Ramadhan, diantara ketaatan dan toleransi..

Setiap datangnya bulan Ramadhan, kenangan selalu kembali kemasa kecil ketika saya masih tinggal disuatu kota di Sumatera Barat dengan masyarakat yang relatif homogen, hampir semuanya memeluk Islam. Makanya suasana Ramadhan sangat terasa. Siang hari terlihat hampir semua orang yang berada di jalanan bersikap lebih ‘adem’ dibandingkan saat-saat diluar bulan puasa. Dalam ‘pandangan bathin’ kesan yang ditimbulkan adalah : lebih tenang dan lebih pelan. Hampir semua warung dan restoran tutup dan mereka merubah waktu membuka dagangan, biasanya mulai dari sore sampai waktu sahur. Kehidupan bergeser ke malam hari. Memang terdapat beberapa warung yang tetap buka menerima pengunjung, biasanya tidak dilakukan terang-terangan dan ditutup kain, alasan mereka :”Untuk pihak non-Muslim yang tidak menjalankan puasa”, namun saya sering menemukan beberapa teman-teman Muslim yang keluar dari warung tersebut dengan mulut berminyak. Kami biasa menyebut mereka ‘cina hitam’, karena umumnya non-Muslim yang ada dikota tersebut berasal dari etnis Cina. Ada juga beberapa teman yang menjalankan ritual puasa dengan mengeluarkan ‘fatwa’ sendiri, menyatakan ikut berpuasa makan dan minum, tapi tidak untuk merokok, katanya karena merokok tidak mengenyangkan, tapi merokok tidak dilakukan terang-terangan. Pada umumnya suasana Ramadhan memang sangat terasa.

Lain lagi ketika saya pindah ke Bandung dan Jakarta, atau juga di kota-kota besar lainnya. Tidak ada bedanya suasana dibulan Ramadhan dengan bukan Ramadhan. Gerak kehidupan masyarakat tidak berubah, tetap ‘grasa-grusu’ sibuk mencari nafkah, warung-warung buka seperti biasa, tukang jualan cendol dan gorengan masih ‘pada posisi semula’, padahal mereka juga umat Islam, dan pembelinya juga umat Islam. Tidak ada rasa malu untuk menyatakan diri tidak berpuasa lalu memamerkan makan-makan di depan umum. Pergilah ke mall…, sama sekali tidak ada perubahan. Serombongan orang yang lagi istirahat siang di kantor bergerombol makan dan ngobrol diteras café dan restoran, tidak mungkin semuanya non-Muslim yang tidak ikutan menjalankan ibadah puasa. Orang bilang ini buah dari liberalisme dan sekularisme, urusan puasa menjadi urusan hak asasi masing-masing.

Biasa terjadi, untuk kelakuan seperti ini kemudian ada reaksi dari sekelompok pemeluk Islam yang menyatakan kelakuan yang umum terjadi ini sebagai suatu ‘kemungkaran berjamaah’, orang Islam sendiri tidak lagi menghargai ibadah pada bulan Ramadhan, bahkan secara demonstratif menunjukkan sikap yang merusak suasana peribadatan tersebut. Kelompok ini lalu bereaksi untuk mencegah dan meluruskan kemungkaran ini karena berkeyakinan kalau masyarakat hanya berdiam diri membiarkannya, Allah bisa memurkai dan mengutuk masyarakat tersebut secara keseluruhan. Lalu di televisi kita bisa menonton ibu-ibu pemilik warung yang memakai jilbab diserbu dan dipaksa untuk menutup warungnya. Orang-orang yang lagi asyik makan juga kena getahnya karena sulit untuk membedakan mana yang Muslim dan mana yang bukan. Entah karena perut lapar akibat berpuasa, sering juga terjadi tindakan yang berlebihan dari pengunjuk rasa, lalu melakukan pengrusakan dan anarki. Tentu saja media massa yang memang menganggap moment-moment seperti ini merupakan hal yang menarik untuk ditayangkan, menjadikan adegan pengrusakan sebagai fokus berita, satu tindakan anarkis akan menutup puluhan tindakan unjuk rasa yang santun dan terkontrol. Akhirnya muncul stigma bahwa apapun reaksi yang dilakukan sebagian umat Islam untuk ‘meminta umat Islam lain’ agar menghargai suasana ibadah dibulan Ramadhan pasti rusuh.

