Bagaimana menilai jihadnya para ‘teroris’ Islam..

Boleh dikatakan hampir semua Muslim mengetahui tentang perang Uhud, salah satu perang yang dilakukan oleh Rasulullah dan pengikutnya setelah kemenangan gemilang perang sebelumnya, perang Badar. Pada awalnya, dengan strategi yang jitu menempatkan para pemanah di suatu bukit sehingga kelebihan jumlah pasukan musuh menjadi tidak berguna akibat bertempur pada front yang terbatas, membuat musuh mati kutu dan mengalami kekalahan. Namun kemenangan yang diperoleh pasukan Muslim hanyalah sementara karena para pemanah yang ditempatkan di bukit tidak mampu menahan dorongan hawa nafsunya untuk ikut merebut pampasan perang yang ditingggalkan musuh, mereka lalu meninggalkan posisi dan membuat area pertempuran kembali terbuka. Kita juga mengetahui kisah selanjutnya, ketika pasukan Quraisy berbalik melewati jalur yang terbuka tersebut, menyerang pasukan Muslim yang sibuk memungut harta pampasan perang. Tercatat 70 tentara Muslim tewas dalam pertempuran, tentunya termasuk para pemanah yang telah meninggalkan pos mereka.

Pertanyaan muncul :”Apakah para pemanah yang telah lalai dan melanggar perintah Rasulullah tersebut bisa dikatakan mati syahid..?”. Boleh jadi ketika mereka berangkat dari Madinah dihati mereka tertanam kerelaan dan keikhlasan untuk berjuang dijalan Allah, sekalipun dengan resiko harus tewas di medan pertempuran. Semangat dan niat tersebut tentu masih ada ketika mereka menempatkan posisi sebagai pemanah. Namun kita bisa menduga bahwa ketika mereka meninggalkan pos mereka untuk ikut ‘cawe-cawe’ memungut harta pampasan perang, mungkin ada niat yang berubah dalam hati, dan pada saat itulah mereka kemudian ikut tewas dalam pertempuran. Lalu apakah kemudian Rasulullah memberikan statement bahwa mereka tidak mati syahid..?? bahwa mereka telah melakukan ‘jihad yang salah’..??, tidak ada catatan adanya pernyataan Rasulullah tersebut, yang ada justru hadist yang mengatakan Rasulullah memperlakukan jenazah mereka sebagai orang-orang yang mati syahid :

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra. : bahwa Nabi Muhammad Saw mengumpulkan setiap dua orang yang mati syahid dalam perang Uhud di dalam selembar kain, kemudian bertanya, “siapa di antara mereka yang lebih mengetahui tentang Al Quran?” ketika salah seorang dari mereka ditunjukkan, Nabi Muhammad Saw memasukkan orang itu terlebih dahulu ke dalam kubur dan berkata, “aku akan bersaksi untuk mereka di hari kiamat”. Nabi Muhammad Saw memerintahkan untuk mengubur mereka tanpa membersihkan darah mereka lebih dahulu dan Nabi Muhammad Saw tidak memandikan maupun menshalatkan mereka.

Secara ‘kasat mata’ kita tentu bisa memberikan penilaian bahwa tindakan para pemanah yang meninggalkan pos mereka tersebut merupakan suatu kesalahan. Dari kisah tersebut kita bisa mencatat bahwa Rasulullah sendiri tidak menghakimi, apakah seseorang melakukan jihad atau tidak, apalagi memberikan penilaian tentang ‘jihad yang benar atau yang salah’. Kalaulah waktu itu Rasulullah memberikan penilaian soal jihad atau tidak, maka tentu akan ada suatu riwayat yang menceritakan prosesi pemakaman yang berbeda, minimal Rasulullah akan membagi dua model pemakaman, yang satu untuk para sahabat bukan pemanah yang syahid, dan yang satu lagi proses penguburan ‘model biasa’ untuk jenazah para pemanah karena dinilai tidak mati syahid. Jadi apa yang dilakukan Rasulullah terbatas kepada penilaian bahwa semua yang tewas dalam pertempuran tercakup kedalam suatu rombongan yang berangkat dari Madinah, dibawah komando Rasulullah dan berperang untuk membela agama Allah. Sebagai seorang manusia, Rasulullah hanya bisa menilai perbuatan orang dari BENTUKnya saja. Lalu apakah mereka dikatakan mati syahid dan masuk surga atau tidak..?? siapa yang tahu..??

