Batal konser, media massa dan Lady Gaga bermain persepsi..

Menurut pihak promotor, alasan utama tentang gagalnya konser Lady Gaga di Jakarta adalah karena faktor keamanan, – “The Jakarta Situation is 2-fold: indonesian authorities demand I censor the show and religious extremist separately, are threatening violence,”  demikian penyanyi ini menulis di twitternya. Ini tentu suatu kesempatan juga bagi pihak promotor untuk menyelamatkan diri dan mereka bisa berkelit tentang ketidak-mampuan untuk memenuhi syarat-syarat pelaksanaan konser sesuai aturan yang berlaku. Soal batasan yang ditetapkan untuk melakukan konser tidak perlu dibahas karena ini bukan hanya reaksi yang dihadapinya di Indonesia saja, pemerintah Philippina dan Korea Selatan juga lebih kurang menuntut hal yang sama. Alasan yang menjadi ‘ciri-khas’ Indonesia terletak kepada soal keamanan, lalu informasi ini langsung disambar oleh media sekuler (julukan bagi media yang selama ini punya reputasi berseberangan dengan gerakan amar makruf nahi munkar yang dilakukan ormas-ormas Islam) untuk memojokkan polisi. Sehari setelah pengumuman tersebut, pak Saud Usman Nasution, Kadiv Humas Polri menjadi naik daun, diundang sebagai narasumber untuk menerima ‘serangan’ dari media ini. Pertanyaan diajukan mulai dari bergaya meminta penjelasan sampai menyindir untuk memancing emosi pak polisi tersebut. Untung sampai hari ini, kita tidak melihat pihak polisi terpancing dan tetap konsisten dengan penjelasan soal belum lengkapnya syarat-syarat perizinan yang diserahkan oleh pihak promotor.

Mari kita runut kronologisnya..

Reaksi umat Islam telah dilakukan beberapa minggu sebelum hari-H konser yang sedianya akan diselenggarakan tanggal 3 Juni 2012. Banyak alasan yang dikemukakan, mulai dari penampilan yang seronoh, aksi teatrikal yang mewakili ajaran setan sampai kekhawatiran rusaknya akhlak generasi muda Indonesia. Semuanya bermuara kepada satu hal, bahwa Lady Gaga tersebut merupakan sosok yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, sesuai dengan apa yang diyakini oleh pihak Islam yang menentang. Tentu saja di negara demokrasi yang menjunjung nilai-nilai kebebasan ini, sikap seperti itu sah-sah saja. Setiap orang berhak untuk memiliki keyakinan bahwa kelakuan penyanyi yang datang tersebut bertentangan dengan ajaran agama yang dianutnya, sama berhak-nya pihak lain yang mengaku beragama Islam yang meyakini model konser tidak bermasalah dengan ajaran Islam, sesuai dengan pemahaman mereka tentang ajaran agama yang dianutnya tersebut. Juga sama sah-nya dengan ketua NU Said Agil atau imam besar masjid Istiqlal yang menyatakan itu memang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, namun tidak mengambil sikap yang jelas untuk menentang kedatangannya, selain berdo’a agar si Lady tidak jadi datang ke Indonesia.