Secara tidak langsung ini mempengaruhi sikap kaum non-Muslim terhadap usaha untuk menjaga suasana Ramadhan agar bisa berlangsung khidmat, apalagi kelihatannya kaum minoritas non-Muslim di negeri kita banyak juga yang bersikap ‘genit’, ingin dihargai tapi merasa tidak perlu menghargai, sekalipun tidak semuanya demikian. Umat Islam sebenarnya sudah memberikan contoh, sebagai minoritas di Bali misalnya, mereka ikut menjaga suasana khidmat dalam perayaan Nyepi, ikut tidak keluar rumah dan tidak mengerjakan perbuatan yang bisa merusak suasana, padahal mereka tidak ada urusan dengan semua ritual ibadah tersebut. Mungkin karena melihat contoh umat Islam sendiri banyak yang ‘melecehkan’ ritual ibadah mereka, lalu non-Muslim menganggap buat apa mikirin kalau orang Islam sendiri juga tidak memikirkannya..?? Sebagian juga ada yang berkilah :”Buseett..apa kita harus ikut tutup warung selama sebulan..??”, atau juga bilang :”Apa kita ikut-ikutan berpuasa..??”. lalu mendramatisir alasan dengan mengatakan ;”Kita juga harus menghormati hak orang yang tidak berpuasa, yang butuh makanan disiang hari, kalau semua warung ditutup lalu bagaimana nasib mereka..?? bisa kelaparan khan..??”. Sebenarnya tuntutan tidak banyak dan tidak sulit kalau memang ada niat untuk memperlihatkan toleransi menjaga suasana Ramadhan, warung bukannya ditutup 24 jam, tapi dengan merubah jadwal beroperasinya. Ataupun kalau mendesak mau dibuka juga, bisa dilakukan dengan cara yang lebih ditutupi. Non-Muslim juga tidak dituntut untuk ikut berpuasa, cukup dengan cara tidak secara demonstratif makan-makan ditempat umum. Saya pikir tidak ada susahnya untuk bersikap toleran seperti itu.

Ketika memberitakan tentang datangnya bulan Ramadhan, Rasulullah bersabda :

Hai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang sangat agung, penuh dengan barakah, di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan dimana Allah SWT telah menjadikan puasa di dalamnya sebagai puasa wajib, qiyam al-lailnya sunnah. Barangsiapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan amalan wajib tujuh puluh kali pada bulan lainnya.” (HR. Ibnu Huzaimah, beliau berkata, hadits ini adalah hadits shahih)

Perkataan beliau ini tepat ketika mengalamatkan seruan ini kepada seluruh umat manusia, bukan hanya terbatas dikalangan umat Islam saja. Bahwa Ramadhan mendatangkan keberkahan bagi semua orang. Kita bisa saksikan ketika datangnya bulan puasa ini, banyak pedagang non-Muslim yang panen keuntungan karena omsetnya naik, apakah itu jual makanan ataupun pakaian menjelang lebaran, kegiatan ekonomi yang melibatkan semua pihak meningkat. Sekarang ini, group-group musik mampu memanfaatkan momentum dengan mengeluarkan album religi, tidak peduli apakah pemusiknya Muslim atau non-Muslim. Bahkan seandainya Maroon 5 bikin album religi atau Justin Beiber menyanyikan lagu qasidah, pasti laku dibeli orang.

Berkah Ramadhan bisa dinikmati oleh semua pihak, jadi tidak ada salahnya kalau semuanya mau memperlihatkan sedikit toleransi untuk menjaga suasana, baik oleh internal Muslim yang ‘bangga’ tidak ikut berpuasa, maupun oleh non-Muslim yang selama ini sudah menikmati sikap toleran dari mayoritas Muslim di negeri ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s