Kata ‘jihad’ banyak terulang dalam Al-Qur’an mengesankan tentang adanya “perjuangan secara sungguh- sungguh mengerahkan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan”, dan kalau didalami lebih lanjut, kata ini terkait dengan adanya pengorbanan atas suatu usaha yang kita lakukan.

[4:95] Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa perbedaan antara orang yang berjihad dan yang tidak berjihad terletak kepada ‘pengorbanan’ harta dan nyawa.

Biasanya, kata ‘jihad’ selalu disandingkan dengan ‘fii sabilillaah’ = di jalan Allah, menunjukkan bahwa ‘jihad’ tersebut sebenarnya adalah suatu yang netral. Salah atau benarnya suatu perbuatan tidak terkait dengan adanya ‘jihad’ atau tidak, tapi dinilai berdasarkan bentuk perbuatannya, dan penghakiman manusia terhadap bentuk perbuatan juga tidak berbanding lurus dengan nilai perbuatan tersebut adalah jihad atau tidak, keduanya merupakan hal yang sama sekali tidak berkaitan. Anda mengatakan perbuatan seseorang ‘tidak fii sabilillaah’, namun penilaian tersebut tidak menjelaskan apakah orang tersebut telah berjihad atau tidak, sebaliknya ketika anda mengatakan perbuatannya ‘fii sabilillaah’, anda juga tidak bisa memastikan apakah orang tersebut memang sedang berjihad sehingga ketika dia mati, anda bisa pastikan akan masuk surga.

Kata ‘jihad’ juga sering dikaitkan dengan perbuatan berperang, sekalipun dalam terminologi Islam, jihad tidak hanya terkait dengan hal tersebut. Ini disebabkan karena perang adalah satu bentuk perbuatan yang ‘sangat nyata’ dalam memberikan pengorbanan harta dan nyawa. Saya menulis di forum ini dengan niat berjihad di jalan Allah, namun pengorbanan yang saya berikan mungkin hanya terbatas kepada pengorbanan waktu dan duit buat bayar koneksi internet, bahkan hal tersebut sering ‘tidak terasa’ karena kebetulan saya memang lagi menganggur. Lain hal ketika saya ingin berjihad dengan mengasah pedang, hendak maju ke medan pertempuran melawan musuh yang ingin membunuh saya, maka pengorbanan yang akan saya berikan akan saya rasa sangat besar. Al-Qur’an banyak mengkaitkan kata ‘jihad’ dengan ‘perang’ karena bentuk perbuatan tersebutlah yang ‘paling ekstrim’ untuk menjelaskan soal pengorbanan.

Dalam Al-Qur’an kata ‘jihad’ ini tidak hanya disandingkan dengan suatu perbuatan di jalan Allah saja, tapi juga terkait dengan tindakan yang menyimpang dari jalan Allah, misalnya pada QS 29:8 dan QS 31:15,

wawashshaynaa al-insaana biwaalidayhi husnan wa-in jaahadaaka litusyrika [29:8] Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu ,= berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mempersekutukan Aku..

wa-in jaahadaaka ‘alaa an tusyrika bii maa laysa laka bihi ‘ilmun [31:15] Dan jika keduanya memaksamu = berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu,..

Setelah menempatkan istilah ‘jihad’ pada posisinya yang benar, maka kita bisa melanjutkan dengan mengkaitkannya dengan contoh-contoh perbuatan yang kita temukan di jaman sekarang ini. Pertanyaannya adalah : Bagaimana menilai suatu perbuatan sekelompok orang yang melakukan bom bunuh diri di tempat umum, seperti restoran, hotel, di jalanan, dll dengan tujuan ‘berjihad’ di jalan Allah..?? apakah mereka benar mati syahid atau tidak..??

