Kedzaliman oleh rakyat..

Suatu ketika, kejadiannya beberapa tahun lalu ketika saya masih tinggal di Cinere. Ibu tetangga saya bercerita bahwa kemaren sore mobilnya dibaret oleh supir angkot di pasar Pondok Labu. Kalau anda pernah melewati pasar tersebut, anda pasti akan mengalami kemacetan karena ruas jalan yang menyempit akibat banyaknya pedagang dan orang yang berbelanja. Si ibu tersebut kebetulan lewat disana dan didepan ada angkot yang ngetem dijalanan sehingga mobil-mobil yang ada dibelakang tidak bisa jalan, lalu dia membunyikan klakson, disitulah terjadi malapetakanya. Si sopir angkot yang jelas-jelas salah dan telah berlaku dzalim tersebut keluar dari kendaraannya lalu membawa sepotong paku mendatangi mobil si ibu yang kebetulan menyetir sendirian. Dengan ganas si sopir angkot membaret mobil dan berteriak marah :”Situ orang kaya, enak-enak dalam mobil ber A/C. Jangan coba-coba mengusik rakyat seperti saya yaa..!!”. malang nasib tetangga saya tersebut, tidak berani melawan dan hanya diam ketakutan, berhadapan dengan ‘rakyat’ yang lagi marah.

Continue reading

Advertisements

Suara rakyat BUKAN suara Tuhan..

Dua orang, bapak dan anak, membawa seekor keledai ke pasar untuk dijual. Ketika mereka baru keluar dari rumah muncul masalah bagaimana cara membawa keledai tersebut karena banyak alternatifnya. Si bapak dan anak lalu memutuskan; bapak yang naik ke punggung keledai, si anak berjalan menuntun mengingat anak memang harus menghormati orang-tua. Di perjalanan mereka bertemu dengan serombongan ‘rakyat’, lalu rakyat bersuara :”Dasar bapak tidak tahu diri, mosok dia enak-enak duduk dipunggung keledai dan membiarkan anaknya capek berjalan..”. Karena ‘suara rakyat adalah suara Tuhan’ maka si bapak dan anak tersebut merasa tidak enak dan merasa bersalah, lalu mereka melakukan alternatif lain, sekarang anak yang duduk dipunggung keledai, dan bapaknya berjalan menuntun. Di perjalanan mereka kembali bertemu dengan ‘rakyat’, lalu rakyat tersebut bersuara:”Dasar anak tidak tahu diri, dia enak-enak saja duduk dipunggung keledai membiarkan bapaknya kelelahan berjalan..”. Karena ‘suara rakyat adalah suara Tuhan’, kembali hal ini membuat keduanya menjadi tidak enak dan merasa bersalah. Si bapak lalu berbicara kepada anaknya ;”Marilah kita berdua naik ke punggung keledai ini, agar tidak ada lagi ‘suara Tuhan’ yang akan menyalahkan kita, mereka lalu menaikinya berdua. Di perjalanan mereka kembali bertemu dengan ‘rakyat’ dan rakyatpun mengeluarkan suaranya :”Dasar bapak dan anak tidak tahu diri, bagaimana mungkin mereka tega menduduki seekor keledai berdua..??”. Akhirnya sepasang bapak dan anak ini menjadi kebingungan, rakyat sudah bicara, artinya Tuhan sudah bicara melalui suara yang disampaikan oleh rakyat tersebut , si bapak mengeluh putus-asa, dan dia bicara kepada anaknya :”Nak.., untuk terakhir kalinya hanya ada 1 alternatif, kita sudah berusaha untuk mengikuti suara rakyat, maka alternatif ini harus kita pakai agar tindakan kita bisa sejalan dengan keinginan rakyat tersebut”, lalu bapak dan anak bekerjasama, mereka memanggul keledai tersebut berdua…

Di perjalanan mereka kembali bertemu dengan rakyat, anda tahu apa suara rakyat ketika melihat kelakuan sepasang bapak dan anak ini..?? rakyat bersuara :”Kita tidak bisa lagi melihat perbedaan diantara mereka, mana yang manusia dan mana yang keledai…”
Continue reading