang tinggalnya jauh dari kita.? Misalnya anda yang tinggal di Indonesia, maka ‘orang lain’ yang dimaksud Rasulullah adalah Mr. Smith di Amerika Serikat, atau Nakamura-san di Tokyo, Mr. Mugabe di Afrika..? Lalu kapan adanya kesempatan kita berinteraksi dengan mereka sehingga memunculkan kedzaliman dan sikap menyakiti..?. Bagaimana mungkin bisa dikatakan kita melakukan dosa padahal kenalpun tidak..?.

Continue reading