Mereka yang hatinya bergetar..

Masjid di kompleks kami punya seorang tenaga kerja harian, pak Sarip namanya. Beliau penduduk kampung sebelah yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sampah. Masjid lalu mengupah pak Sarip untuk membersihkan kamar mandi, tempat wudhu dan jalanan disekitar diluar jam kerjanya sebagai tukang sampah, biasanya beliau hadir setiap maghrib dan shubuh. Hampir setiap shubuh saya selalu bertemu dengan pak Sarip yang sedang mengepel lantai teras, menyapu jalanan, membersihkan kamar mandi dan tempat wudhu. Namun selain itu beliau adalah jamaah yang rajin, selalu ikut shalat berjamaah. Hebatnya masih sempat berganti baju yang rapi, lengkap dengan kopiah dan sarung. Setiap pengajian dan ceramah pak Sarip juga hadir, kadang-kadang ikut mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang sering mengundang tawa, jauh dari kedalaman intelektual. Tidak jarang pula ketika tiba saatnya waktu shalat dan kebetulan tidak ada orang yang adzan, pak Sarip-lah yang melantunkan adzan, dan lagi-lagi dengan lafadz yang tidak begitu sempurna.

Continue reading

Advertisements

Bagaimana orang jaman purba menyebut nama Tuhan..?

Lumrahnya dalam menerjemahkan sebuah buku, nama-nama orang yang tercantum didalamnya tidak akan ikut diterjemahkan. Misalnya novel karangan Ian Fleming yang sangat terkenal dan diterjemahkan ke berbagai bahasa ‘James Bond’, ketika dialih-bahasakan ke dalam bahasa Indonesia, nama James Bond tersebut tidak di-Indonesia-kan menjadi ‘James Ikatan’ atau juga ‘James Obligasi’. Bisa saja semua kata dan kalimat dalam dalam didalamnya diterjemahkan namun ketika menyangkut nama orang, tetap akan memakai bahasa aslinya. Karakter lain yang ada dalam novel tersebut misalnya sekretaris kantor dinas rahasianya yang bernama ‘Moneypenny’ tidak akan diterjemahkan menjadi ‘Uang Receh’. Ketika kita bercerita tentang Goerge Bush dalam bahasa Indonesia maka kita tidak akan memanggilnya ‘George Semak’, atau misalnya bicara tentang senator terkenal AS ‘Barry Goldwater’ lalu menyapanya dengan ‘Barry Banyumas’, atau juga memanggil Mr. Longhouse dengan panggilan ‘Sutan Rumah Panjang’. Sama juga halnya ketika nabi Muhammad diwahyukan tentang kisah orang-orang jaman dahulu, terutama tentang nabi-nabi bangsa Yahudi, maka nama-nama mereka tidak akan dialih-bahasakan ke dalam bahasa Arab, bahasa yang dipakai Allah dalam mewahyukan Al-Qur’an. Nama Musa, Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya dan Isa Almasih tetap dipakai dengan bunyi sama seperti nama-nama tersebut dipanggil oleh bangsa Yahudi dalam bahasa mereka, mungkin terjadi perbedaan logat, namun itu hal yang lumrah, sama saja misalnya ketika orang Indonesia melafahdzkan nama-nama George, Barry, James, dll logatnya tentu berbeda dengan orang Inggeris atau Amerika dalam membunyikannya.

Demikian pula dengan nama ‘Allah’…..

Continue reading

Mengakui Otoritas Allah…

Ketika anda sakit, anda lalu pergi ke dokter. Ditempat praktek dokter tersebut dia memerintahkan anda :”Silahkan berbaring.., buka baju…, buka mulut..”, dan di mengobok-obok badan dan mulut anda untuk diperiksa. Apa yang akan anda lakukan..? tentu saja kita semua akan bersikap sama, pasrah dan menyerahkan diri. Setelah selesai diperiksa, pak dokter menulis resep obat sekian macam, diminum 3 kali sehari, sebelum atau sesudah makan. Apa reaksi anda..?? tentu saja anda tidak akan protes dan menantang si dokter untuk berdebat.

Continue reading

Ritual Ibadah

Saat kita mau menghadap raja/presiden, lumrahnya kita akan mengikuti aturan protokoler yang telah ditetapkan oleh mereka. Anda tidak akan melakukan protes mengapa misalnya harus bersikap begini begitu, melewati jalan tertentu, waktu tertentu. Makin besar kekuasaan si raja/presiden bisa jadi makin ‘aneh’ tata-cara yang harus kita lakukan, mungkin kita disuruh bersujud, merangkak, tidak boleh menengok ketika berhadapan dengan raja yang punya kekuasaan absolut. Apakah bisa kita mempertanyakan tata-cara tersebut..? misalnya ketika kita tidak bisa menerimanya, lalu mengusulkan tata-cara protokoler sesuai apa yang kita mau dan kita sukai..?? Tentu saja tidak bisa..

Continue reading

Membayangkan Allah

Seorang rekan non-Muslim keheranan bertanya :”Bagaimana caranya umat Islam membayangkan sosok Tuhan..?? bentuk apa yang muncul dalam pikiran anda ketika menyebut nama Allah..?? apakah berupa sesuatu bentuk abstrak, atau seperti asap, cahaya, atau berupa kekosongan..”. Saya merasa ini pertanyaan wajar karena dia tidak pernah mendapat petunjuk bagaimana caranya kita ‘melihat’ Allah. Seorang Muslim mempunyai petunjuk jelas tentang hal ini ketika Rasulullah menyatakan agar kita jangan memikirkan (artinya termasuk tidak membayangkan) dzat Allah, tapi keberadaan/eksistensi Allah bisa dipahami dengan memikirkan hasil ciptaan-Nya.
.