Al-Qur’an, kitab yang ‘menelan’ si pembacanya..

Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),  yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al-asmaaul husna (nama-nama yang baik),

Marilah kita mulai membaca ayat ini pelan-pelan, satu persatu. Kita mengambil posisi berhadapan dengan Al-Qur’an, membaca informasi yang ada didalamnya,

Pertama kita baca kalimat ‘Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ,dst, dst’, ketika membaca kalimat tersebut, kita diposisikan oleh si Penulisnya untuk mengambil tempat berhadapan dengan-Nya, Dia bicara langsung kepada kita karena memakai kata ganti orang pertama, lalu ketika melanjutkan membaca ‘yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan langit dan bumi’, ketika itu posisi sudah berpindah, si penutur kalimat seolah-olah berada disamping, menceritakan tentang Allah ‘disana’ si Pencipta langit dan bumi, kita seolah-olah berada disatu ketinggian melihat luasnya langit dan bumi yang diciptakan-Nya, berinteraksi dengan alam raya sebagai bukti tentang keberadaan Allah. Kalau dibayangkan sebagai suatu shooting adegan film, posisi kamera yang sebelumnya berada dibelakang kita, mewakili mata kita untuk menatap sipenutur cerita telah berpindah, posisinya sekarang beralih berada disamping  untuk mengarahkan pandangan kearah alam semesta, keberadaan kita tidak lagi tampak dalam layar, namun tergambar melalui mata kamera, sama-sama memandang alam yang ditangkap oleh kamera tersebut.

Continue reading

Advertisements

Mengapa Islam menyatakan bahwa Allah yang menyesatkan manusia..

Ini juga merupakan pertanyaan yang sering diajukan oleh pihak non-Muslim yang tidak memahami konsep Islam soal kesesatan manusia. Al-Qur’an jelas menyatakan bahwa setiap kesesatan yang terjadi memang merupakan kehendak-Nya, dan apabila Dia berkehendak untuk menyesatkan manusia, tidak ada sesuatupun yang sanggup untuk menyelamatkan manusia tersebut :

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. ‪(An-Nahl: 93)

Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. ‪(Ibrahim: 4)

dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorangpun yang akan memberi petunjuk. ‪(Ghaafir: 33)‪

dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. ‪(Al-Kahf: 17)

Continue reading

Apakah kisah dalam Al-Qur’an mencontek cerita Yahudi..??

Tentang adanya kisah kaum terdahulu yang dimuat dalam Al-Qur’an merupakan satu topik yang juga sering dipermasalahkan oleh umat Kristen, karena banyak terdapat kesamaannya, baik dengan kisah yang dimuat dalam alkitab maupun tercantum dalam kitab-kitab apokripa, yaitu dikategorikan sebagai cerita rakyat (folklore) Yahudi yang tidak dimasukkan dalam ayat-ayat alkitab. Kita sampaikan saja contohnya : Kisah soal burung gagak yang dijadikan contoh oleh Qabil bagaimana cara menguburkan mayat Habil yang dibunuh (al-Maaidah 31) mirip dengan kitab Tradisi yahudi kuno tulisan Pierke rabbi Eleazer (150M-200M) dan Jewish Mishnah Sandhedrin 4:5 yg ditulis pada abad 2, kisah Nabi Sulaiman dan singgasana ratu Bilqis (an-Naml 17-44) berkesuaian dengan Tarqum II Ester yang ditulis abad ke-2 SM, kelahiran Maryam (Ali Imran 35-37) mirip dengan buku apokripa The Protevangelion’s James the Lesser 4:4, 5:9 dan 7:4, cerita nabi Ibrahim menghancurkan berhala (as-Saaffaat 91-97) sama dengan yang dimuat dalam cerita rakyat Yahudi abad II Masehi yang dikarang oleh Midrash Rabbah hampir 4 abad sebelum Al-quran, Isa Almasih bicara dalam ayunan (Maryam 29-30) persis informasi yang tercatat dalam buku apokripa/dongeng Mesir abad II yang berjudul:”First Gospel of the Infancy of Jesus Christ”(kitab pertama tentang masa kanak-kanak yesus Kristus), mukjizat yang dilakukan Isa Almasih (Ali Imran 49) menghidupkan burung pipit sama dengan buku apokripa/dongeng abad II yang berjudul “Thomas’s Gospel of The Infancy of Jesus Christ” (Buku Thomas tentang masa kanak-kanak Yesus Kristus), kisah kehamilan Maryam dan kelahiran Isa Almasih (Ali Imran 45-47 dan Maryam 19-21) sama dengan cerita alkitab pada Lukas 30-35.

