Shalat berjamaah; all for one, one for all..

Mumpung lagi ribut soal sepakbola piala Eropah, kesempatan saya ingin bicara soal sepakbola…

Dalam suatu kesebelasan yang sedang bertanding, faktor perubahan kondisi setiap pemain selalu menentukan. Lumrah dalam jangka waktu 2 x 45 menit seorang pemain punya performance yang tiba-tiba menurun dalam beberapa menitnya, lalu pada masa selanjutnya mendadak menjadi ‘beringas’, demikian silih berganti untik setiap pemain. Bisa terjadi ketika si striker dalam kondisi letih lesu, gelandang menyerangnya yang ‘on-fire’, maka serangan dan tendangan ke arah gawang lawan akan banyak dilakukan oleh si gelandang menyerang tersebut. Lalu pada menit-menit berikutnya keadaan berubah, giliran striker yang segar-bugar, si gelandang yang ‘adem-ayem’, si striker yang bakalan dikasih umpan-umpan matang untuk menjebloskan gawang lawan. Pemain sayap kiri mendadak bengong, serangan dialirkan lewat sayap kanan, giliran yang kanan mandeg, bola lebih sering dioper ke pemain kiri. Disitulah letak dinamika suatu team kesebelasan, sehingga pertandingan enak ditonton. Ketika suatu kesebelasan mampu mengelola dinamika turun-naiknya performance para individu yang terlibat didalamnya, maka hasil akan dicapai berupa kemenangan yang manis. Siapa yang akan menikmati kemenangan tersebut..?? seluruh pemain, bahkan  pemain cadangan juga ikut. Ketika pemilik club memberikan bonus sebagai hadiah atas kemenangan tersebut, semuanya kebagian, semuanya happy..

Sekarang mari kita berpindah kepada shalat berjamaah. Orang-orang pasti paham bahwa ketika melakukan shalat, apakah itu sendirian atau berjamaah, seorang Muslim juga akan mengalami turun-naiknya ‘performance’, kita akan mengatakannya ‘tingkat kekhusu’an’. Dalam mengerjakan shalat kadang-kadang kita bisa berkonsentrasi, merasakan kehadiran Allah yang mengamati, lalu pada menit-menit berikutnya pikiran melayang entah kemana, lalu balik lagi untuk kembali khusu’ mendekat kepada Allah. Tidak ada seorangpun dalam shalatnya yang bisa khusu’ terus-menerus, sebaliknya juga tidak juga ada orang yang melamun melulu, pasti antara khusu’ dan melamun terjadi silih-berganti. Ketika anda mengerjakan shalat sendirian, saat-saat khusu’ menjadi milik anda, sama juga ketika anda melamun maka itu juga menjadi tanggungan anda. Katakanlah dalam waktu shalat yang berjalan 10 menit, diantaranya 5 menit anda pakai buat melamun, sisanya bisa anda lakukan dengan khusu’, maka nilai shalat anda tersebut hanyalah 50% saja, itu hitung-hitungan diatas kertasnya.

Sekarang silahkan langkahkan kaki anda ke masjid ketika mendengar adzan berkumandang. Begitu memasuki pintu masjid kita sudah berkumpul dengan anggota ‘kesebelasan’ kita, semuanya siap-siap untuk ‘kick-off’ memulai pertandingan. Dalam masa-masa shalat berjamaah, anda mengalami hal yang sama seperti ketika melakukan shalat sendirian, kadang khusu’ ingat Allah, pada menit berikut melamun ingat pintu rumah yang belum dikunci, air kran yang lupa ditutup, televisi yang belum sempat dimatikan. Lalu menit berikutnya kembali bisa khusu’ lagi. Demikian juga dengan rekan ‘team’ anda yang lain, mereka juga mengalami hal yang sama, silih berganti dengan anda. Ketika anda khusu’, jamaah disebelah anda yang melamun, ketika dia khusu’ giliran anda yang melamun. Namun nilai shalat berjamaah anda dihitung secara kolektif karena anda melakukannya memang dengan niat mau menghadap Allah bersama-sama, dengan gerakan yang sama, dengan komando yang sama, bahkan untuk peranan sebagai ‘juru bicara’ kepada Allah, semuanya sudah mewakilkan kepada sang komandan, imam shalat. Maka melamunnya ada akan ditutupi oleh khusu’nya jamaah disebelah anda, demikan sebaliknya. Bisa dipastikan secara kolektif anda dan semua jamaah shalat akan ‘bahu-membahu’ untuk menjadikan shalat berjamaah mendapat nilai yang sempurna dimata Allah. Tentu saja ibaratnya ‘reward’ yang diterima oleh suatu kesebelasan sepakbola, hadiah akan diterima oleh keseluruhan ‘pemain’. Allah akan mencurahkan berkah dan rahmat-Nya kepada semuanya secara kolektif. Kelemahan anda akan ditutupi oleh jamaah yang lain, kelemahan yang lain akan sebaliknya juga akan anda tutupi untuk satu tujuan agar bisa dinilai tinggi oleh Allah. Makin banyak jumlah jamaah shalat makin sempurna nilai yang akan diperoleh oleh seluruh jamaahnya, maka logikanya anda akan berusaha untuk mengajak sebanyak mungkin tetangga anda untuk ikut ke masjid, bukan hanya untuk kepentingan anda saja, tapi untuk kebaikan semua orang,  all for one, one for all.

Shalat yang dilakukan berjamaah akan dinilai lebih berkualitas dibandingkan dikerjakan sendiri-sendiri. Dalam bahasa agamanya punya nilai pahala 25 kali atau dalam hadist lain dikatakan 27 kali, berapapun itu, pastilah merupakan jumlah yang banyak.

Sekarang anda tentu bertanya :”Kalau begitu shalat dirumah juga mendapatkan pahala berlipat-ganda kalau dikerjakan berjamaah bersama keluarga..”. Tentu saja shalat berjamaah yang dikerjakan dirumah lebih baik dibandingkan shalat sendirian dirumah. Namun ketika anda bermaksud untuk mengerjakannya di masjid, nilai tambah pahala anda ada pada langkah kaki yang anda lakukan, berbanding lurus dengan jarak antara rumah ke masjid :

Abu Hurairah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.”

Silahkan hitung sendiri keutamaan shalat yang dikerjakan di masjid begitu mendengar suara adzan, sepanjang perjalanan dan disetiap langkah ada nilainya, bahkan ketika duduk menunggu mulainya shalat sudah dinilai dengan pahala shalat itu sendiri, belum lagi jaminan akan kesempurnaan nilai shalat karena dilakukan berjamaah.

Nah…., kalau selama ini anda sudah pernah melakukan shalat berjamaah di masjid di awal waktu tersebut, mungkin sering, atau beberapa kali disaat sempat, pernahkan anda dalam sujud anda, atau juga ketika berdo’a setelah selesai mengerjakan shalat berjamaah, ada do’a yang anda panjatkan khusus untuk rekan-rekan shalat anda..?? Kalau selama ini anda lupa, mulailah melakukannya, sempatkan berdo’a buat mereka :”Yaa..Allah, berkatilah dan rahmatilah saudara-saudara hamba yang telah melakukan shalat bersama-sama, mereka pasti ingin mendapatkan pahala keutamaan beribadah dari Engkau, sehingga mau datang ke masjid untuk berjamaah. Kumpulkanlah kami semua kelak di surga-Mu, semuanya….”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s