Pertama, ijinkanlah saya mengatakan bahwa atribut ‘jihad’ yang disematkan terhadap perbuatan orang-orang tersebut adalah datang dari mereka sendiri, dan keyakinan akan masuk surga karena tewas bersama bom yang mereka ledakkan di tempat umum juga datang dari mereka sendiri. Tentu saja kita tidak bisa memastikan apakah mereka memang masuk surga atau tidak, tidak ada seorangpun yang bisa memastikan :”Ooo..dia nggak bakalan masuk surga…”, atau sebaliknya :”Sudah pasti laah..bakal masuk surga..”, bahkan ketika hal tersebut datang dari ‘atasan’ mereka sendiri, yang telah melakukan ‘indoktrinasi’ sehingga mereka memiliki keyakinan yang kuat akan masuk surga.

Penilaian yang bisa kita lakukan hanyalah menentukan benar atau salah BENTUK perbuatan mereka, apakah merupakan perbuatan ‘fii sabilillaah’ atau sebaliknya ‘bukan fii sabilillaah’. Sebuah bom yang sengaja diledakkan di tempat umum, pasti punya sasaran untuk mematikan semua orang yang kebetulan berada disana, tidak peduli siapa orangnya, apakah muslim atau bukan, kalau bukan Muslim, apakah memusuhi Islam atau tidak. Maka ketika bom tersebut menewaskan sesama saudara Muslim, kita bisa mengkategorikannya merupakan ‘pembunuhan yang disengaja’ oleh seorang Muslim terhadap Muslim yang lain, dalam hal ini berlaku aturan Al-Qur’an :

[4:93] Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.

Apakah masih perlu kita memelintir pengertian ayat ini..?? semuanya tertulis dengan jelas. Bahkan Al-Qur’an juga memberikan gambaran bahwa membunuh siapapun dengan alasan yang tidak jelas adalah suatu kedzaliman :

[5:32] Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya

412. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.

412: Hukum ini bukanlah mengenai Bani Israil saja, tetapi juga mengenai manusia seluruhnya. Allah memandang bahwa membunuh seseorang itu adalah sebagai membunuh manusia seluruhnya, karena orang seorang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang berarti juga membunuh keturunannya.

Ketika bom JW Marriott dan Ritz Carlton, menewaskan beberapa orang non-Muslim (berdasarkan asumsi bahwa si pelaku memang sekelompok orang yang sedang memperjuangkan/membela Islam) , kita seharusnya bertanya kepada mereka sebelumnya :’Apakah anda memusuhi Islam..?? apakah anda melakukan tindakan-tindakan yang menyerang Islam..??”, bahkan pertanyaan ini terasa sangat sumir kalau kita tujukan kepada saudara-saudara kita yang Muslim, yang juga tewas dalam pengeboman tersebut.

Marilah kita berandai-andai, katakanlah saat ini Indonesia memberlakukan syari’at Islam dengan Amirul Mukminin yang terpercaya seperti para Khulafah Rasyidin, apakah yang akan diputuskan terhadap pelaku pembunuhan ini..?? menurut saya, mereka tentu akan memberlakukan hukum Islam juga :

[2:178] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.

Apakah mungkin seorang Khalifah yang berusaha menegakkan syari’at Islam akan memberikan ‘dispensasi’ terhadap peledakan bom yang dilakukan di tempat umum dan bertujuan untuk membunuh siapapun yang ada disitu, hanya karena pelakunya menyatakan perbuatan mereka adalah ‘jihad fi sabililaah’..?? tentu saja hukum Islam tidak akan mempedulikan pengakuan mereka soal jihad, berjihad atau tidak itu urusan mereka dengan Allah, hukum Islam akan dijatuhkan berdasarkan penilaian apakah perbuatan mereka merupakan ‘fii sabilillah’ atau bukan. Al-Qur’an menyatakan dengan jelas dilarang membunuh manusia tanpa alasan, dilarang membunuh sesama Muslim dengan sengaja, sedangkan BENTUK perbuatan yang ada : membunuh dengan sengaja dan tanpa alasan yang terkait dengan si korban, maka itu jelas bukan fii sabililaah.

Berikut ini saya ingin menyampaikan pikiran saya terkait dengan penyebab adanya se kelompok Muslim yang melakukan peledakan bom di tempat umum sebagai salah satu bentuk perjuangan mereka menegakkan ajaran Allah..

