Apakah kisah dalam Al-Qur’an mencontek cerita Yahudi..??

Tentang adanya kisah kaum terdahulu yang dimuat dalam Al-Qur’an merupakan satu topik yang juga sering dipermasalahkan oleh umat Kristen, karena banyak terdapat kesamaannya, baik dengan kisah yang dimuat dalam alkitab maupun tercantum dalam kitab-kitab apokripa, yaitu dikategorikan sebagai cerita rakyat (folklore) Yahudi yang tidak dimasukkan dalam ayat-ayat alkitab. Kita sampaikan saja contohnya : Kisah soal burung gagak yang dijadikan contoh oleh Qabil bagaimana cara menguburkan mayat Habil yang dibunuh (al-Maaidah 31) mirip dengan kitab Tradisi yahudi kuno tulisan Pierke rabbi Eleazer (150M-200M) dan Jewish Mishnah Sandhedrin 4:5 yg ditulis pada abad 2, kisah Nabi Sulaiman dan singgasana ratu Bilqis (an-Naml 17-44) berkesuaian dengan Tarqum II Ester yang ditulis abad ke-2 SM, kelahiran Maryam (Ali Imran 35-37) mirip dengan buku apokripa The Protevangelion’s James the Lesser 4:4, 5:9 dan 7:4, cerita nabi Ibrahim menghancurkan berhala (as-Saaffaat 91-97) sama dengan yang dimuat dalam cerita rakyat Yahudi abad II Masehi yang dikarang oleh Midrash Rabbah hampir 4 abad sebelum Al-quran, Isa Almasih bicara dalam ayunan (Maryam 29-30) persis informasi yang tercatat dalam buku apokripa/dongeng Mesir abad II yang berjudul:”First Gospel of the Infancy of Jesus Christ”(kitab pertama tentang masa kanak-kanak yesus Kristus), mukjizat yang dilakukan Isa Almasih (Ali Imran 49) menghidupkan burung pipit sama dengan buku apokripa/dongeng abad II yang berjudul “Thomas’s Gospel of The Infancy of Jesus Christ” (Buku Thomas tentang masa kanak-kanak Yesus Kristus), kisah kehamilan Maryam dan kelahiran Isa Almasih (Ali Imran 45-47 dan Maryam 19-21) sama dengan cerita alkitab pada Lukas 30-35.

Perlu diketahui bahwa tidak ada seorang Muslimpun membantah beberapa cerita dalam Al-Qur’an mempunyai kesamaan dengan kisah yang terdapat dalam khazanah Yahudi, baik dalam maupun diluar alkitab, karena kenyataannya memang demikian. Islam mengakui nabi-nabi terdahulu yang datang dari kaum Yahudi, orangnya itu-itu juga dan tentu saja cerita mereka tetap sama.

Continue reading

Advertisements

Islam overdosis jilid II..

Si Fulan adalah lulusan perguruan tinggi negeri yang sempat menjadi karyawan sebuah kantor pemerintah. Beberapa bulan lalu, dia dipecat kantornya karena terlampau sering bertengkar (bukan berdiskusi) soal-soal agama dengan teman sesama kantor, bahkan beberapa kali adu jotos. Pemegang kebijakan di kantor melihat kelakuan Fulan sudah tidak dapat ditolerir, dan menganggapnya sudah tidak pantas dipertahankan lagi sebagai karyawan. Usut punya usut, persoalan bermula ketika belakangan si Fulan aktif terlibat dalam kegiatan agama yang terlampau banyak menjejalkan klaim-klaim kepada jemaahnya. Fulan terlampau sering mendengar indoktrinasi klaim-klaim kebenaran agama yang tidak memberi peluang buat orang lain mendebatnya. Agama yang dikenal Fulan adalah agama yang penuh klaim, bukan agama yang menyapa akal sehatnya.

Sebatas itu tidak jadi soal. Hanya saja, Fulan tidak mencukupkan versi kebenaran yang ia terima untuk dirinya sendiri, tapi berkali-kali menyalahkan pihak lain yang tidak sepaham dengannya secara sengit. Dalam fantasinya, hanya dia yang konsisten mengikut jejak para leluhur Islam yang saleh (salafush sholeh) dan dengan begitu cukup dia saja yang punya tiket ke surga, sementara yang lain tidak. Itulah yang berulang-ulang dipersoalkan Fulan.

Continue reading

Mereka yang hatinya bergetar..

Masjid di kompleks kami punya seorang tenaga kerja harian, pak Sarip namanya. Beliau penduduk kampung sebelah yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sampah. Masjid lalu mengupah pak Sarip untuk membersihkan kamar mandi, tempat wudhu dan jalanan disekitar diluar jam kerjanya sebagai tukang sampah, biasanya beliau hadir setiap maghrib dan shubuh. Hampir setiap shubuh saya selalu bertemu dengan pak Sarip yang sedang mengepel lantai teras, menyapu jalanan, membersihkan kamar mandi dan tempat wudhu. Namun selain itu beliau adalah jamaah yang rajin, selalu ikut shalat berjamaah. Hebatnya masih sempat berganti baju yang rapi, lengkap dengan kopiah dan sarung. Setiap pengajian dan ceramah pak Sarip juga hadir, kadang-kadang ikut mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang sering mengundang tawa, jauh dari kedalaman intelektual. Tidak jarang pula ketika tiba saatnya waktu shalat dan kebetulan tidak ada orang yang adzan, pak Sarip-lah yang melantunkan adzan, dan lagi-lagi dengan lafadz yang tidak begitu sempurna.

Continue reading