Proses kehidupan kita berdasarkan utak-atik ayat Al-Qur’an..

Al-Qur’an memakai banyak istilah untuk roh/nyawa/jiwa (untuk selanjutnya saya memakai istilah : nyawa),  sebagai ‘sesuatu yang non-materil’ yang ada dalam diri kita, yang bersatu dengan jasad dan membuat kita menjadi hidup. Kadang-kadang memakai kata ‘nafs’, dilain waktu memakai istilah ‘ruh’. Namun kata ‘nafs’ tidak selalu merujuk kepada unsur non-materil tapi juga bisa dipakai untuk menunjukkan diri manusia secara keseluruhan, baik jasad maupun nyawa yang ada didalamnya, misalnya pada ayat ini :

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. (al-Maadiah 32)

Kata ‘membunuh manusia’ diterjemahkan dari bahasa Al-Qur’an ‘qatala nafsan’ – membunuh nafs – tentu saja yang dimaksud disini bukan nyawanya yang dibunuh, karena nyawa tidak bisa mati, maka kata ‘nafs’ disini berarti manusia secara keseluruhan, manusia hidup yang terdiri dari jasad dan nyawa. Demikian pula dengan istilah ‘ruh’, kata tersebut juga memiliki banyak pengertian, juga diartikan sebagai : malaikat Jibril (al-Qadr 4), Al-Qur’an (asu-Shura 52), rahmat Allah (al-Mujadalah 22), disamping untuk menunjukkan nyawa yang ada dalam diri kita.

Istilah ‘hidup’ diartikan ‘bersatunya nyawa dengan jasad’ sedangkan kata ‘mati’ berarti sebaliknya, yaitu terpisahnya nyawa dengan jasad manusia. Dalam ayat lain Allah menjelaskan soal proses kematian :

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” (al-An’aam 93)

Jelas dikatakan ketika seseorang dalam keadaan skharatul maut, maka malaikat mencabut nyawa dengan penggambaran perkataan ‘akhrijuu anfusakum’ – keluarkanlah nafs-mu – untuk menunjukkan proses terpisahnya nyawa dengan jasad, proses ini dikatakan sebagai kematian. Sebaliknya dalam menjelaskan soal ‘kehidupan’, Al-Qur’an menyatakan :

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (as-Sajadah 7-9)

Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa kehidupan manusia dimulai ketika ‘ruh’ ditiupkan kedalam jasad yang sedang dalam proses penyempurnaannya di dalam rahim. Ketika ‘ruh’ tersebut masuk maka saat itu manusia dikatakan sudah menjalani kehidupannya. Terdapat perbedaan ‘cara keluar masuk’ nyawa kita, ketika malaikat mengeluarkannya dari jasad, istilah yang dipakai adalah ‘mencabut’, sedangkan disaat dipersatukan, Al-Qur’an memakai istilah ‘ditiupkan Allah’. Ini menjadi suatu hal yang menarik untuk didalami. Menurut saya, dengan memakai kata-kata ini, Allah memberikan sinyal tentang hakekat nyawa manusia, bahwa ketika nyawa tersebut dipersatukan dengan jasad, ada ‘kedekatan’ yang ingin ditunjukkan Allah antara Dia dengan makhluk-Nya. Allah tidak memakai istilah ‘memasukkan’ atau ‘menempatkan’ ruh kedalam jasad. Kata ‘meniupkan’ memberi kesan antara yang melakukan ‘peniupan’ dengan sasarannya ada koneksi yang sangat kuat. Sebaliknya ketika kata yang dipakai adalah ‘mencabut’, yaitu terpisahnya nyawa dengan jasad, disitu muncul kesan ‘keengganan’ dari manusia untuk melepaskan nyawa tersebut. Lalu ketika Al-Qur’an menceritakan tentang masuknya nyawa kedalam jasad, si Pelakunya merujuk kepada Allah secara langsung, berbeda dengan ketika peristiwa kematian, pihak yang diinformasikan untuk melakukannya adalah malaikat. Juga pemakaian istilah yang berbeda, ketika masuk dipakai kata ‘ruh’, sedangkan disaat keluar digunakan kata ‘nafs’. Apakah ini untuk memberikan kesan bahwa ketika nyawa belum menyatu dengan jasad manusia, dia adalah sesuatu yang murni sebagai hamba Allah yang belum memiliki ‘hitung-hitungan’ pahala dan dosa, lalu ketika dicabut dari jasad dan dipanggil sebagai ‘nafs’, nyawa tersebut sudah ‘terkontaminasi’ oleh segala perbuatan selama hidup di dunia..?? wallahu’alam. Ini hanya kesan yang saya tangkap dari pemakaian istilah Al-Qur’an, anda dipersilahkan untuk merenungkannya sendiri.

