Surga; Anugerah Tuhan atau upah dari amal kebaikan..?

Tulisan ini pernah dimuat dalam forum debat lintas agama Swaramuslim yang sudah tutup, karena saya lihat masih banyak pertanyaan dari non-Muslim terkait soal ini, saya muat kembali..

—————————————————-

Pendapat umum yang diungkapkan netters Kristen tentang surga dan keselamatan dalam Islam adalah ibarat juragan pemilik angkot dengan sang sopir angkot, si sopir ditargetkan oleh si pemilik untuk mengusahakan kendaraan miliknya untuk mendapat jumlah uang tertentu, lalu si sopir memperoleh imbalan dari setoran yang dia berikan kepada sang juragan, bedanya mungkin kalau si pemilik angkot ikut mendapatkan bagian dari setoran tersebut, maka Tuhan akan mengembalikan semua ‘setoran’ hamba-Nya untuk kemanfaatan dan kenikmatan dari hamba itu sendiri. Makanya sering kita dengar tuduhan netters Kristen yang mengatakan bahwa umat Islam bertindak seperti robot, melakukan ibadah yang ‘kering’ dengan iman, yang penting mengisi hidup dengan semua aturan yang ditetapkan Tuhan, lalu tinggal menghitung-hitung apakah semua perbuatan tersebut sudah layak diganjar dengan surga. Tuhan, dalam pandangan seperti ini seolah-olah ‘tidak bisa berbuat lain’ dan harus memberikan imbalan sesuai apa yang Dia janjikan sendiri, karena kalau tidak, artinya Tuhan sudah menyalahi janji-Nya kepada kaum Muslim.

Sebaliknya netters Kristen membanggakan diri mereka (terutama yang Protestan) dengan mengatakan bahwa surga semata-mata merupakan anugerah Tuhan dan semua perbuatan baik kita tidak akan mampu membuat kita masuk kesana, maka yang menentukan seorang Kristen mendapat keselamatan dan surga adalah karena iman, hati yang selalu dekat dengan Tuhan, mungkin juga melalui adanya roh kudus yang bersemayam didalam dada.

Continue reading

Advertisements

Surga Yang Diimpikan…

Seorang Arab Badui bermimpi, diperlihatkan kepadanya gambaran surga. Si Arab betul-betul terpesona karena situasi yang terlihat memenuhi ‘dahaga terhadap kenikmatan’ dia sebagai manusia gurun, yang setiap hari melihat padang pasir dan batuan padas. Surga yang dilihatnya dalam mimpi berupa ‘jannah’, taman, kebun yang subur diisi pohon rindang, bunga yang harum dan embun dikala pagi. Dia menemukan banyak pohon buah-buahan siap dipetik, ada jeruk, apel, pepaya, semangka tergantung di dahan yang merunduk seolah-olah mengundang untuk diraih. Tidak lupa didalam surga tersebut mengalir sungai-sungai nan jernih, alirannya menimbulkan suara gemercik yang menyegarkan.

Tatkala terbangun, si Arab merasa sangat bahagia dan dia bersyukur karena sebagai muslim Tuhannya telah memberikan gambaran surga begitu indah yang salah satunya tercantum dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah 25 :

..bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu,

Pada suatu kesempatan, si Arab datang ke Indonesia untuk berlibur, dari berbagai kunjungannya ke objek-objek wisata, dia menyempatkan diri mengunjungi satu taman bunga di puncak. Tentunya dia sangat terpesona karena hal ini tidak pernah dilihatnya dikampung halamannya. Dengan penuh rasa bahagia si Arab menyapa seorang bapak penjaga taman : ” Indah sekali taman ini, seperti gambaran surga yang pernah saya impikan..”. Penjaga taman berpaling dengan rasa ingin tahu : “bagaimana gambaran surga yang ada dalam mimpi Anda?” tanyanya kepada si Arab. Berceritalah si Arab tentang mimpinya, bagaimana surga yang di lihat itu penuh dengan bunga-bunga dan buah-buahan beserta sungai-sungai yang mengalir di dalamnya..
Continue reading

Pak ustadz, apakah saya akan berkumpul kembali dengan suami di surga..??

