Lihat jempol cewek saja sudah nafsu…

Dari dulu orang-orang selalu ribut tentang batas aurat, mana yang bisa dikategorikan sebagai suatu bentuk pornografi atau pornoaksi dan mana yang tidak. Inul Daratista bisa saja bilang gerakan ngebor yang dilakukannya tidak lebih hanya merupakan gerakan yang ‘enerjik’, namun  bang Haji Rhoma Irama dengan tegas mengatakan itu perbuatan yang sengaja mengundang syahwat. Orang-orang ribut foto telanjang Anjasmara ala Adam dan Hawa di surga, para seniman bilang itu hanyalah pengungkapan suatu nilai seni. Umat Islam mengatakan jilbab – menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan – diwajibkan agar kaum wanita terpelihara dari tindakan pelecehan oleh kaum laki-laki , pihak yang menentang bilang :”Jilbab tidak berguna, ngeliat jempolnya doank gue bisa nafsu koq..”. Yang lainnya mengatakan :”Belum tentu laki-laki bakalan terangsang lihat cewek pakai bikini atau bahkan telanjang sekalian, itu tergantung pikirannya kotor atau tidak…”. Lalu muncul usulan yang seolah-olah bijaksana :”Batas aurat diserahkan saja kepada nilai-nilai kesopanan masyarakat..”, kalau ini yang dilakukan maka orang Papua bakalan ribut dengan orang Jawa karena batas kesopanan di Papua cukup ditutup dengan koteka, sesuatu batasan yang tidak akan pernah diterima di Jogyakarta.

Continue reading

Advertisements

Mendengar musik, memang enak koq…

Agak sulit kita menempatkan kedudukan musik dan nyanyian dalam ajaran Islam. Kajian fiqih menunjukkan terjadi perbedaan pendapat para ulama untuk menyatakan musik atau nyanyian sebagai sesuatu yang diperbolehkan atau dilarang, halal atau haram, semuanya punya dalil-dalil yang kuat. Tercatat dalam hadits, suatu ketika Rasulullah mengingatkan tentang bahayanya musik dan nyanyian, pada saat lain tidak mempermasalahkan ketika ada yang bermain musik, bahkan ada catatan beliau malah memerintahkan menabuh rebana ketika mengumumkan suatu pernikahan. Saya sampaikan contohnya :

Sesungguhnya akan ada di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutera, arak, dan alat-alat musik (al-ma’azif).” [HR. Bukhari, Shahih Bukhari, hadits no. 5590].

Ruba’i Binti Mu’awwidz Bin Afra berkata: Nabi Saw mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang yang mati syahid pada perang Badar. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata: “Di antara kita ada Nabi Saw yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.” Maka Nabi Saw bersabda: “Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” [HR. Bukhari, dalam Fâth al-Bârî, juz. III, hal. 113, dari Aisyah ra].

Continue reading