Nyawa manusia merupakan sesuatu yang diciptakan Allah dari ketiadaan, sebelumnya tidak ada lalu diadakan. Al-Qur’an menjelaskan :

Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali? ‪(Maryam: 67)

Kata ‘al-insaan’ merujuk kepada manusia secara keseluruhan yang terdiri dari jasad dan nyawa, maka pernyataan ‘sedang ia tidak ada sama sekali’ menunjukkan bahwa baik nyawa dan jasad tersebut dulunya tidak ada, lalu Allah menciptakan menjadi ada.

Perjalanan hidup manusia diinformasikan Al-Qur’an dengan 2 kali pergantian antara hidup dan mati, diabadikan Allah melalui penyesalan orang-orang kafir ketika dihadapkan kepada neraka :

Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” ‪(Ghaafir: 11)

Awalnya manusia dikatakan mati, yaitu dalam kondisi nyawa yang tidak memiliki jasad. Nyawa yang sudah diciptakan Allah tersebut masih ‘menunggu giliran’ untuk ditiupkan kedalam jasad yang akan berproses dalam rahim. Kita diinformasikan bahwa nyawa kita pada saat itu telah mengadakan suatu perjanjian dengan Allah, bahwa kelak ketika sudah disatukan dengan jasad dan menjalani kehidupan maka kita akan menjalankan penghambaan kepada-Nya, menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang pantas untuk disembah :

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, ‪(Al-A’raaf: 172)

Desain manusia telah ditetapkan Allah sebagai makhluk yang beriman, makanya manusia yang terlahir pasti dalam keadaan suci/fitrah. Hadits Rasulullah menyatakan :

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang musyrik.” Lalu seorang laki-laki bertanya: “Ya Rasulullah! Bagaimana pendapat engkau kalau anak itu mati sebelum itu?” Beliau menjawab: “Allah lebih tahu tentang apa yang pernah mereka kerjakan.”

‘Fitrah’ disini diartikan adalah dalam keadaan sebagai seorang Muslim – orang yang berserah diri – makanya ketika dia mulai menjalani proses kehidupan maka lingkungan akan berpotensi untuk ‘melencengkannya’ untuk keluar dari keadaannya sebagai seorang Muslim, menjadi penyembah Tuhan yang lain.

Ketika nyawa sudah ditiupkan dan bersatu dengan jasad, manusia dikatakan sebagai ‘hidup’, inilah kehidupan yang pertama, berjuang untuk membuktikan diri sebagai hamba Allah yang taat kepada perjanjian yang telah dibuat pada fase sebelumnya, terombang-ambing menghadapi cobaan dan ujian, silih berganti antara perbuatan baik dan dosa, meminta ampun dan taubat lalu kembali melakukan maksiat dan perbuatan buruk. Dalam menjalankan proses kehidupan yang pertama ini, Allah tidak melepaskan manusia begitu saja, Dia mengirim utusan, menyampaikan kitab suci, yang harus dijadikan pedoman agar manusia tidak tersesat, Dia memberikan kekuatan dan pertolongan bagi manusia yang meminta tolong kepada-Nya, sehingga apabila akhirnya manusia telah melakukan kesesatan dalam menjalani kehidupannya, itu semata-mata berasal dari pilihan manusia itu sendiri.