Terlihat adanya kesan ‘keputus-asaan’ terhadap pertolongan Allah dalam melakukan perjuangan. Saat ini dunia Islam memang menghadapi lawan yang ‘tidak berbentuk’, penyerangan terhadap Islam sering ‘dibungkus’ jargon-jargon yang sebaliknya : damai, kasih, hak azazi, demokrasi, kebebasan berpendapat dan disisi lain terlihat perbuatan mereka sedikit demi sedikit telah merusak tatanan masyarakat, sehingga makin jauh dari nilai-nilai Islam. Disamping kekuatan, teknologi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki pihak musuh dinilai sangat besar untuk dilawan secara ‘berhadap-hadapan’.

Kondisi ini kelihatannya membuat sebagian Muslim merasa terpojok dan mencari segala cara untuk mengadakan perlawanan. Akibat musuh yang tidak jelas, maka segala sesuatu yang ‘berbau musuh’ akan dihabisi. Padahal Al-Qur’an menasehatkan bahwa bagaimanapun hebatnya tipu-daya musuh-musuh Islam, Allah tidak akan membiarkan mereka meraja-lela :

[3:120] Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.

[4:76] Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.

[8:18] Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir.

[8:30] Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.

[9:48] Sesungguhnya dari dahulupun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya.

[13:42] Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu.

[27:70] Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka, dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap apa yang mereka tipudayakan”.

Serangan musuh yang licik dan pengecut seharusnya tetap harus dilawan dengan cara yang hati-hati dan mempetimbangakan SEMUA aturan Allah, baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadist, bukan hanya mengambil dasar sebagian-sebagian saja. Mungkin kelihatannya kita telah berperang dengan cara yang dinilai ‘terlalu naif’ berdasarkan pandangan manusia, namun belum tentu ‘naif’ dalam pandangan Allah. Musuh-musuh Islam punya sumber daya yang luar biasa, namun Allah sudah menjanjikan hal tersebut tidak akan berarti untuk menghancurkan Islam. Allah sudah menjanjikannya dalam Al-Qur’an, tergantung tingkat keyakinan kita sehingga kita tetap bisa istiqomah/konsisten dalam melakukan bentuk perjuangan yang benar-benar mempertimbangan semua aturan Allah tersebut.

Pertanyaan sering muncul, baik dari umat Islam maupun pihak non-Muslim :”Apakah si pelaku pengeboman bisa dikatakan telah berjihad atau tidak..??”, atau pertanyaan yang lebih konyol :”Apakah yang dilakukan merupakan jihad yang benar atau jihad yang salah..??”. lalu pihak Islam terbawa untuk menjawab pertanyaan tersebut ‘menari dalam irama gendang yang dilakukan orang’, ada yang bilang itu jihad dan ada juga yang mengatakan itu bukan jihad, bahkan sebagian ulama perlu repot-repot mengeluarkan fakwa untuk itu, seolah-olah yang menjawab mengerti betul bagaimana nasib si pelaku pengeboman setelah mereka tewas. Umat Islam seharusnya tidak perlu menggubris soal ini, karena sebaiknya semua energi kita perlu kita pakai untuk menyadarkan umat, memberikan pengertian tentang mana suatu perbuatan dikategorikan sebagai ‘fii sabilillah’ dan mana yang bukan..

3 responses

      • @teas,
        Ini blognya mas Teas ya ?

        Semuanya bedasarkan niat, dan yang tahu itu cuma Allah semata dan orang yang melakukan. Tetapi tidak semua niat baik itu akan berakibat baik.
        misalkan bisa jadi kita berniat shalat dari pagi sampai sore karena kita betul2 beribadah untuk Allah, tetapi ada waktu2 tertentu kita tidak boleh shalat, misalkan setelah shalat ashar.

        Kembali ke niat yang cuma di ketahui oleh orang tersebut dan Allah, seperti kejadian bom bunuh diri ditempat umum, soal itu amal ataupun dosa biarlah Allah yang menentukan, tetapi dari sisi kemanusian saya mengutuk hal-hal seperti itu. dan ini pendapat pribadi saya mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s