Ustadz kondang di Bandung, bp. Athian Ali, pernah menyampaikan dalam satu kesempatan ceramahnya, sering pertanyaan ini disampaikan oleh ibu-ibu majelis taklim :”Apakah saya bisa kembali bertemu dan hidup bersama suami saya di surga nanti..??”, sambil tertawa meledek pak ustadz lalu melanjutkan bahwa sudah puluhan tahun dia menjadi ustadz, belum pernah sekalipun ada pertanyaan yang sama datang dari bapak-bapak. Tentu saja hal ini kemudian mengundang ketawa para pendengarnya, terutama para bapak-bapak yang hanya bisa nyengir. Mungkin pertanyaan ini diajukan karena adanya hadist yang bisa memancing kecemburuan para istri tentang apa yang akan diperoleh suami-suami mereka nanti di surga :

Tirmizi dan Ibn Majah meriwayatkan sebuah isnad yang shahih dari Al-Miqdam ibn Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seorang syuhada akan memperoleh tujuh kehormatan dari Allah subhanahu wa ta’ala: ia akan dimaafkan sejak tetesan pertama darahnya; kepadanya akan diperlihatkan tempatnya di surga; ia akan dilindungi dari adzab kubur; ia akan dibebaskan dari adzab hari kiamat; di atas kepalanya akan ditaruh mahkota keagungan dengan batu mulia yang lebih baik daripada dunia dan segala isinya; ia akan dinikahkan dengan 72 bidadari surga; dan ia akan diizinkan untuk memberikan pertolongan (syafaat) kepada 72 orang kerabatnya. (Misykat al-Masabih, III, hlm. 357, no.3834).

Bisa kita gambarkan isi hati para ibu-ibu dengan bahasa gaul :”Lha..suami gua enak-enak dikeroyok puluhan bidadari di surga, mosok gua hanya bisa manyun saja menonton…??”.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa hubungan antar manusia di akherat kelak berbeda dengan apa yang ada di dunia ini :

[23:101] Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.
Continue reading

Membeli tiket ke surga..

Sebagian orang bertanya tentang adanya hadits Rasulullah yang menyatakan ‘Tak seorangpun diantara kalian dimasukkan oleh amalnya ke dalam surga dan tidak pula diselamatkan dari neraka begitu pula aku, kecuali dengan rahmat dari Allah’, padahal pada ayat-ayat Al-Qur’an banyak disebut kalau surga diperoleh dengan iman dan amal saleh. Selama ini tuduhan yang dialamatkan kepada umat Islam, mereka dicitrakan sebagai sekelompok orang yang sedang menghitung-hitung amal saleh yang dilakukan, apakah sudah memenuhi syarat untuk masuk surga atau belum, ibaratnya sopir angkot yang sudah ditetapkan target oleh juragannya, lalu ketika target sudah tercapai maka si juragan ‘tidak punya pilihan lain’ untuk memberi hadiah atas prestasinya. Hadits ini mementahkan anggapan tersebut, baik berupa tuduhan dari pihak non-Muslim maupun bagi kalangan Muslim yang memang punya pemahaman demikian. Rasulullah jelas menyatakan ‘bukan amal saleh kita yang akan memasukkan kita ke dalam surga’.

Continue reading

Kematian yang indah…

Supaya jangan sampai salah paham perlu saya beritahukan sebelumnya, bahwa informasi tentang hal ini bukan berdasarkan pengalaman pribadi karena saya belum pernah beranjangsana ke alam kematian, juga bukan berdasarkan cerita dari teman yang pernah travelling kesono. Setahu saya belum pernah ada seorangpun yang pernah jalan-jalan ke alam barzakh, lalu kembali lagi menceritakan pengalamannya. Semua informasi berdasarkan apa yang diberitahukan Allah dan Rasul-Nya lewat Al-Qur’an dan Hadits.

Titik awal manusia bersinggungan dengan alam kematian diistilahkan oleh ajaran Islam sebagai ‘sakharatul maut’, suatu kondisi dikatakan hidup, tapi sudah tidak hidup lagi karena jasad sudah tidak berfungsi, dibilang mati juga belum karena belum dimasukkan ke alam barzakh, tempat roh, atau jiwa, atau apapun istilahnya, menunggu sampai nanti dibangkitkan di akherat. Makanya dalam kondisi ini, sekalipun dikatakan belum masuk ke alam barzakh, namun segala perhitungannya sebagai manusia sudah tidak berlaku lagi, taubat sudah tidak diterima karena pintu kehidupan sudah ditutup. Al-Qur’an menyatakan disaat itulah Allah membukakan tabir alam ghaib, orang-orang bertaqwa mampu melihat ribuan malaikat turun mendekati, mengelilingi, dan berucap :”Jangan takut, jangan sedih dan khawatir, bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah, didalamnya kamu akan mendapatkan segala apa yang kamu inginkan”, lalu para malaikat tersebut menyampaikan tugasnya :”Kami menjadi pelindungmu..”. Ternyata dalam keadaan sakharatul maut, seorang yang bertaqwa sudah diberitahukan tentang nasibnya kelak di akherat, bahwa dia akan dimasukkan kedalam surga. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan kita kalau diberitahukan :”Nanti kamu akan dapat hadiah..”, sekalipun hadiah belum ditangan namun perasaan senang dan bahagia pasti sudah muncul.

Continue reading