Selesai menjalani kehidupan, kita memasuki proses kematian, terpisahnya kembali nyawa dari jasad. Nyawa kita tersebut disimpan dalam ‘ruang tunggu’ di alam barzakh, sedangkan jasad dikembalikan ke bumi, hancur dan musnah dimakan cacing. Proses keluarnya nyawa dari jasad tergantung amalan kita selama hidup. Bagi orang kafir yang ingkar kepada Allah digambarkan :

Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, (an-Naaziat 1)

Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka? ‪(Muhammad: 27)

Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri). ‪(Al-Anfaal: 50)

Sebaliknya bagi orang beriman, Al-Qur’an menyatakan :

dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, ‪(An-Naazi’aat: 2)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. ‪(Fussilat: 30)

(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. ‪(An-Nahl: 32)

Jangan melihat perbedaan ini dari kondisi fisik ketika kematian datang, karena bisa saja mayat orang kafir terbaring nyaman dalam peti mati, tersenyum memakai jas dan dasi kupu-kupu, sebaliknya mayat orang beriman dalam kondisi hancur-lebur di medan perang dengan tubuh penuh luka. Perbedaan pada saat kematian dirasakan oleh nyawa kita, bukan oleh jasad. Ini adalah sesuatu yang masuk akal. Ketika kita hidup dan bergantian merasakan kenikmatan dan kesakitan, sesungguhnya yang merasakan adalah nyawa kita, sedangkan jasad hanyalah sebagai perantara untuk menyampaikan prosesnya. Makanan yang enak diproses melalui mulut dan kerongkongan, lalu sinyal listrik menyampaikan kenikmatannya ke otak, lalu disana diproses dan dirasakan oleh jiwa kita. Demikian pula halnya dengan rasa sakit dan kesengsaraan. Maka perbedaan ketika menjalani proses kematian antara orang kafir dan yang beriman terjadi pada nyawanya.

Alam barzakh merupakan tempat nyawa kita yang sudah terpisah dari jasad, tidak bisa berbuat apa-apa, tidak ada lagi kesempatan untuk menghapus dosa atau sebaliknya mengerjakan dosa baru. Pekerjaan kita hanyalah menunggu sambil diperlihatkan gambaran nasib kita untuk fase berikutnya. Bagi calon penghuni surga, Allah akan ‘memutarkan film’ tentang kehidupan surga. Manusia akan menontonnya dengan penuh kebahagiaan sehingga tidak terasa waktu berlalu, ibarat kita menonton film yang bagus atau pertandingan sepakbola yang seru, tahu-tahu waktunya sudah selesai, ini dinamakan nikmat kubur. Sebaliknya bagi yang bernasib sial menjadi penghuni neraka, maka diputarkan juga film bakal tempatnya kelak. Manusia akan menderita menonton film tersebut sepanjang waktunya di alam kubur, maka itu dinamakan azab kubur. Al-Qur’an menginformasikan ini dengan jelas pada surat Ghaafir 46, bercerita tentang nasib Fir’aun dialam kuburnya ‘diperlihatkan neraka pagi dan petang’.

Eeiit..tunggu dulu…, ternyata kita masih bisa ‘merubah nasib’ ketika sudah berada dialam barzakh. Rasulullah menceritakan hadits tentang seorang yang berdosa dan disiksa di neraka, menderita karena terus-terusan dipertontonkan alam neraka tempat dia kelak berada. Pada suatu ketika malaikat yang bertugas mendadak berhenti memutar film soal neraka, layar ditutup, lalu malah dibuka layar baru yang menyajikan suasana surga. Orang yang berdosa ini heran bertanya :”Mengapa filmnya diganti..??”. malaikat lalu menjawab :”Barusan anakmu yang saleh karena hasil didikanmu selama hidup di dunia telah berdo’a, dia memohonkan agar Allah mengampuni segala dosa-dosamu, lalu Allah mengabulkan do’anya. Maka mulai sekarang kamu sudah berubah status dari calon penghuni neraka menjadi ahli surga. Jadi silahkan nikmati sajian kami..”. Rasulullah memberitakan bahwa nasib kita dialam kubur bisa dirobah berdasarkan 3 hal : (1) Do’a dari anak kita yang saleh (2) harta yang telah diwaqafkan dan masih menghasilkan manfaat bagi manusia (3) Ilmu yang kita sebarkan dan ajarkan sehingga masih menghasilkan kebaikan bagi semua orang. Ketiga hal tersebut jangan dianggap enteng karena sangat menentukan nasib kita di alam kubur nantinya.