Perlu diketahui bahwa tidak ada seorang Muslimpun membantah beberapa cerita dalam Al-Qur’an mempunyai kesamaan dengan kisah yang terdapat dalam khazanah Yahudi, baik dalam maupun diluar alkitab, karena kenyataannya memang demikian. Islam mengakui nabi-nabi terdahulu yang datang dari kaum Yahudi, orangnya itu-itu juga dan tentu saja cerita mereka tetap sama.

Continue reading

Islam overdosis jilid II..

Si Fulan adalah lulusan perguruan tinggi negeri yang sempat menjadi karyawan sebuah kantor pemerintah. Beberapa bulan lalu, dia dipecat kantornya karena terlampau sering bertengkar (bukan berdiskusi) soal-soal agama dengan teman sesama kantor, bahkan beberapa kali adu jotos. Pemegang kebijakan di kantor melihat kelakuan Fulan sudah tidak dapat ditolerir, dan menganggapnya sudah tidak pantas dipertahankan lagi sebagai karyawan. Usut punya usut, persoalan bermula ketika belakangan si Fulan aktif terlibat dalam kegiatan agama yang terlampau banyak menjejalkan klaim-klaim kepada jemaahnya. Fulan terlampau sering mendengar indoktrinasi klaim-klaim kebenaran agama yang tidak memberi peluang buat orang lain mendebatnya. Agama yang dikenal Fulan adalah agama yang penuh klaim, bukan agama yang menyapa akal sehatnya.

Sebatas itu tidak jadi soal. Hanya saja, Fulan tidak mencukupkan versi kebenaran yang ia terima untuk dirinya sendiri, tapi berkali-kali menyalahkan pihak lain yang tidak sepaham dengannya secara sengit. Dalam fantasinya, hanya dia yang konsisten mengikut jejak para leluhur Islam yang saleh (salafush sholeh) dan dengan begitu cukup dia saja yang punya tiket ke surga, sementara yang lain tidak. Itulah yang berulang-ulang dipersoalkan Fulan.

Continue reading

Mereka yang hatinya bergetar..

Masjid di kompleks kami punya seorang tenaga kerja harian, pak Sarip namanya. Beliau penduduk kampung sebelah yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sampah. Masjid lalu mengupah pak Sarip untuk membersihkan kamar mandi, tempat wudhu dan jalanan disekitar diluar jam kerjanya sebagai tukang sampah, biasanya beliau hadir setiap maghrib dan shubuh. Hampir setiap shubuh saya selalu bertemu dengan pak Sarip yang sedang mengepel lantai teras, menyapu jalanan, membersihkan kamar mandi dan tempat wudhu. Namun selain itu beliau adalah jamaah yang rajin, selalu ikut shalat berjamaah. Hebatnya masih sempat berganti baju yang rapi, lengkap dengan kopiah dan sarung. Setiap pengajian dan ceramah pak Sarip juga hadir, kadang-kadang ikut mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang sering mengundang tawa, jauh dari kedalaman intelektual. Tidak jarang pula ketika tiba saatnya waktu shalat dan kebetulan tidak ada orang yang adzan, pak Sarip-lah yang melantunkan adzan, dan lagi-lagi dengan lafadz yang tidak begitu sempurna.

Continue reading