Suara rakyat BUKAN suara Tuhan..

Dua orang, bapak dan anak, membawa seekor keledai ke pasar untuk dijual. Ketika mereka baru keluar dari rumah muncul masalah bagaimana cara membawa keledai tersebut karena banyak alternatifnya. Si bapak dan anak lalu memutuskan; bapak yang naik ke punggung keledai, si anak berjalan menuntun mengingat anak memang harus menghormati orang-tua. Di perjalanan mereka bertemu dengan serombongan ‘rakyat’, lalu rakyat bersuara :”Dasar bapak tidak tahu diri, mosok dia enak-enak duduk dipunggung keledai dan membiarkan anaknya capek berjalan..”. Karena ‘suara rakyat adalah suara Tuhan’ maka si bapak dan anak tersebut merasa tidak enak dan merasa bersalah, lalu mereka melakukan alternatif lain, sekarang anak yang duduk dipunggung keledai, dan bapaknya berjalan menuntun. Di perjalanan mereka kembali bertemu dengan ‘rakyat’, lalu rakyat tersebut bersuara:”Dasar anak tidak tahu diri, dia enak-enak saja duduk dipunggung keledai membiarkan bapaknya kelelahan berjalan..”. Karena ‘suara rakyat adalah suara Tuhan’, kembali hal ini membuat keduanya menjadi tidak enak dan merasa bersalah. Si bapak lalu berbicara kepada anaknya ;”Marilah kita berdua naik ke punggung keledai ini, agar tidak ada lagi ‘suara Tuhan’ yang akan menyalahkan kita, mereka lalu menaikinya berdua. Di perjalanan mereka kembali bertemu dengan ‘rakyat’ dan rakyatpun mengeluarkan suaranya :”Dasar bapak dan anak tidak tahu diri, bagaimana mungkin mereka tega menduduki seekor keledai berdua..??”. Akhirnya sepasang bapak dan anak ini menjadi kebingungan, rakyat sudah bicara, artinya Tuhan sudah bicara melalui suara yang disampaikan oleh rakyat tersebut , si bapak mengeluh putus-asa, dan dia bicara kepada anaknya :”Nak.., untuk terakhir kalinya hanya ada 1 alternatif, kita sudah berusaha untuk mengikuti suara rakyat, maka alternatif ini harus kita pakai agar tindakan kita bisa sejalan dengan keinginan rakyat tersebut”, lalu bapak dan anak bekerjasama, mereka memanggul keledai tersebut berdua…

Di perjalanan mereka kembali bertemu dengan rakyat, anda tahu apa suara rakyat ketika melihat kelakuan sepasang bapak dan anak ini..?? rakyat bersuara :”Kita tidak bisa lagi melihat perbedaan diantara mereka, mana yang manusia dan mana yang keledai…”
Continue reading

Pelajaran dari Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir..

Kisah ini dimulai Al-Qur’an dengan pernyataan nabi Musa terhadap seorang murid yang mengikutinya, bahwa dia bertekad tidak akan berhenti melakukan pengembaraan untuk menemukan seseorang, tempat dia akan belajar dan mendapatkan ilmu yang tidak dia ketahui [QS 18:60]. Tidak dijelaskan apa sebab musabab nabi Musa melakukan pengembaraan ini, beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa sebelumnya nabi Musa pernah ‘kelepasan omong’ menyatakan kepada murid-muridnya bahwa sebagai seorang nabi dan rasul dia telah diberikan ilmu yang melebihi siapapun di dunia. Allah lalu menegur kesombongan ini dan memerintahkan nabi Musa untuk mencari seorang guru yang akan membuktikan, bahwa ilmu yang dibangga-banggakan nabi Musa tersebut sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan yang dimiliki oleh orang tersebut. Ketika perjalanan nabi Musa sampai kepada pertemuan dua lautan, terjadi keajaiban, ikan goreng bekal makanan yang dibawa tiba-tiba hidup dan melompat kelaut, ini merupakan pertanda bahwa ditempat itulah beliau akan menemukan orang yang dimaksud [QS 18:61-65]. Singkat cerita ketika nabi Musa telah menemukannya (sebagian ahli tafsir sepakat bahwa orang yang dimaksud adalah nabi Khidir, seorang nabi ‘idola’ dari kaum sufi Islam karena dianggap memiliki ilmu-ilmu ghaib yang tidak masuk akal, untuk selanjutnya saya menyebutnya dengan nabi Khidir) lalu nabi Musa meminta untuk mengikuti nabi Khidir agar bisa mendapat pelajaran tentang ilmu yang tidak dimilikinya. Saya kutip secara lengkap :

[18:66] Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” [18:67] Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. [18:68] Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” [18:69] Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”. [18:70] Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.
Continue reading