Al-Qur’an dan budaya Arab

Sejarah Islam mencatat bahwa proses turunnya ayat-ayat Al-Qur’an terjadi berangsur-angur selama hampir 23 tahun, mulai ketika Rasulullah bertahannuts – menyepi di gua Hira. Ayat-ayat yang diturunkan punya karakter yang bermacam-macam, kadang terkait dengan persoalan pribadi orang-perorang seperti perintah untuk beriman, bersikap sabar, jujur,  sampai kepada aturan kemasyarakatan. Tidak jarang ada ayat yang dimulai dengan ‘mereka bertanya kepadamu tentang’, yang artinya ayat tersebut baru diwahyukan sebagai reaksi adanya persoalan yang terdapat ditengah masyarakat. Para sahabat bertanya tentang perang dibulan haram, harta yang dinafkahkan, kiamat, bahkan tentang haid, lalu Allah menurunkan ayat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Al-Qur’an juga banyak memakai istilah dan terminologi yang ada dalam kehidupan sosial yang ada, misalnya soal perdagangan, makanya kita menemukan banyak istilah tentang jual-beli, hutang, timbangan, pinjaman, dll, karena masyarakat Mekkah pada waktu itu memang kebanyakan hidup dari berdagang, surat Quraish misalnya bercerita tentang kegiatan kabilah-kabilah dagang dari Makkah yang melakukan perjalanan ke utara dan selatan untuk melakukan transaksi bisnis. Berdasarkan kenyataan ini kemudian muncul pendapat dari kalangan orientalis yang sangat sering dikutip oleh orang-orang liberal, bahwa Al-Qur’an muncul sebagai cerminan budaya Arab yang ada pada waktu itu, direkam oleh nabi Muhammad menjadi suatu ajaran.

Continue reading

Advertisements