Anakku, cinta itu ibarat kentut..

Anakku, memilih pasangan hidup merupakan ketrampilan dalam menyeimbangkan kalkulasi rasional dengan hasrat emosional. Berat ke kalkulasi rasional bisa membuat rumah-tanggamu ibarat mengarungi padang gurun kering kerontang, sebaliknya, dominan kepada hasrat emosional akan menjadikannya seperti melayari lautan penuh gelombang besar..

Sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini bukan membahas persoalan nikah beda agama dari aspek kajian fiqih, jadi bakalan tidak ada pernyataan soal boleh atau tidak, halal atau haram. Ini semata-mata melihat pernikahan beda agama melalui akal sehat, dan tentu saja akan banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jauh masuk ke relung hati, bertanya kepada keimanan kita..

Pernahkan anda melihat pasangan tetangga anda, yang menganut agama yang berbeda (dalam konteks ini, salah satunya adalah Muslim), menjalani hidup mereka sehari-hari dengan penuh ketenteraman, saling menghargai, saling mengasihi selama bertahun-tahun, tidak terdengar adanya konflik yang berarti, jarang bertengkar. Demikian juga dengan anak-anak mereka, dari kecil dididik untuk tenggang rasa, penuh toleransi dan setelah dewasa diberi kebebasan penuh untuk memilih keyakinannya sendiri. Anak-anak tersebut tumbuh menjadi seorang penganut agama yang toleran dan punya kemampuan menghargai kepercayaan lain yang berbeda. Sedangkan anda sendiri, sekalipun pasangan anda sama-sama penganut Islam, termasuk kategori taat beribadah, tapi sering terlibat pertengkaran (ukuran sering atau tidaknya tentu tergantung anda sendiri) sehingga rumah serasa neraka, punya anak-anak bandel yang shalat wajibnya bolong-bolong. Apakah Islam bisa menjamin terciptanya rumah tangga yang berbahagia? Mengapa justru pernikahan beda agama terlihat punya potensi untuk menumbuhkan sikap toleran dan saling menghargai perbedaan..??

Continue reading

Advertisements

Mas Jamal dan Mbak Lydia…

Sulit bagi kita untuk mengukur bagaimana sebenarnya suatu rumah tangga dikatakan sukses, yang pasti semua orang akan memberikan penilaian dari aspek bathin, bahwa rumah-tangga yang sukses adalah yang mendatangkan ketenteraman bathin, dan faktanya itu tidak bersifat ajeg dan konstan. Sekali waktu rumah menjadi surga kita, dilain saat berubah menjadi neraka. Kesuksesan juga tidak bisa dilihat dari penampilan fisik ketika pasangan selalu tersenyum di depan umum atau datang menghadiri pesta pernikahan dengan memakai seragam motif batik yang sama dan terlihat kompak.
Continue reading