Sahabat dalam dosa, musuh di neraka..

Pengadilan para koruptor di negeri ini memberikan bukti kepada kita bahwa tidak ada persahabatan sejati dalam kemaksiatan dan kemungkaran. Ketika seorang tertuduh kasus korupsi diseret ke pengadilan, dia akan segera mempertahankan diri dengan cara berusaha mengalihkan sasaran tembak kepada orang lain yang terlibat, minimal berupaya untuk tidak dihukum sendirian. Persahabatan yang dijalin dalam kemungkaran memang memiliki bentuk ikatan yang sangat rapuh karena sudah kodratnya, menjadi terkesan akrab dan baik karena sama-sama mendapat keuntungan. Ketika keuntungan sudah tidak lagi ada, maka jalinan kekompakan tersebut juga akan hancur berantakan. Korupsi yang dilakukan berjamaah (dan umumnya memang selalu dilakukan berjamaah) memunculkan ‘rasa persahabatan’ yang erat antara pelaku-pelakunya, ada sikap saling melindungi dan menutup kuat rahasia, karena semuanya mendapat manfaat dan bagian masing-masing. Kalau bisa sikap saling menjaga dilanjutkan sampai akhir hayat. Siapa sih yang mau mengambil resiko membuka rahasia..?? karena pelaku-pelakunya juga sadar akan menyeret semua pihak yang terlibat, termasuk dirinya sendiri. Lalu disaat mereka bernasib sial, perbuatannya terbongkar, mungkin mulai dari satu orang, maka tidak pernah kejadian orang tersebut akan ‘menelan’ sendiri semua penderitaan, sedangkan koleganya yang lain selamat meneruskan hidup menikmati harta hasil korupsi tersebut, kecuali mungkin diantara mereka ada deal yang dirasakan bisa menutupi pengorbanannya sebagai kompensasi, itupun pasti membutuhkan ongkos yang tidak sedikit. Makanya dalam suatu skenario korupsi, setiap oknum didalamnya pasti sudah memasang jerat yang saling mengikat satu-sama lain, sebagai ‘kunci pengaman’ kalau kelak kebusukan tidak bisa lagi ditutupi. Ini adalah suatu tindakan yang masuk akal…

Continue reading

Advertisements