Surga; Anugerah Tuhan atau upah dari amal kebaikan..?

Tulisan ini pernah dimuat dalam forum debat lintas agama Swaramuslim yang sudah tutup, karena saya lihat masih banyak pertanyaan dari non-Muslim terkait soal ini, saya muat kembali..

—————————————————-

Pendapat umum yang diungkapkan netters Kristen tentang surga dan keselamatan dalam Islam adalah ibarat juragan pemilik angkot dengan sang sopir angkot, si sopir ditargetkan oleh si pemilik untuk mengusahakan kendaraan miliknya untuk mendapat jumlah uang tertentu, lalu si sopir memperoleh imbalan dari setoran yang dia berikan kepada sang juragan, bedanya mungkin kalau si pemilik angkot ikut mendapatkan bagian dari setoran tersebut, maka Tuhan akan mengembalikan semua ‘setoran’ hamba-Nya untuk kemanfaatan dan kenikmatan dari hamba itu sendiri. Makanya sering kita dengar tuduhan netters Kristen yang mengatakan bahwa umat Islam bertindak seperti robot, melakukan ibadah yang ‘kering’ dengan iman, yang penting mengisi hidup dengan semua aturan yang ditetapkan Tuhan, lalu tinggal menghitung-hitung apakah semua perbuatan tersebut sudah layak diganjar dengan surga. Tuhan, dalam pandangan seperti ini seolah-olah ‘tidak bisa berbuat lain’ dan harus memberikan imbalan sesuai apa yang Dia janjikan sendiri, karena kalau tidak, artinya Tuhan sudah menyalahi janji-Nya kepada kaum Muslim.

Sebaliknya netters Kristen membanggakan diri mereka (terutama yang Protestan) dengan mengatakan bahwa surga semata-mata merupakan anugerah Tuhan dan semua perbuatan baik kita tidak akan mampu membuat kita masuk kesana, maka yang menentukan seorang Kristen mendapat keselamatan dan surga adalah karena iman, hati yang selalu dekat dengan Tuhan, mungkin juga melalui adanya roh kudus yang bersemayam didalam dada.

Continue reading

Advertisements

Shalat berjamaah; all for one, one for all..

Mumpung lagi ribut soal sepakbola piala Eropah, kesempatan saya ingin bicara soal sepakbola…

Dalam suatu kesebelasan yang sedang bertanding, faktor perubahan kondisi setiap pemain selalu menentukan. Lumrah dalam jangka waktu 2 x 45 menit seorang pemain punya performance yang tiba-tiba menurun dalam beberapa menitnya, lalu pada masa selanjutnya mendadak menjadi ‘beringas’, demikian silih berganti untik setiap pemain. Bisa terjadi ketika si striker dalam kondisi letih lesu, gelandang menyerangnya yang ‘on-fire’, maka serangan dan tendangan ke arah gawang lawan akan banyak dilakukan oleh si gelandang menyerang tersebut. Lalu pada menit-menit berikutnya keadaan berubah, giliran striker yang segar-bugar, si gelandang yang ‘adem-ayem’, si striker yang bakalan dikasih umpan-umpan matang untuk menjebloskan gawang lawan. Pemain sayap kiri mendadak bengong, serangan dialirkan lewat sayap kanan, giliran yang kanan mandeg, bola lebih sering dioper ke pemain kiri. Disitulah letak dinamika suatu team kesebelasan, sehingga pertandingan enak ditonton. Ketika suatu kesebelasan mampu mengelola dinamika turun-naiknya performance para individu yang terlibat didalamnya, maka hasil akan dicapai berupa kemenangan yang manis. Siapa yang akan menikmati kemenangan tersebut..?? seluruh pemain, bahkan  pemain cadangan juga ikut. Ketika pemilik club memberikan bonus sebagai hadiah atas kemenangan tersebut, semuanya kebagian, semuanya happy..

Continue reading

Surga Yang Diimpikan…

Seorang Arab Badui bermimpi, diperlihatkan kepadanya gambaran surga. Si Arab betul-betul terpesona karena situasi yang terlihat memenuhi ‘dahaga terhadap kenikmatan’ dia sebagai manusia gurun, yang setiap hari melihat padang pasir dan batuan padas. Surga yang dilihatnya dalam mimpi berupa ‘jannah’, taman, kebun yang subur diisi pohon rindang, bunga yang harum dan embun dikala pagi. Dia menemukan banyak pohon buah-buahan siap dipetik, ada jeruk, apel, pepaya, semangka tergantung di dahan yang merunduk seolah-olah mengundang untuk diraih. Tidak lupa didalam surga tersebut mengalir sungai-sungai nan jernih, alirannya menimbulkan suara gemercik yang menyegarkan.

