Pelajaran dari Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir..

Kisah ini dimulai Al-Qur’an dengan pernyataan nabi Musa terhadap seorang murid yang mengikutinya, bahwa dia bertekad tidak akan berhenti melakukan pengembaraan untuk menemukan seseorang, tempat dia akan belajar dan mendapatkan ilmu yang tidak dia ketahui [QS 18:60]. Tidak dijelaskan apa sebab musabab nabi Musa melakukan pengembaraan ini, beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa sebelumnya nabi Musa pernah ‘kelepasan omong’ menyatakan kepada murid-muridnya bahwa sebagai seorang nabi dan rasul dia telah diberikan ilmu yang melebihi siapapun di dunia. Allah lalu menegur kesombongan ini dan memerintahkan nabi Musa untuk mencari seorang guru yang akan membuktikan, bahwa ilmu yang dibangga-banggakan nabi Musa tersebut sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan yang dimiliki oleh orang tersebut. Ketika perjalanan nabi Musa sampai kepada pertemuan dua lautan, terjadi keajaiban, ikan goreng bekal makanan yang dibawa tiba-tiba hidup dan melompat kelaut, ini merupakan pertanda bahwa ditempat itulah beliau akan menemukan orang yang dimaksud [QS 18:61-65]. Singkat cerita ketika nabi Musa telah menemukannya (sebagian ahli tafsir sepakat bahwa orang yang dimaksud adalah nabi Khidir, seorang nabi ‘idola’ dari kaum sufi Islam karena dianggap memiliki ilmu-ilmu ghaib yang tidak masuk akal, untuk selanjutnya saya menyebutnya dengan nabi Khidir) lalu nabi Musa meminta untuk mengikuti nabi Khidir agar bisa mendapat pelajaran tentang ilmu yang tidak dimilikinya. Saya kutip secara lengkap :

[18:66] Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” [18:67] Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. [18:68] Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” [18:69] Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”. [18:70] Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.
Continue reading

Advertisements