Miskin tapi kaya, kaya tapi miskin..

Bagaimana kriteria seseorang bisa dikategorikan sebagai orang miskin..?? PBB menyatakan seseorang dikatakan sebagai miskin apabila punya penghasilan dibawah 2 dollar perhari, atau sekitar 19 ribu rupiah, apabila duit yang masuk kantong anda berjumlah dibawah itu maka PBB akan memandang anda sedang megap-megap menjalani hidup. Sedangkan Badan Pusat Statistik memakai ukuran seseorang yang hanya mampu menyediakan konsumsi untuk dirinya setara dengan 2.100 kalori perhari, apabila anda hanya mampu makan dibawah jumlah tersebut..? BPS akan menilai anda kelaparan.

Namun sebenarnya ukuran kemiskinan sangat subjektif dan tidak jelas. Kita mendengar berita beberapa tahun lalu, anggota DPR yang punya gaji puluhan juta sebulan menjerit-jerit minta kenaikan gaji, mereka merasa sangat miskin karena penghasilan yang kelihatannya besar tersebut sudah dipotong sana-sini, sekian persen harus disetor ke partai, sekian juta untuk melayani konstituen dari dapil masing-masing, belum lagi untuk memenuhi permintaan sumbangan ini-itu yang tidak bisa ditolak. Dengan kondisi demikian anggota dewan menganggap posisi keuangannya menjadi tekor alias defisit, akhirnya mereka berteriak-teriak minta agar gaji mereka ‘disesuaikan’. Kita boleh mengatakan bahwa sebenarnya para anggota DPR sudah termasuk kategori orang miskin.

Continue reading

Advertisements

Proses kehidupan kita berdasarkan utak-atik ayat Al-Qur’an..

Al-Qur’an memakai banyak istilah untuk roh/nyawa/jiwa (untuk selanjutnya saya memakai istilah : nyawa),  sebagai ‘sesuatu yang non-materil’ yang ada dalam diri kita, yang bersatu dengan jasad dan membuat kita menjadi hidup. Kadang-kadang memakai kata ‘nafs’, dilain waktu memakai istilah ‘ruh’. Namun kata ‘nafs’ tidak selalu merujuk kepada unsur non-materil tapi juga bisa dipakai untuk menunjukkan diri manusia secara keseluruhan, baik jasad maupun nyawa yang ada didalamnya, misalnya pada ayat ini :

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. (al-Maadiah 32)

Kata ‘membunuh manusia’ diterjemahkan dari bahasa Al-Qur’an ‘qatala nafsan’ – membunuh nafs – tentu saja yang dimaksud disini bukan nyawanya yang dibunuh, karena nyawa tidak bisa mati, maka kata ‘nafs’ disini berarti manusia secara keseluruhan, manusia hidup yang terdiri dari jasad dan nyawa. Demikian pula dengan istilah ‘ruh’, kata tersebut juga memiliki banyak pengertian, juga diartikan sebagai : malaikat Jibril (al-Qadr 4), Al-Qur’an (asu-Shura 52), rahmat Allah (al-Mujadalah 22), disamping untuk menunjukkan nyawa yang ada dalam diri kita.

Istilah ‘hidup’ diartikan ‘bersatunya nyawa dengan jasad’ sedangkan kata ‘mati’ berarti sebaliknya, yaitu terpisahnya nyawa dengan jasad manusia. Dalam ayat lain Allah menjelaskan soal proses kematian :

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” (al-An’aam 93)

Continue reading