Konstitusi di negeri ini juga memberi keleluasaan untuk mengekspresikan sikap tersebut melalui tindakan yang dibenarkan oleh undang-undang, silahkan mengadakan demonstrasi, diperbolehkan untuk berdebat mengajukan argumentasi, bisa juga mendatangi lembaga-lembaga terkait seperti DPR, Kepolisian, dll untuk menyatakan sikap. Dan semua itu ditempuh oleh ormas Islam, tidak ada yang menyimpang dari aturan. Masalahnya justru datang dari pihak yang berseberangan, melalui media massa yang mendukung mereka lalu dilontarkan isu panas yang sebenarnya belum menjadi kenyataan, soal tindakan anarkis, pemaksaan, kekerasan. Kekhawatiran akan terjadinya perbuatan ini diangkat seolah-olah ini sudah terjadi. Ormas Islam mendatangi DPR dengan santun dan ingin berdialog, bahkan banyak dari mereka adalah ibu-ibu majelis taklim, lalu Ruhut Sitompul berteriak-teriak :”Jangan anarkis..!! Jangan anarkis..!!”, memberikan kesan bahwa tindakan anarkis sudah terjadi. Hal lain yang paling hangat diangkat media sekuler adalah soal informasi 157 anggota FPI Bekasi telah memiliki tiket konser, dengan tujuan untuk menghentikan konser tersebut kalau memang tetap diizinkan. Entah kehilangan ketajaman naluri jurnalisnya, atau karena memang sudah niat untuk memblow-up citra buruk dari umat Islam yang menolak, informasi ini ditelan dan sering  diulang-ulang  para pembawa acara untuk menyatakan pihak ormas Islam sudah melakukan pemaksaan. Kalau kita lihat dengan cermat, informasi tersebut hanyalah tentang seorang pimpinan wilayah FPI yang menyatakan di Facebooknya bahwa pihak mereka sudah memiliki 157 tiket konser, lalu dilengkapi dengan foto seorang yang menutup wajahnya ala pejuang Palestina memegang 1 tiket konser, entah memang dia beli atau meminjam tetangga, tujuannya untuk melakukan gertakan. Naluri jurnalistik para wartawan media sekuler memang menjadi tumpul, sama sekali tidak mendalam kebenaran informasi tersebut, termasuk dengan mengajukan pertanyaan kritis : untuk membeli 157 tiket dengan rata-rata harga 400 ribu rupiah dibutuhkan sekurang-kurangnya uang 60 juta rupiah, apakah mungkin FPI mau keluar uang sebanyak itu untuk melakukan pencegahan agar konser tidak terjadi..?, lalu tidak dilakukan verifikasi siapa saja 157 orang tersebut, apakah memang anggota FPI yang sengaja beli tiket untuk mengacau, atau anggota FPI mbalelo yang memang mau nonton konser, atau masyarakat biasa yang tidak punya afiliasi dengan ormas manapun. Informasi mentah tersebut ditelan saja, mungkin karena dianggap sudah bisa memojokkan, lalu digembar-gemborkan bahwa sudah terjadi ancaman dan anarkisme.

Demikian juga dengan pidato-pidato tokoh ormasi Islam yang menyatakan akan menduduki Gelora Bung Karno seandainya konser jadi dilaksanakan. Ini juga disambar oleh media sekuler tanpa berpikir bahwa seandainya kepolisian sudah memberikan izin, mana mungkin mereka diam saja membiarkan tindakan ini..?? Polisi tentu saja punya kekuatan untuk menetralisirnya sebelum konser dilakukan, membersihkan wilayah dari siapapun yang akan melakukan tindakan yang sudah sah menurut hukum. Media sekuler mendadak menjadi kehilangan kemampuan profesionalnya untuk mendalami kemungkinan ini, mengabaikan seolah-olah pihak kepolisian tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi ormas Islam ini, melupakan sejarah bahwa orang-orang FPI lengkap dengan Habib Rizieq pernah juga ditangkap polisi langsung dimarkas mereka di Petamburan. Kelihatannya karena melihat informasi ini sangat mendukung keberpihakan media sekuler untuk ‘meng-kongkrit-kan’ apa yang sudah terdapat dalam kepala mereka, maka tindakan melengkapi fakta-fakta tersebut tidak perlu dilakukan. Inilah kemudian yang ditangkap oleh management Lady Gaga yang pasti mengikuti perkembangan informasi ditanah air, termasuk dari promotor yang memang sedang mencari alasan untuk membatalkan konser karena sudah tidak sanggup lagi mengatasi keadaan.

Maka faktor keamanan karena tindakan pihak yang menentang konser Lady Gaga tersebut hanyalah merupakan persepsi yang ingin dibentuk oleh pihak yang menentangnya melalui pemberitaan media yang mendukung. Persepsi inilah yang ditangkap oleh management Lady Gaga, sehingga mereka kemudian memutuskan untuk membatalkan konser di Jakarta dengan alasan keamanan. Jadi sebenarnya batalnya konser tersebut bukanlah karena alasan keamanan, melainkan si Lady-nya sendiri yang merasa tidak aman, karena menerima input pemberitaan dari media yang sebenarnya berpihak kepadanya.

Ini menjadi pelajaran bagi umat Islam yang telah memutuskan untuk melakukan amar makruf nahi munkar. Peristiwa Lady Gaga ini merupakan suatu pertempuran antara yang haq melawan yang bathil, dan pihak yang berpegang kepada kebathilan sudah lumrah selalu berada dalam ketakutan, termasuk ketakutan yang dibangunnya sendiri. Sudah ‘bawaan badan’ ketika seseorang melakukan perbuatan atas dasar kebathilan dan kemungkaran, maka mereka selalu berada dala kegamangan karena seolah-olah berpegang kepada buhul tali yang tidak kuat. Ini akan selalu terjadi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s