Tatkala terbangun, si Arab merasa sangat bahagia dan dia bersyukur karena sebagai muslim Tuhannya telah memberikan gambaran surga begitu indah yang salah satunya tercantum dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah 25 :

..bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu,

Pada suatu kesempatan, si Arab datang ke Indonesia untuk berlibur, dari berbagai kunjungannya ke objek-objek wisata, dia menyempatkan diri mengunjungi satu taman bunga di puncak. Tentunya dia sangat terpesona karena hal ini tidak pernah dilihatnya dikampung halamannya. Dengan penuh rasa bahagia si Arab menyapa seorang bapak penjaga taman : ” Indah sekali taman ini, seperti gambaran surga yang pernah saya impikan..”. Penjaga taman berpaling dengan rasa ingin tahu : “bagaimana gambaran surga yang ada dalam mimpi Anda?” tanyanya kepada si Arab. Berceritalah si Arab tentang mimpinya, bagaimana surga yang di lihat itu penuh dengan bunga-bunga dan buah-buahan beserta sungai-sungai yang mengalir di dalamnya..
Continue reading

Anakku, cinta itu ibarat kentut..

Anakku, memilih pasangan hidup merupakan ketrampilan dalam menyeimbangkan kalkulasi rasional dengan hasrat emosional. Berat ke kalkulasi rasional bisa membuat rumah-tanggamu ibarat mengarungi padang gurun kering kerontang, sebaliknya, dominan kepada hasrat emosional akan menjadikannya seperti melayari lautan penuh gelombang besar..

Sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini bukan membahas persoalan nikah beda agama dari aspek kajian fiqih, jadi bakalan tidak ada pernyataan soal boleh atau tidak, halal atau haram. Ini semata-mata melihat pernikahan beda agama melalui akal sehat, dan tentu saja akan banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jauh masuk ke relung hati, bertanya kepada keimanan kita..

Pernahkan anda melihat pasangan tetangga anda, yang menganut agama yang berbeda (dalam konteks ini, salah satunya adalah Muslim), menjalani hidup mereka sehari-hari dengan penuh ketenteraman, saling menghargai, saling mengasihi selama bertahun-tahun, tidak terdengar adanya konflik yang berarti, jarang bertengkar. Demikian juga dengan anak-anak mereka, dari kecil dididik untuk tenggang rasa, penuh toleransi dan setelah dewasa diberi kebebasan penuh untuk memilih keyakinannya sendiri. Anak-anak tersebut tumbuh menjadi seorang penganut agama yang toleran dan punya kemampuan menghargai kepercayaan lain yang berbeda. Sedangkan anda sendiri, sekalipun pasangan anda sama-sama penganut Islam, termasuk kategori taat beribadah, tapi sering terlibat pertengkaran (ukuran sering atau tidaknya tentu tergantung anda sendiri) sehingga rumah serasa neraka, punya anak-anak bandel yang shalat wajibnya bolong-bolong. Apakah Islam bisa menjamin terciptanya rumah tangga yang berbahagia? Mengapa justru pernikahan beda agama terlihat punya potensi untuk menumbuhkan sikap toleran dan saling menghargai perbedaan..??

Continue reading

Pemilu Presiden 2014, ini bukan ramalan lhoo..

Pemilihan umum untuk memilih presiden di negeri ini masih 2 tahun lagi, namun kasak-kusuknya sudah hangat. Kita setiap hari melihat, membaca dan mendengar di media massa manuver-manuver politik yang dilakukan oleh partai maupun tokoh-tokoh yang namanya masuk dalam bursa untuk memantapkan posisi. Ada yang sibuk menyusun dukungan langsung ke partai, ada juga yang mengambil sikap meningkatkan pencitraan. Sarana apapun dipakai, mulai dari naik kendaraan umum sampai beriklan dijalanan memasang poster besar menjual tampang yang diperkirakan ‘masih makanan kamera’ layaknya artis sinetron. Sistem politik yang telah kita pilih memang mendukung kelakuan-kelakuan seperti ini, karena berhasilnya seseorang menjadi pemegang pucuk pimpinan tertinggi harus melalui mekanisme : diusulkan oleh partai politik dan dipilih oleh rakyat, yang satu perlu menguasaan real, menjadi ketua partai atau dewan pembina, sedangkan untuk menarik minat rakyat perlu ‘desain produk’ dan ‘brand image’. Kedua langkah ini saling berinteraksi, ‘produk’ dan ‘image’ yang sudah tertanam baik dipikiran masyarakat akan menentukan keputusan partai untuk memilih siapa yang pantas untuk dimajukan sebagai calon, sebaliknya orang yang berhasil menguasai partai diharapkan bisa secara bersamaan menguasai persepsi masyarakat. Namun pengalaman yang terjadi sebelumnya, faktor ‘desain produk’ dan ‘brand image’ si calon lebih dominan untuk memenangi pertarungan, makanya pencalonannya bisa saja diusulkan oleh koalisi partai-partai gurem yang memenuhi syarat minimum yang telah ditetapkan undang-undang, dan bisa memenangi pemilihan presiden.

Continue reading