Hamblumminallah, hamblumminannaas…

Salah satu istilah yang sering salah dimengerti orang tentang kedudukan hukum-hukum Allah yang ditetapkan-Nya bagi manusia adalah tentang dikotomi ‘hablumminallah’ dan ‘hablumminannas’, bahwa ketika mereka menyebut ‘hablumminallah’ itu berarti suatu perbuatan yang semata-mata berhubungan dengan peribadatan kepada Allah berupa shalat, puasa dan haji, sebaliknya kalau menyangkut ‘hablumminannas’ artinya suatu perbuatan yang terkait dengan sesama manusia, misalnya soal berbuat baik, hukum pidana dan perdata, aturan kesopanan berpakaian dan bertingkah-laku, hidup bertetangga, sampai kepada aturan bernegara dan bermasyarakat secara umum.

Salah kaprah berikutnya soal kedua istilah ini adalah, tata-cara ‘hablumminallah’ sudah diatur secara baku dan tidak boleh dirobah baik bentuknya maupun waktunya, misalnya aturan shalat wajib 5 kali sehari semalam dengan rakaat yang tetap dan waktu yang tetap, puasa wajib harus di bulan ramadhan mulai dari terbit fajar sampai matahari terbenam. Sebaliknya urusan ‘hablumminannas’ merupakan tata-cara yang terkait tempat dan konteksnya, termasuk harus berpedoman kepada budaya setempat. Maka tata-cara hidup bertetangga di Arab berbeda dengan di Indonesia, bahkan ada yang berani menafsirkan aturan hukum pidana dan perdatanya juga bisa berubah-ubah sesuai nilai-nilai yang dianut pada tempat dan waktu tertentu. Lalu diambil kesimpulan hukuman potong tangan bagi si pencuri atau qishash untuk si pembunuh hanya sesuai diterapkan pada konteks jaman dahulu, sedangkan saat sekarang yang sudah menganut nilai-nilai HAM, aturan tersebut sudah tidak tepat diberlakukan. Memakai jilbab merupakan cara yang cocok dipakai dijaman Arab jahiliyah karena kedudukan wanita yang rentan dengan bahaya hegomoni kaum laki-laki, sedangkan jaman sekarang tidak diperlukan lagi karena adanya paham kesetaraan gender.

Continue reading

Advertisements