Selesai menjalani masa penantian di alam barzakh, tibalah saatnya kita dibangkitkan, hidup kembali. Artinya nyawa kita dipersatukan lagi dengan jasad. Proses ini menjadi pertanyaan besar bagi orang-orang yang tidak percaya, manusia yang hanya mengukur sesuatu dari fakta empiris dan materi, sehingga Al-Qur’an menggambarkan bagaimana keheranan mereka :

Dan berkata manusia: “Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?” ‪(Maryam: 66)

Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang belulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan (kembali)? ‪(As-Saaffaat: 16)

Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” ‪(Al-Israa: 49)

Untuk pertanyaan ini, Allah punya jawaban yang tidak bisa ditolak oleh akal sehat kita :

Dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)? ‪(Al-Waaqia: 62)

Maka mereka akan bertanya: “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah: “Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama”. Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: “Kapan itu (akan terjadi)?” Katakanlah: “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”, ‪(Al-Israa: 51)

Allah seolah-olah berkata :”Kamu telah diberikan bukti tentang keberadaanmu saat ini, diciptakan dari ketiadaan, lalu apa susahnya bagi-Ku untuk menciptakanmu kembali..??”. Ini adalah jawaban yang sangat logis dan disertai bukti empiris, hanya orang bodoh saja yang masih menolaknya.

Allah menjelaskan bahwa pada kehidupan yang kedua nanti, nyawa kita dipersatukan dengan jasad yang bentuknya susah untuk kita bayangkan :

Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan, untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. (al-Waaqiah 60-61)

Al-Qur’an mengindikasikan bentuk kita kelak, bagi penghuni surga kita dipanggil Allah dengan ‘jiwa yang tenang’ :

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku. (al-Fajr 27-30)

Sesuai dengan istilah ‘nafs’ pada surat al-Maaidah 32, maka kata ‘nafs’ pada kalimat ‘nafsu al-muthma’innah’ merujuk kepada diri manusia secara utuh yang mencakup nyawa dan jasad. Istilah tersebut mungkin untuk menyatakan bagaimana bentuk manusia penghuni surga tersebut, nyawa yang telah disucikan karena sudah melewati proses penghakiman dan dinyatakan bersih dari dosa, berserta dengan jasad yang sempurna, yang telah disiapkan Allah untuk menerima segala kenikmatan surga.

Sebaliknya bagi penghuni neraka, nyawa tersebut juga dipersatukan dengan jasad yang sudah disiapkan untuk menerima penderitaan yang kekal, salah satunya ketika Allah menggambarkan tentang siksa neraka :

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ‪(An-Nisaa: 56)

Berdasarkan temuan ilmiah, kulit adalah bagian tubuh yang menampung rasa nyeri dan sakit, lalu dari sinilah sinyal-sinyal kesakitan tersebut dikirim ke otak kita sehingga jiwa kita merasakannya, dan kita kemudian mengalami penderitaan. Penghuni neraka digambarkan memiliki tubuh untuk menampung rasa sakit tersebut, jiwanya akan menderita akibat siksaan neraka.

Dari penjelasan Al-Qur’an, jelas sekali bahwa kesinambungan hidup kita bermuara kepada keberadaan roh/nyawa/jiwa, sesuatu yang diciptakan Allah untuk menjalani berbagai fase yang bermuara kepada hidup yang kekal, di surga atau neraka. Fase kehidupan kita sekarang adalah periode kesempatan untuk menentukan nasib kita sendiri, apakah kita mau mensucikan roh kita tersebut dengan menjalankan penyembahan kepada Allah, atau mengotorinya dengan melakukan sebaliknya, semuanya terserah kita..

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (ash-shams 7-10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s