Internet, anugerah Allah buat umat Islam..

Kekuasaan mana yang saat ini mampu membendung banjir informasi yang terjadi di dunia internet..?? Orang bisa saja membuat perangkat lunak untuk melakukan sensor, apakah terkait dengan pornografi atau berita yang tidak diinginkan dibaca orang banyak, besok lusa para programer pasti menciptakan software baru untuk mementahkan program yang dibuat tersebut, alhasil arus informasinya tetap saja tidak bisa dibendung. Pemerintah di banyak negara bisa saja bikin aturan agar rakyatnya tidak membaca satu berita, dan mengancamnya kalau melakukan pelanggaran, lalu bagaimana mungkin menahan informasi yang bisa diakses sampai  ke tempat tidur dan di kamar mandi rakyatnya..??

Teknologi internet adalah anugerah Allah yang besar untuk umat Islam. Saya ingat dahulu ketika internet belum ada, pikiran kita selalu digiring oleh media yang tersedia, televisi, radio, koran, film, yang dikuasai oleh satu pihak tertentu, dan yang pasti pihak tersebut adalah sesuatu yang tidak berada pada posisi yang sama dengan umat Islam. Arus informasi secara sepihak membentuk persepsi yang disesuaikan dengan keinginan mereka. Saya ingat ketika aktor Hollywood Silvester Stallone dalam Film Rambo II, menceritakan kisahnya kembali ke hutan Vietnam, ketika hendak turun dari perahu di sebuah sungai, jagoan Amerika ini menatap dingin ke arah hutan yang akan dimasukinya sambil mengeluarkan kata-kata dari mulutnya yang rada mencong :”I’am home..”. Persepsi lalu tertancap bahwa sosok tentara Amerika di Vietnam semuanya seperti si Rambo ini, saat ini di internet kita gampang menemukan catatan sejarah yang mengungkapkan bagaimana terbirit-biritnya tentara Amerika melarikan diri dari Saigon digempur pasukan Vietnam Utara. Dulu kita juga dibanjiri informasi soal kehebatan pasukan Israel di Palestina sehingga menimbulkan persepsi mereka tidak akan bisa dikalahkan, sekarang internet menceritakan tentara Israel yang memakai pampers tidak berani keluar dari kabin tank-nya, sementara diluar anak-anak muda Palestina berdiri gagah dengan katapel ditangan. Kita juga dengan mudah mendapatkan gambar-gambar dan film siapa sebenarnya korban ‘kegagahan’ tentara Israel tersebut, anak-anak balita Palestina tewas dibalik dinding rumahnya yang hancur kena bom.

Continue reading

Advertisements

Media Tidak Mungkin Netral

Beberapa waktu lalu terjadi 2 peristiwa demo yang dilakukan oleh dua pihak yang berseberangan, demonstrasi yang satu dilakukan oleh kelompok liberal, kaum homo dan lesbi dalam rangka menentang kegiatan ‘nahi munkar’ yang biasa dilakukan oleh kelompok Islam dengan motornya organisasi FPI. Beberapa hari kemudian giliran umat Islam dengan berbagai organisasinya melakukan demo balasan menentang kegiatan yang mengatas-namakan kebebasan dan demokrasi, yang biasa dilakukan oleh kelompok liberal, kaum homo dan lesbian tersebut. Yang menarik diamati adalah soal sikap media massa, baik koran, media online maupun televisi dalam meliput kedua kegiatan, hampir semua media tersebut (kecuali yang secara terang-terangan menyatakan keberpihakan kepada Islam) berusaha membesarkan demo kaum liberal dan homo/lesbian sehingga terkesan merupakan gerakan yang luas meliputi mayoritas masyarakat, sebaliknya ada usaha untuk mengkerdilkan demo yang dilakukan umat Islam dan dikesankan dilakukan hanya oleh segelintir orang, padahal dilihat dari jumlah pesertanya justru yang terjadi sebaliknya, demo kaum liberal hanya diikuti beberapa puluh atau ratus orang sedangkan yang dilakukan oleh organisasi Islam berjumlah ribuan bahkan puluhan ribu, memadati jalan Sudirman dan Thamrin – Jakarta. Isi beritapun setali tiga uang, ketika memberitakan demo liberal yang diungkapkan adalah sisi positif dari tujuan diadakannya demo, yaitu untuk memperjuangkan kebebasan dan demokrasi serta menentang adanya pemaksaan dan kekerasan, sebaliknya liputan dari pihak seberang dikaitkan dengan kemacetan lalu-lintas, termasuk sensor visual dengan tidak memperlihatkan gambaran sebenarnya dari jumlah perserta yang ikut.

Continue reading